Ashanti - Baby

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info

Friday, December 2, 2011


 


 


 

Dalam dunia pendidikan, paradigma lama mengenai proses belajar mengajar bersumber pada teori. Kita mengenal teori tabularasa John Locke. Dia mengatakan bahwa pikiran seorang anak didik mirip seperti kertas kosong yang putih bersih dan siap menerima coretan-coretan gurunya. Berdasarkan teori ini banyak guru melaksanakan proses belajar mengajar seperti berikut: (1) memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa (transfer of knowledge), (2) seperti mengisi botol kosong dengan pengetahuan (seperti mencerek dan mencawan), (3) mengkotak-kotakan anak didik, (4) memacu anak didik dalam berkompetisi.

Kondisi dunia pendidikan sudah banyak berubah, sehingga tuntutan pembelajaran juga berubah. Oleh karena itu, paradigma pendidikan dan pembelajaran juga harus berubah sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi serta tuntutan zaman. Beberapa teori dan pemikiran yang menggiring lahirnya paradigma baru tentang pendidikan dan pembelajaran telah muncul seperti: (1) pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh anak didik, (2) anak didik membangun pengetahuannya secara aktif, (3) pendidik bertugas mengembangkan kompetensi anak didik secara optimal, (4) pembelajaran terjadi melalui interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru, serta antara siswa dengan lingkungan. Berdasarkan paradigma baru pembelajaran maka muncullah berbagai model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam bidangnya.

Sering muncul pertanyaan dari mahasiswa yang sedang belajar Strategi Belajar Mengajar tentang perbedaan makna antara pendekatan, metode dan model pembelajaran. Memang tidak banyak literatur membahas perpedaan itu secara tajam, bahkan sering juga istilah itu disilihgantikan penggunaanya, kadang kala dipakai istilah pendekatan, kadang kala dipakai istilah metode dan kadangkala dipakai pula istilah model pembelajaran. Namun, masih ada juga para ahli membedakannya dari istilah-istilah tersebut, terutama melihat kepada akar kata dari istilah tersebut. Perbedaan pendekatan dan metode sudah dibahas pada Bab Pendekatan dan Metode Pembelajaran. Di sini dicoba menjelaskan makna dari model pembelajaran.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994), model berarti pola (contoh, acuan, ragam,dan sebagainya). Sesungguhnya model yang dimaksudkan dalam pembelajaran juga sama atau hampir sama yang dikemukakan dalam KBI tersebut. Model pembelajaran, artinya pola atau contoh pembelajaran yang sudah didesain dengan menggunakan pendekatan atau metode atau strategi pembelajaran yang lain, serta dilengkapi dengan langkah-langkah (sintaks) dan perangkat pembelajarnnya. Suatu model pembelajaran mungkin terdiri dari satu atau beberapa pendekatan, satu atau beberapa metode, atau perpaduan antara pendekatan dengan metode. Seorang guru atau peneliti bisa saja merancang suatu model pembelajaran baru, atau memodifikasi model yang sudah ada, atau mengulangi model yang sudah ada. Beberapa model pembelajaran tersebut akan dibahas berikut ini.

Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharpakan Anda dapat:

  1. menjelaskan makna hakekat model pembelajaran,
  2. menjelaskan perbedaan antara pendekatan, metode dan model pembelajaran,
  3. menjelaskan makna atau hakekat pembelajaran kooperatif,
  4. mejelaskan perbedaan masing-masing tipe pembelajaran kooperatif yang dibahas pada pokok bahasan ini,
  5. merancang sebuah model pembelajaran kooperatif dengan memilih sebuah tipe dan topik yang sesuai,
  6. merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan STS dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
  7. merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
  8. merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan CTL dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
  9. merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan problem solving dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
  10. merancang sebuah model pembelajaran berbasis masalah (PBI) dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
  11. merancang sebuah model pembelajaran langsung (DI) dengan memilih topik yang sesuai.

7.1 Model Pembelajaran Kooperatif

Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya (1) struktur tugas, (2) struktur tujuan, dan (3) struktur penghargaan. Struktur tugas mengacu kepada dua hal yaitu cara pembelajaran diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh anak didik di dalam kelas. Struktur tujuan merupakan kadar saling ketergantungan anak didik pada saat mereka mengerjakan tugas. Ada tiga macam struktur tujuan: (1) individualistik, yaitu juka pencapaian tujuan itu tidak memerlukan intertaksi dengan orang lain; (2) kompetitif, yaitu anak didik hanya dapat mencapai suatu tujuan jika anak didik lain tidak dapat mencapai tujuan tersebut (misal seperti pertandingan sepak bola, satu group dikatakan sukses bila group yang lain gagal); dan (3) kooperatif, anak didik dapat mencapai tujuan hanya jika bekerjasama dengan anak didik lain. Struktur penghargaan (reward) merupakan penghargaan yang diperoleh anak didik atas prestasinya. Struktur penghargaan ini bervariasi tergantung jenis upaya yang dilakukan, seperti halnya struktur tujuan, yaitu penghargaan individualistik, kompetitif dan kooperatif.

Pembelajaran kooperatif bercirikan struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu bekerjasama, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai suatu tujuan. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif yang lain adalah: (1) anak didik bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan bahan pelajaran, (2) kelompok dibentuk dari anak didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, (3) bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda, (4) penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.

Roger dan David (1994) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Ada lima unsur yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggungjawab perorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok.

Terdapat beberapa variasi dari model pembelajaran kooperatif, namun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif tersebut tidak berubah. Beberapa variasi model pembelajaran tersebut adalah : (1) Student Teams Achievement Division (STAD), (2) Jigsaw,
(3) Group Investigation (GI), dan (4) Think-Pair-Sshare dan (5 Numbered-Head-Together. Masing-masing model
pembelajaran ini akan dijelaskan secara ringkas.

a. Studen Teams Achievement Division (STAD)

    STAD dikembangkan oleh Slavin et al. (1994) di Universitas John Hopkins. STAD merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Setelah dilakukan pretest, siswa dibagi beberapa kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin, dan sebagainya.
  2. Guru menyajikan pelajaran atau presentasi verbal atau teks.
  3. Siswa bekerja dalam kelompok menggunakan lembaran kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan menguasai materi dengan saling membantu.
  4. Dilakukan kuis untuk seluruh siswa, dalam kuis mereka bekerja masing-masing, diskor, dan setiap individu diberi skor perkembangan (dibandingkan dengan skor rata-rata pretest)
  5. Point tiap anggota dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok.
  6. Kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi penghargaan


 

b. Jigsaw

Jigsaw dikembangkan dan diujicobakan oleh Aronson et al. (1978) di Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin et al. Di Universitas John Hopkins. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Anak didik dibagi atas beberapa kelompok, tiap kelompok berjumlah 4 anggota yang heterogen
  2. Guru memberikan bahan pelajaran yang akan dibahas kepada setiap kelompok. Guru melakukan brainstorming untuk mengaktifkan skemata anak didik sehingga lebih siap menghadapi pembelajaran
  3. Setiap anggota bertanggung jawab mempelajari bagian tertentu atau yang ditugaskan. Misalnya materi yang akan dibahas adalah alat ekskresi (meliputi: ginjal, hati, paru-paru, dan kulit)
  4. Anggota pertama mempelajari ginjal, anggota yang kedua mempelajari hati, anggota ketiga mempelajari paru-paru, dan anggota kempat mempelajari kulit dari setiap kelompok.
  5. Setiap anggota kelompok yang mendapat tugas yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Dengan demikian terdapt kelompok ahli: ginjal, hati, paru-paru, dan ahli kulit.
  6. Setiap anggota kelompok ahli ini kembali bergabung dengan kelompok asal dan mengajarkan topik yang telah dipelajarinya di kelompok ahli kepada anggota kelompok aslinya secara bergantian.
  7. Guru memberikan kuis secara individu tentang seluruh topik yang sudah dibahas.
  8. Point tiap anggota dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok.
  9. Kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi penghargaan


 

c. Group Investigation (GI)

    Model pembelajaran ini dirancang pertama kali oleh Thelan dan dikembangkan oleh Sharan et al. (1984)
dari Universitas Tel Aviv. Dalam penerapan GI ini, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota 5- orang yang heterogen. Langkah-langkah yang dikembangkan Sharan adalah:

  1. Pemilhan topik. Anak didik disuruh memilih subtopik khusus dalamm bidang tertentu yang sudah ditetapkan guru.
  2. Perencanaan Kooperatif. Guru bersama anak didik merencanakan prosedur pembelajaran, tugas, dan tujuan khusus untuk subtopik yang telah dipilih.
  3. Implemntasi. Anak didik menerapkan rencana yang telah dibuat pada tahap kedua. Guru berperan sebagai pembimbing atau fasilitator.
  4. Analisisdan Sintesis Anak didik menganalisis, mensintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga, dipersiapkan untuk presentasikan secara menarik di kelas.
  5. Presentasi Hasil Final. Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil bahasannya dalam diskusi kelas.
  6. Evaluasi. Guru bersama anak didik mengevaluasi kontribusi kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruahan yang membahas aspek yang berbeda dari topik yang sama. Evaluasi dapat berupa penilaian individu atau kelompok.


 

d. Think-Pair-Share

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Lyman et al. (1985) dari Universitas Marylan. Langkah-langkahnya adalah:

  1. Thinking. Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian anak didik diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat
  2. Pairing. Guru meminta anak didik berpasangan dengan temannya untuk mendiskusikan sekitar 4-5 menit apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama.

  3. Sharing. Guru meminta kepada pasangan untuk berbagi ide, informasi, pengetahuan atau pemahaman dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini dilakukan secara bergiliran pasangan demi pasangan sampai sekitar 25% pasangan mendapat kesempatan.


 

e. Numbered-Head-Together

    Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Kagen (1993). Langkah-langkahnya adalah:

  1. Penomoran. Guru membagi anak didik menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota kelompok 3-5 orang, dan setiap anggota kelompok diberi nomor 1 sampai 5.
  2. Mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas. Miasalnya "Apa yang dimaksud dengan cell
    cloning?, "Apa contohnya cell cloning?, "Bagaimana mekanisme cell cloning?"
  3. Berpikir Bersama. Para
    anak didik setiap kelompok menyatukan pendapatnya tentang pertanyaan yang diajukan guru.
  4. Menjawab. Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian anak didik yang nomornya sama mengancungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.


 

7.2 Model Pembelajaran dengan Pendekatan Science Technology and Society

Pendekatan STM merupakan gabungan antara pendekatan konsep, pendekatan keterampilan proses, pendekatan CBSA, pendekatan inkuiri dan diskoveri, serta pendekatan lingkungan (Susilo1999). Pendekatan STM berangkat dari isu-isu yang berkembang di masyarakat akibat dampak kemajuan sains dan teknlogi. Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah filosofi konstruktivisme, yaitu siswa menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Ada enam (6) ranah yang dikembangkan melalui STM, yaitu: (1) konsep, (2) proses, (3) kreativitas, (4) sikap dan nilai, (5) penerapan, dan (6) hubungan atau keterkaitan (Yager, 1992).

Berikut ini ditampilkan tahapan (sintaks) pembelajaran STS yang mengacu kepada model konstruktivistik yang dikembangkan Yager (1992).


 

Tabel Sintaks pembelajaran STS

Tahap 

Kegiatan Guru 

Kegiatan Siswa 

1. Invitasi 

Memberikan pertanyaan mengenai fenomena, permasalahan biologi yang relevan untuk merangsang rasa ingin tahu dan minat anak didik, untuk mengetahui hal-hal yang sudah diketahui anak didik

Anak didik memberi respon secara individual atau kelompok dan mengajukan suatu masalah atau gagasan yang akan dibahas

2. Eksplorasi 

Memberikan tugas agar anak didik mendapat informasi yang cukup melaui membaca, observasi, wawancara, diskusi, mengerjakan LKS dan sebaginya

Mencari informasi dan data dengan membaca, observasi, wawancara, berdiskusi, merancang eksperimen, menganalisis data

3.Eksplanasi dan Pemecahan 

Memberikan tugas untuk membuat laporan dan mempresentasikan hasil penyelidikan atau ekperimen secara ringkas

Membuat laporan hasil penyelidikan, membuat kesimpulan dan mempresentasikan hasil

4. Tindak lanjut 

Memberikan penjelasan mengenai tindakan yang akan diajukan berdasarkan hasil penyelidikan

Memberikan solusi pemecahan masalah atau membuat keputusan dan memberikan ide

7.3 Model Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivistik

Pendekatan pembelajaran konstruktivistik pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Sebagian besar waktu proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Pada dasarnya anak didik tidak membawa kepala kosong ke sekolah, tapi niscalayalah mereka sudah memiliki pengetahuan atau konsep tentang sesuatu berdasarkan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin mereka sudah melihat, mendengar, membaca, mengamati suatu hal, sehingga berdasarkan penglihatan, pendenagaran, pembacaan, pengalaman itu mereka sudah punya konsep tentang hal itu. Misalnya mereka sudah mendengar atau membaca istilah cloning. Cuma kita belum tahu sampai dimana kebenaran konsep yang mereka miliki. Dengan pembelajaran konstruktivistik, anak didik secara aktif mencoba membangun sendiri konsep atau pengetahuan itu secara bertahap, mungkin dengan bertanya kepada guru, berdiskusi dengan teman, atau mebaca buku sehingga anak menemukan konsep yang benar atau hampir benar berdasarkan konsep yang sudah dimilikinya.

Ciri-ciri pembelajaran konstruktivistik vs pembelajaran tradisional (Johnston, 1999) adalah seperti berikut.

Pengajaran Tradisional

 

Pembelajaran Konstruktivistik

 

1) 1. Berfokus pada efisiensi

1. Berfokus pada pembelajaran secara mendalam dengan pengalaman yang relevan

 

2. Pendekatan utama belajar hafalan

 

2. Menuntut keterlibatan siswa secara penuh danaktif belajar

 

3. Keterampilan diajarkan secara berurutan

3. Ketrampilan dikembangkan dalam kegiatan belajar yang relevan

 

4. Materi pembelajaran diajarkan dengan urutan logis

 

4. Materi pebelajaran terintegrasi, harus digunakan dan sdisusun sendiri oleh siswa    

 

    Berdasarkan konsep dan ciri-ciri konstruktivistik ini maka diharapkan Anda dapat merancang sebuah model pembelajaran konstruktivistik.


 

7.4 Model Pembelajaran dengan Pendekatan ContextualTteaching and Learning


 

7.4. 1 Konsepsi CTL

CTL merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, dan tenaga kerja (U.S. Department of Education and the National School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001)

CTL menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin akademik, dan pengumpulan, penganalisisan, pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber titik pandang (viewpoints) (University of Washington College of Education. 2001).

  • Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang terkait erat dengan pengalaman nyata (http://www.stw.ed.gov/factsht/bull0996.htm).
  • Pembelajaran kontekstual berakar pada pendekatan konstruktivis (Brown,1998;Dirkx, Amey, and Haston 1999 dalam Imel, 2000).
  • Pada pembelajaran kontekstual, anak didik benar-benar di awali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikan dalam kehidup keseharian mereka.
  • Ungkapan yang tepat untuk ini adalah: Bawalah mereka dari dunia mereka ke dunia kita, kemudian hantarkan mereka dari dunia kita ke dunia mereka kembali.
  • Pembelajaran kontekstual mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Menekankan pada problem solving
  2. Mengenal bahwa pengajaran dan pembelajaran perlu terjadi pada berbagai konteks
  3. Membantu para siswa dalam belajar bagaimana memonitor belajar mereka sindiri sehingga mereka dapat menjadi para pelajar yang teratur sendiri (self-regulated learners)
  4. Mengaitkan mengajaran di dalam berbagai konteks kehidupan siswa
  5. Mendorong para siswa belajar satu sama lainnya (belajar bersama)
  6. Menggunakan penilaian autentik


 

  • Elemen-elemen kunci CTL

a. Menurut University of Washington (2001)

  1. Pembelajaran bermakna
  2. Penerapan pengetahuan
  3. Berfikir tingkat tinggi
  4. Kurikulum berdasarkan standar
  5. Responsif terhadap budaya
  6. Penilaian autentik


 

b. Menurut Depdiknas (2002)            

  1. Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning)
  2. Pembelajaran autentik (Authentic Instruction)
  3. Belajar berbasis inquiri (InquryBased Learning)
  4. Belajar berbasis proyek (Project-Based Learning)
  5. Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning)
  6. Belajar jasa-layanan (Service Learning)
  7. Belajar kooperatif (Cooperative Learning)

    

7.4.2 CTL dan Teori Pembelajaran Konstruktivis

Pendekatan pembelajaran konstruktivis pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Sebagian besar waktu proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Inquiry-Based Learning dan Problem-Based Learning yang ditekankan pada pendekatan konstruktivis juga disebut sebagai strategi CTL.

7.4.3 Tujuh (7) komponen Pendekatan CTL

  1. Konstrktivisme (Constructivism)
  • Pengetahuan dibangun sendiri oleh pebelajar sedikit demi sedikit melalui pengalaman nyata
  • Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih utama dibanding dengan seberapa banyak pebelajar memperoleh dan mengingat pengetahuan
  • Pada dasarnya kita sudah menerapkan filosofi ini ketika kita: menerapkan pembelajaran dalam bentuk pebelajar bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide, dan sebagainya
  1. Menemukan (Inquiry)

    Kata kunnci dari pendekatan inquiri adalah pebelajar menemukan sendiri. Siklus inquiri adalah sebagai berikut:

    1. Observasi (Observation)
    2. Bertanya (Questioning)
    3. Mengajukan Jawaban sementara (Hypothesis)
    4. Mengumpulkan data (Data gathering)
    5. Penyimpulan (Conclussion)
  2. Bertanya (Questioning)

    Bertanya merupakan bagian penting dalam menerapkan pembelajaran berbasis inquiri. Bertanya dapat diterapkan antara pebelajar dengan pebelajar, antara guru dengan pebelajar, antara pebelajar dengan guru, antara pebelajar dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.

  3. Masyarakat Belajar (Learning Community)

    Masyarakat belajar bisa terbentuk bila komunikasi dalam pembelajaran terjadi dalam bentuk dua dan banyak arah

  4. Pemodelan (Modeling)

    Model berupa cara atau mekanisme sesuatu, berupa karya atau benda, sehingga dapat ditiru pebelajar. Model dapat dari guru, dari pebelajar dan dari orang lain

  5. Refleksi (Reflection)
  • Refleksi merupakan cara berpikir (merenung) tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu
  • Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima
  1. Penilaian autentik (Authentic Assessment)

    Kharakteristik authentic assessmen adalah:

  • Dilaksanakan selama dan sesudah pembelajaran berlangsung
  • Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
  • Yang dinilai keterampilan dan penampilan, bukan mengingat fakta
  • Berkesinambungan
  • Terintegrasi
  • Dapat digunakan sebagai feed back

    Contoh kegiatan yang dapat dinilai adalah: proyek/kegiatan dan laporan, PR, kuis, karya siswa, presentasi, demonstrasi, jurnal, portofolio, hasil tertulis, karya tulis.


 

  1. Kaitan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan CTL
    1. Dari isi kompetensi dan penilaian yang digunakan dalam KBK ternyata sejalan dengan apa yang ada pada CTL. Oleh karena itu, pendekatan CTL ini kelihatannya sangat cocok, bahkan sangat menunjang pelaksanaan KBK.

    2. Sebagai salah satu komponen KBK adalah penilaian berbasis sekolah (PBK) dengan prinsip:

  1. Penilaian berkelanjutan (ongoing assessment)
  2. Pengumpulan kerja pebelajar (portfolio)
  3. Hasil karya (product)
  4. Penugasan (project)
  5. Kinerja (performance)
  6. Tes tertulis (paper and pen)


 

7.5 Model Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Solving

Model pembelajaran problem solving ini termasuk model pembelajaran yang sudah tua, tapi sampai sekarang masih termasuk model pembelajaran yang sangat penting atau sangat dianjurkan digunakan dalam pembelajaran. Karena sudah hasil banyak penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran problem solving ini dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi anak didik. Sudah banyak variasi pola pembelajaran problem solving ini ditemukan dari berbagai literatur. Berikut ini akan disajikan berbagai pola proses atau tahapan problem solving yang dikemukakan oleh berbagai pakar.

7.5.1 Proses ideal Problem Solving menurut Bransford & Stein (1984 dalam Marzano et al.,1988)

  1. Identifikasi masalah (Identifying the problem = I)
  2. Mendefinisikan masalah (Defining the problem = D)
  3. Mengeksplorasi strategi-strategi (Exploring strategies = E)
  4. Mengemukakan ide-ide (Acting on ideas = A)
  5. Mencari pengaruhnya (Looking for the effects)


 

7.5.2 Tahapan proses pronlem solving menurut Wisconsin dalam Mc Intosh, 1995):

1) Pengajuan masalah (problem posing)

2) Pendekatan masalah (problem approach)

3) Solusi masalah (problem solution)

4) Komunikasi (communication)


 

7.5.3 Skema problem Solving ( menurut Karl R. Popper disadur oleh Taryadi, 1989)

1) Problem awal (P1)

2) Solusi tentatif (tentative solution = TS)

3) Error elimination (EE) atau evaluasi dengan tujuan menemukan dan membuang masalah

4) Situasi yang diakibatkan oleh adanya evaluasi kritis atau solusi tentatif terhadap problem awal, sehingga timbul problem baru (P2)


 

7.5.4 Proses pemecahan masalah secara ilmiah menurut Tek (1998)

1) Menemukan masalah yang butuh pemecahan

2) Mendefinisikan masalah

3) Meneliti kemungkinan solusi atau membuat rancangan gambar atau rancangan suatu penelitian

4) Mempertimbangkan sejumlah solusi atau memilih solusi yang menjanjikan

5) Mengujicoba atau membuat alat.


 

7.5.5 Ururtan Strategi berpikir (mis. Problem Solving) menurut Beyer (1988 dalam Zeidler et al., 1992)

  1. Mengenal masalah
  2. Menggambarkan (represent) masalah
  3. Memilih (devise/choose) rencana solusi
  4. Melaksanakan rencana (execute the plan)
  5. Mengevaluasi solusi


 

7.5.6 Tahap-tahap Problem Solving menurut Philippine Education Quarterly (1994)

1) Mengenal masalah (recognize a problem)

2) Menggambarkan masalah (represent the problem)

3) Memilih/menemukan rencana solusi (devise/choose solution plan)

4) Melaksanakan rencan (execute the plan)

5) Mengevaluasi solusi (evaluate the solution)


 

7.5.7 Tahapan Problem Solving menurut Gagne (1985)

1) Penyajian masalah (presentation of the problem), dapat dinyatakan dalam pernyataan verbal atau beberapa sarana (means) yang lain

2) Mendefinisikan masalah, atau membedakan sifat-sifat esensial (essential features) dari situasi

3) Memformulasikan hipotesis, yang dapat diaplikasikan terhadap solusi

4) Pengujian hipotesis (verification of the hypotesis), atau dilakukan secara berturut-turut (successive) sampai menemukan jawaban yang mencapai solusi.


 

7.5.8 Proses Problem Solving menurut UNESCO (1986)

1) Indentification of problem (preparation phase)

2) Analysis of problem (limiting phase)

3) Selection of hypothesis (productive phase)

4) Planning investigation (operative phase)

5) Carrying out investigation (active phase)

  1. Drawing conclusion (critical phase)


 

7.5.9. Tahapan Problem Solving menurut Dewey (1910; 1933 dalam Glover & Bruning, 1990)

  1. Presentation of the problem
  2. Problem definition
  3. Development of hypothesis
  4. Testing hypotesis
  5. Selection of the best hypothesis


 

5.10 Tahapan Problem Solving dalam Biologi Perkembangan Hewan menurut Lufri, (2003)

  1. Memahami masalah
  2. Merumuskan masalah (dalam bentuk kalimat tanya dan kalimat perintah)
  3. Mengajukan beberapa alternatif pemecahan atau solusi masalah
  4. Memilih solusi yang paling tepat dan menguraikan rasionalnya sehingga masalah dapat dipecahkan


 

Contoh: Problem Solving dalam Biologi Perkembangan Hewan

1. Masalah

Semua sel tubuh kita mengandung gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi hanya sel darah merah yang mengandung protein hemoglobin. Sebagai contoh, sel otot dan sel saraf juga mempunyai gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi tidak ditemukan protein hemoglobin.


 

    2. Rumusan Masalah

     Kenapa protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel otot dan sel saraf?


 

3. Beberapa alternatif kemungkinan pemecahan masalah

Protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot mungkin karena:

  • Gen hemoglobin mengalami mutasi pada sel saraf dan sel otot
  • Tidak terdapat asam amino penyusun protein hemoglobin di dalam sel saraf dan sel otot
  • Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch of) pada sel saraf dan sel otot


 

4. Pemecahan yang dianggap paling tepat adalah:

  • Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch of) pada sel saraf dan sel otot

                    Penjelasan

Teori menyatakan bahwa sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi, gen-gennya hanya akan mengkode protein yang dibutuhkan oleh sel-sel/ jaringan/ organ di tempat sel-sel itu berada. Diketahui bahwa sel saraf dan sel otot merupakan sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi atau dengan kata lain, gen-gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch off) pada sel saraf dan sel otot. Oleh karena itu, protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot.


 

7. 5.11 Tahapan Problem Solving secara heuristic menurut Krulik dan Rudnick (1996)

  1. Membaca dan berpikir (read and think)
  2. Menyelidiki dan merencanakan (explore and plan)
  3. Memilih suatu strategi (select a strategy)
  4. Menemukan suatu jawaban (find an answher)
  5. Mengambarkan dan menyampaikan (reflect and extend)


 

  1. Model Pembelajaran Berbasis Masalah

    Di sini dikemukakan dua model tahapan (sintaks) pembelajaran berbasis masalah:

    7.6.1 Menurut Greenwald (2000) ada sepuluh (10) tahapan Problem- Based Learning (PBL) atau Problem- Based Instruction (PBI):

    1. Menemukan sebuah masalah yang didefinisikan sebagai suatu hal yang kabur (Encounter an ill-defined problem)
    2. Meminta para anak didik mengajukan pertanyaan tentang minat yang menimbulkan teka teki (Have students ask questions about what is interesting , puzzling, or important to find out (IPF question)
    3. Mengejar atau mengikuti temuan masalah (Pursue problem finding)
    4. Memetakan temuan dan memprioritaskan sebuah masalah (Map problem finding and prioritize a problem)
    5. Meneliti masalah (Investigate the problem)
    6. Menganalisis hasil-hasil (Analize results)
    7. Mengulangi pernyataan pembelajaran atau menyajikan apa yang telah mereka lakukan (Reiterate learning)
    8. Menghasilkan solusi dan rekomendasi (Generate solutions and recommendations)
    9. Mengkomunikasikan hasil-hasil (Communicate the results)
    10. Melakukan penilaian sendiri. (Conduct self-assessment)


 

7. 6.2 Sintaks PBI yang dikemukakan oleh Ibrahim dan Nur (2000)


 

Tabel 2. Sintas Pembelajaran Berbasis Masalah


 

Tahap 

Aktivitas Guru 

1. Orientasi anak didik kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan peralatan yang diperlukan, memotivasi anak didik terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. 

2. Mengorganisasi anak didik untuk belajar 

Guru membantu anak didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut

3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok 

Guru mendorong anak didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah

4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya 

Guru membantu anak didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model, dan membantu mereka berbgi tugas dengan temannya  

5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu anak didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses- proses yang mereka gunakan 


 

(Dikutip dari: Ibrahim dan Nur, 2000)


 


 

7.7 Model Pembelajaran Langsung

Pembelajaran langsung atau direct intruction (DI) mempunyai ciri sebagai berikut: (1) adanya tujuan pembelajaran, (2) adanya pengaruh model terhadap siswa, (3) adanya prosedur penilaian hasil belajar, (4) adanya sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran, (5) adanya sistem pengelolaan dan lingkungan belajar.

Istilah lain yang juga sering digunakan untuk model pembelajaran lngsung ini ialah Pengajaran Aktif (Good & Grows, 1985), Mastery Teaching (Hunter, 1982), dan Explicit Instruction (Rosenshine & Stevens, 1986). Di samping itu, metode yang berhubungan erat dengan model ini adalah metode kuliah/ceramah dan resitasi (Kardi dan Nur, 2000).

Pembelajaran langsung mempunyai 5 fase seperti Tabel 1 berikut.


 

Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Langsung


 

Fase 

Peran Guru

1. Menyampikan tujuan dan mempersiapkan siswa 

Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar 

2. Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan 

Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap

3. Membimbing pelatihan 

Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal 

4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik 

Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik

5. Memberikan kesempatan untuk pelatiahn lanjutan dan penerapan 

Guru memperiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. 


 

(Dikutip dari: Kardi dan Nur, 2000)


 


 


 


 


 

Ringkasan

Sesungguhnya model yang dimaksudkan dalam pembelajaran adalah suatu pola atau contoh pembelajaran yang sudah didesain dengan menggunakan pendekatan atau metode atau strategi pembelajaran yang lain, serta dilengkapi dengan langkah-langkah (sintaks) dan perangkat pembelajarnnya. Suatu model pembelajaran mungkin terdiri dari satu atau beberapa pendekatan, satu atau beberapa metode, atau perpaduan antara pendekatan dengan metode. Bila dibandingkan antara model dengan pendekatan dan metode pembelajaran, model pembelajaran lebih bersifat operasioanl, artinya model siap untuk diimplementasikan karena sudah jelas langkah-langkahnya (sintaks)nya serta perangkat pembelajaran yang digunakan. Pendekatan dan metode dapat berada (include) dalam model pembelajaran.


 

Perlatihan

Setelah Anada mepelajari pokok bahasan ini, kerjakanlah soal-soal berikut!

1) Jelaskan makna atau hakekat model pembelajaran,

2) Jelaskan perbedaan antara pendekatan, metode dan model pembelajaran,

3) Jelaskan makna atau hakekat pembelajaran kooperatif,

4) Jelaskan perbedaan masing-masing tipe pembelajaran kooperatif yang dibahas pada pokok bahasan ini,

5) Rancanglah sebuah model pembelajaran kooperatif dengan memilih sebuah tipe dan topik yang sesuai,

6) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan STS dengan memilih sebuah topik yang sesuai,

7) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik dengan memilih sebuah topik yang sesuai,

8) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan CTL dengan memilih sebuah topik yang sesuai,

9) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan problem solving dengan memilih sebuah topik yang sesuai,

10) Rancanglah sebuah model pembelajaran berbasis masalah (PBI) dengan memilih sebuah topik yang sesuai,

11) Rancanglah sebuah model pembelajaran langsung (DI) dengan memilih topik yang sesuai.


 


 


 


 


 

Sebelum melakukan proses pembelajaran, seorang guru menentukan atau memilih pendekatan dan metode yang akan digunakan supaya tujuan pembelajaran yang telah disusun dapat tercapai. Pemilihan pendekatan dan metode perlu disesuaikan dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik materi yang akan dibahas. Sesungguhnya tidak pernah satu pendekatan dan satu metode dapat digunakan untuk membahas semua materi. Dengan kata lain, dalam pembelajaran penting digunakan berbagai pendekatan dan metode, atau gunakanlah pendekatan dan metode yang bervariasi, jangan menggunakan pendekatan dan metode yang menoton. Oleh karena itu, para guru harus menguasi berbagai pendekatan dan metode pembelajaran. Sesungguhnya banyak jenis pendekatan dan metode dalam pembelajaran, namun pada pokok bahasan ini tidak semuanya yang dapat dibahas, karena berbagai keterbatasan. Bahasan diarahkan untuk pendekatan dan metode yang sering digunakan dalm pembelajaran di Indonesia.

Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan Anda dapat:

  1. menjelaskan pengertian pendekatan pembelajaran,
  2. menjelaskan pengertian metode pembelajaran,
  3. menjelaskan hubungan antara pendekatan dan metode pembelajaran,
  4. menjelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing metode pembelajaran,
  5. menjelaskan pengertian macam-mcam pendekatan pembelajaran,
  6. menjelaskan pengertian mcam-macam metode pembelajaran,
  7. merancang model pembelajaran dengan menggunakan salah satu pendekatan,
  8. merancang model pembelajaran dengan menggunakan dua atau lebih pendekatan pembelajaran,
  9. merancang model pembelajaran yang merupakan kombinasi pendekatan dengan metode pembelajaran.


 

  1. Pengertian Pendekatan dan Metode

Pendekatan berbeda dengan metode dalam proses pembelajaran. Pendekatan (approach) lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode (method) lebih menekankann pada teknik pelaksanaannya (Rustaman, dkk. 2003). Pendekatan bersifat aksiomatis yang menyatakan pendirian, filosofis, dan keyakinan yang berkaitan dengan serangkaian asumsi. Sementara, metode lebih bersifat prosedural atau proses yang teratur. Dapat juga dikatakan bahwa metode merupakan jabaran dari pendekatan (Nurgiyantoro, 1985; Susilo, 1997). Suatu pendekatan yang direncanakan untuk satu pembelajaran mungkin dapat digunakan beberapa metode. Misalnya kita membahas topik pencemaran lingkungan, salah satu pendekatan yang mungkin dapat digunakan adalah Science Technology and Society (STS) atau Sains Teknologi dan Masyarakat (STM). Dalam melaksanakan pendekatan ini dapat saja digunakan berbagai metode seperti ceramah, eksperimen, tanya jawab, diskusi dan sebagainya.

Tapi, memang sulit membedakan antara pendekatan dan metode, karena keduanya berbeda sangat tipis. Malahan sering pula orang atau penulis tidak membedakan antara keduanya, sehingga dalam penggunaannya sering dipertukarkan. Misalnya, pendekatan ikuiri sering juga disebut metode inkuiri, pendekatan problem solving sering pula disebut metode problem solving. Sesungguhnya tidak perlu diperdebatkan perbedaan kedua istilah ini, yang penting supaya tidak membingungkan silahkan Anda ikuti literatur yang Anda rujuk, terutama literatur yang dianggap sudah standar.


 

  1. Beberapa Pendekatan Pembelajaran
    1. Pendekatan induktif

Pendekatan induktif merupakan pendekatan pembelajaran yang dimulai dari yang khusus sampai atau menuju pada yang umum, atau mulai dari contoh-contoh sampai pada suatu kesimpulan. Misalnya: hewan akan mati, manusia akan mati, tumbuhan akan mati, malaikat akan mati, jin akan mati, iblis akan mati. Maka kesimpulannya adalah: setiap makhluk hidup akan mati (karena semua yang disebutkan di atas adalah makhluk hidup).


 

  1. Pendekatan deduktif

Pendekatan deduktif merupakan kebalikan dari pendekatan induktif, yaitu pendekatan pembelajaran yang dimulai dari yang umum sampai atau menuju pada yang khusus, atau dimulai dari kesimpulan sampai kepada contoh-contoh. Misal kesimpulannya adalah: setiap logam bila dipanaskan akan memuai. Maka uraiannya adalah: besi bila dipanaskan akan memuai, temabaga bila dipanaskan akan memuai, emas bila dipanaskan akan memuai, perak bila dipanaskan akan memuai, seng bila dipanaskan akan memuai, dan seterusnya (karena semua yang disebutkan di atas adalah termasuk logam).


 

  1. Pendekatan inkuiri

Pendekatan inkuiri merupakan pendekatan pembelajaran yang mengarahkan anak didik untuk menemukan pengetahuan, ide, dan informasi melalui usaha sendiri. Kata kunci pendekatan inkuiri adalah menemukan sendiri. Pendekatan inkuiri mempunyai tahapan kerja, sebagaimana para ahli menggunakan pendekatan ini dalam melakukan eksperimen. Menurut Seifer, (1991) inkuiri merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan tahapan secara berurut (order). Di lain pihak, Callahan et al. (1994) mendefinisikan inkuiri sebagai suatu cara yang kreatif dan open-ended dalam pencarian pengetahuan (as an open-ended and creative way of seeking knowledge).

Tahapan kerja inkuiri sering juga dikenal dengan langkah-langkah metode ilmiah, yaitu: (1) melakukan observasi (observation), (2) mengajukan pertanyaan (questioning), (3) mengajukan jawaban sementara (hypothesis), (4) mengumpulkan data (data gathering), (5) menarik kesimpulan (conclussion).


 

  1. Pendekatan diskoveri

Callahan et al. (1994) mengartikan diskoveri sebagai hasil pencarian pengetahuan (discovery can be thought of as tht result of seeking knowledge). Dipihak lain, Seifer (1991) mengemukakan bahwa diskoveri merupakan suatu pendekatan pembelajaran atau pendidikan yang menuntut anak didik menemukan ide-ide dan informasi melalui usaha belajar sendiri dari materi yang telah diberikan kepada mereka.

Sulit memang membedakan scara tajam antara inkuiri dan diskoveri, dan sulit pula dipisahkan satu sama lainnya, sehingga sering orang menggandeng kedua istilah ini dengan sebutan pendekatan inkuiri-diskoveri.


 


 

  1. Pendekatan lingkungan

Pendekatan lingkunang merupakan pendekatan yang mengarahkan anak didik memanfaatkan lingkungan sebaai sumber belajar. Lingkungan artinya segala sesuatu yang berada di luar kita, baik berupa lingkungan hayati maupun berupa lingkungan non hayati. Dalam pelaksanaan pendekatan lingkungan umumnya anak didik dibawa belajar keluar kelas. Tapi, tidaklah mustahil dalam kondisi tertentu atau untuk mempelajari objek tertentu dapat dilaksanakan membawa lingkungan ke dalam kelas atau ke dalam laboratorium. Misalnya untuk mempelajari hewan atau tumbuhan tertentu dapat ditugaskan anak didik mencari dan membawanya ke kelas atau ke laboratorium. Kecuali kita ingin mengamati tingkah laku hewan atau kharakteristik tumbuhan tertentu yang hidup secara alami atau pada kondisi tertentu, bila dibawa akan dapat mengubah perilaku alaminya, hal semacam ini tidak memungkinkan objek dibawa ke kelas atau labor. Begitu juga jika hewan atau tumbuhan itu besar dan membahayakan juga tidak mungkin objek dibawa ke lokal atau ke laboratorium.


 

  1. Pendekatan konsep

Pendekatan konsep merupakan pendekatan yang mengarahkan anak didik untuk menguasi konsep secara benar. Pendekatan ini sangat penting untuk menghindari anak didik salah konsep (misconception). Materi biologi sangat kaya dengan konsep. Oleh karena itu, pendekatan konsep ini boleh dikatakan merupakan suatu keharusan dalam pembelajarana biologi.

Menurut Van Cleaf (1991) konsep merupakan suatu organisasi mental dan kategori-kategori, pemikiran atau gagasan. Konsep sebagai kategori-kategori mencakup: benda (objects), peristiwa (events) orang (peoples), ide (ideas) dan simbol (simbols). Menurut Kolesnik (1976) sebuah konsep tidaklah sama dengan sebuah kata. Kata merupakan simbol dari sebuah konsep atau cara mengekspresikan konsep. Konsep pada hakekatnya adalah ide atau suatu pemahaman terhadap sesuatu atau generalisasi.


 

  1. Pendekatan proses

Pendekatan proses merupakan pendekatan yang berorientasi kepada proses bukan kepada hasil. Pada pendekatan ini anak didik diharapkan benar-benar menguasai proses. Misalnya anak didik harus menguasai bagaimana terjadinya proses pencernaan makanan mulai dari mulut sampai ke anus, bagaimana terjadinya proses pernafasan, bagaimana terjadinya proses fotosintesis, bagaimana terjadinya proses respirasi, bagaimana terjadinya proses fertilisasi, dan sebaginya. Pendekatan proses penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir, dan melatih psikomotor anak didik. Dalam pendekatan proses, anak didik tidak hanya memahami proses tetapi juga dapat mengilustrasikan atau memodelkan dan bahkan melakukan percobaan.

Bila anak didik sudah dapat melakukan proses suatu percobaan dengan baik dan benar diasumsikan akan dapat menemukan hasil yang tepat.. Untuk evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses, yang mencakup: kebenaran cara kerja ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebaginya.


 

  1. Pendekatan terpadu

Pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang bersifat menyeluruh, yang memadukan berbagai disiplin bidang studi atau bidang ilmu yang berpusat atau berfokus pada suatu masalah atau topik atau proyek, baik teoritis maupun praktis. Pendekatan terpadu bertujuan untuk mengembangkan kompetensi anak didik secara terintegrasi.

Pendidikan dikatakan bermutu jika dapat mengembangkan komnpetensi anak didik secara menyeluruh, baik penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (kognisi), kepribdiannya (afeksi) maupun keterampilannya (psikomotorik) secara optimal. Untuk mencapai ini salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menerapkan pendekatan terpadu. Pendekatan terpadu tidak hanya memadukan berbagai bidang studi, tetapi juga memadukan berbagai macam pendekatan dan metode pembelajaran, serta memadukan antara teori dan praktek. Contoh masalah dalam Sains yang dapat digunakan pendekatan terpadu adalah masalah
pencemaran air
. Maslah pencemaran air ini dapat dibahas secara terpadu dari bidang kajian biologi, kimia dan fisika.


 

  1. Pendekatan CBSA

Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) merupakan sutu pendekatan yang menekankan kepada anak didik untuk belajar secara aktif. Jika anak didik belajar aktif bukan berarti pula guru tidak perlu aktif atau bersifat pasif saja. Sesungguhnya baik anak didik maupun guru adalah sama-sama aktif, anak didik aktif belajar sementara guru aktif merancang pembelajaran yang tepat, aktif memfasilitasi dan membimbing, serta mengevaluasi anak didik sehingga terjadi proses pembelajaran yang optimal. Jika pembelajaran berjalan optimal maka diprediksi tujuan pembelajaran akan dicapai dan hasil belajar yang diperoleh juga diharapkan optimal. Sebenarnya banyak pendekatan ataupun metode pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan CBSA, di antarnya adalah pendekatan problem solving dan pendekatan inkuiri.


 

  1. Pendekatan pemecahan masalah (problem solving)

Pendekatan pemecahan masalah merupakan pendekatan yang mengarahkan atau melatih anak didik untuk mampu memecahkan masalah dalam bidang ilmu atau bidang studi yang dipelajari. Masalah adalah perbedaan atau kesenjangan yang terjadi antara yang diinginkan dengan kenyataan yang terjadi sehingga timbul keinginan untuk memecahkannya atau mencarikan solusinya. Suatu masalah muncul bila suatu keadaan tidak dapat dijelaskan atau diramalkan berdasarkan prinsip-prinsip dan teori yang ada.

Keterampilan memecahkan masalah merupakan ketrampilan dasar yang harus dikembangkan dalam diri setiap anak didik. Keterampilan ini dapat dikembangkan melalui latihan. Anak didik yang terampil dalam memecahkan masalah akan dapat menjadi manusia yang bertanggung jawab, berkemampuan tinggi, kreatif dan kritis serta mandiri. Kemampuan memecahkan masalah ini diharapkan dapat ditransfer dalam pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak didik tidak mendapat kesulitan dalam menghadapi kehidupanya.

Menurut Unesco (1986) pemecahan masalah merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dalam pelaksanaannya dapat digunakan berbagai pendekatan atau metode seperti: inkuiri, studi kasus, permainan, bermain peran, penelitian dan diskusi. Semua metode ini bertolak dari masalah. Perbedaan antara metode-metode ini hanyalah pada langkah-langkah yang diambil untuk memecahkan masalah

Banyak ragam pola yang dirumuskan oleh para ahli untuk menerapkan pendekatan pemecahan masalah ini, berikut ini kemukakan dua model pola saja:

1. Tahapan Problem Solving menurut Gagne, (1985):

  1. Penyajian masalah (presentation of the problem), dapat dinyatakan dalam pernyataan verbal atau beberapa sarana (means) yang lain.
  2. Mendefinisikan masalah, atau membedakan sifat-sifat esensial (essential features) dari situasi.
  3. Memformulasikan hipotesis, yang dapat diaplikasikan terhadap solusi.
  4. Pengujian hipotesis (verification of the hypotesis), atau dilakukan secara berturut-turut (successive) sampai menemukan jawaban yang mencapai solusi.


 

2. Tahapan problem solving dalam Biologi Perkembangan Hewan menurut Lufri, (2003):

1) Memahami masalah

2) Merumuskan masalah (dalam bentuk kalimat tanya dan kalimat perintah)

  1. Mengajukan beberapa alternatif pemecahan atau solusi masalah
  2. Memilih solusi yang paling tepat dan menguraikan rasionalnya sehingga masalah dapat dipecahkan


 

Contoh: Problem Solving dalam Biologi Perkembangan Hewan


 

1) Masalah

Semua sel tubuh kita mengandung gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi hanya sel darah merah yang mengandung protein hemoglobin. Sebagai contoh, sel otot dan sel saraf juga mempunyai gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi tidak ditemukan protein hemoglobin.


 

2.) Rumusan Masalah

Kenapa protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel otot dan sel saraf?


 

3) Beberapa alternatif kemungkinan pemecahan masalah

Protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot mungkin karena:

  • Gen hemoglobin mengalami mutasi pada sel saraf dan sel otot
  • Tidak terdapat asam amino penyusun protein hemoglobin di dalam sel saraf dan sel otot
  • Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch of) pada sel saraf dan sel otot


 

4) Pemecahan yang dianggap paling tepat adalah:

  • Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch off) pada sel saraf dan sel otot


 


 

                    Penjelasan

Teori menyatakan bahwa sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi, gen-gennya hanya akan mengkode protein yang dibutuhkan oleh sel-sel/ jaringan/ organ di tempat sel-sel itu berada. Diketahui bahwa sel saraf dan sel otot merupakan sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi atau dengan kata lain, gen-gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch off) pada sel saraf dan sel otot. Oleh karena itu, protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot.


 

2.11 Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)

CTL merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, dan tenaga kerja (U.S. Department of Education and the National School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001)

CTL menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin akademik, dan pengumpulan, penganalisisan, pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber titik pandang (viewpoints) (University of Washington College of Education. 2001).

Ungkapan yang tepat untuk CTL ini adalah: Bawalah mereka dari dunia mereka ke dunia kita, kemudian hantarkan mereka dari dunia kita ke dunia mereka kembali. Pembelajaran kontekstual mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Menekankan pada problem solving
  2. Mengenal bahwa pengajaran dan pembelajaran perlu terjadi pada berbagai konteks
  3. Membantu para siswa dalam belajar bagaimana memonitor belajar mereka sindiri sehingga mereka dapat menjadi para pelajar yang teratur sendiri (self-regulated learners)
  4. Mengaitkan mengajaran di dalam berbagai konteks kehidupan siswa
  5. Mendorong para siswa belajar satu sama lainnya (belajar bersama)
  6. Menggunakan penilaian autentik


 

2.12 Pendekatan Science, Technology and Society (STS)

Pendekatan STM merupakan gabungan antara pendekatan konsep, pendekatan keterampilan proses, pendekatan CBSA, pendekatan inkuiri dan diskoveri, serta pendekatan lingkungan (Susilo1999). Pendekatan STM berangkat dari isu-isu yang berkembang di masyarakat akibat dampak kemajuan sains dan teknlogi. Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah filosofi konstruktivisme, yaitu siswa menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui sebelumnya.

Ada Enam (6) ranah yang dikembangkan melalui STM, yaitu: (1) konsep, (2) proses, (3) kreativitas, (4) sikap dan nilai, (5) penerapan, dan (6) hubungan atau keterkaitan (Yager, 1992).


 

2.13 Pendekatan konstruktivistik

Pendekatan konstruktivistik bukanlah suatu pendekatan baru dalam pendidikan, tetapi pada akhir-akhir ini pendekatan konstruktivistik mendapat perhatian yang lebih besar karena banyak dukungan dari berbagai hasil penelitian. Menurut pendekatan ini, belajar merupakan suatu proses pemahaman informasi baru. Informasi baru ini berupa penyusunan pengetahuan yang berlangsung secara terus menerus melalui interpretasi pengalaman konkrit dan berdasarkan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

Pendekatan pembelajaran konstruktivistik merupakan pendekatan yang menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Sebagian besar waktu proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa.. Kegiatan berfokus pada pembelajaran secara mendalam dengan pengalaman yang relevan. Pendekatan ini menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan aktif belajar. Keterampilan anak didik dikembangkan dalam kegiatan belajar yang relevan. Materi pembelajaran terintegrasi, dan disusun sendiri oleh siswa.

    

  1. Beberapa Metode Pembelajaran
  2. Metode Metode Ceramah

Metode ceramah sering juga disebut dengan metode konvensional atau tradisional. Hal ini dapat dimaklumni, karena sejak dulu metode ini telah dipergunakan guru sebagai cara untuk menyampaikan materi pelajaran. Sampai saat ini metode ceramah ini masih digunakan dalam pembelajaran sebagai alat komunikasi guru dan anak didik dalam membahas materi pelajaran di kelas. Meski metode ini lebih banyak dikritik karena guru yang aktif sementara anak didik pasif, tetapi tetap tidak bisa dihilangkan dalam proses pembelajaran, karena masih tetap diperlukan atau metode ini masih punya keunggulan dalam kondisi tertentu. Misalnya, dalam pelaksanaan pembelajaran di pedesaan yang kekurangan guru dan fasilitas belajar, metode ceramah menjadi penting..

Dalam menggunakan metode ceramah ini janganlah semata-mata ceramah melulu, tetapi gunakanlah alat bantu atau media, seperti media gambar atau potret, media model atau tiruan, media asli, OHP, Slide, film dan sebagainya. Dalam metode ceramah ini yang sangat penting adalah ucapan guru yang jelas dengan kalimat-kalimat yang mudah dipahami anak didik sewaktu menyajikan materi pelajaran. Oleh karena itu, keunggulan metode ceramah terletak pada kompetensi guru dalam menggunakan kata-kata dan kalimat atau sangat ditentukan oleh kepiawaian atau kecakapan guru berbicara. Metode ceramah ini mempunyai kelebihan dan kekurangan, yaitu:

  1. Kelebihan metode ceramah
    1. mudah dilaksanakan,
    2. guru mudah menguasai kelas,
    3. dapat menghemat waktu,
    4. guru dapat menggunakan pengalamannya dalam pembelajaran,
    5. dapat menstimulir anak didik mempelajari materi lebih lanjut,
    6. dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar,
    7. dapat mencakup sejumlah besar materi pelajaran,
    1. dapat diketahui kehebatan guru atau dapat mengangkat status guru di mata anak didik


 

  1. Kekurangan metode ceramah
    1. kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata),
    1. tidak dapat mencakup berbagai tipe belajar anak didik,
      1. membosankan bagi anak didik bila terlalu lama,
      2. sukar mendeteksi atau mengontrol sejauh mana pemahaman anak didik
      3. mmenyebabkan anak didik pasif,
      4. materi yang mudah juga ikut diceramahkan,
      5. kurang menggairahkan belajar siswa bila guru kurang cakap berbicara,
      6. guru cenderung otoriter,
      7. membuat anak didik tergantung kepada gurunya


         

    1. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran melalui bentuk pertanyaan yang perlu dijawab oleh anak didik. Di samping itu, guru juga memberi peluang untuk bertanya kepada murid, kemudian murid lain diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan temannya. Apabila tidak ada murid yang dapat menjawab maka guru dapat mengarahkan atau memberikan jawaban. Salah satu persyaratan untuk metode tanya jawab ini adalah anak didik harus sudah punya bekal awal tentang topik yang akan dipelajari. Artinya, anak didik harus belajar lebih dahulu sebelum materi dibahas di kelas. Bila anak didik tidak punya bekal awal tentang materi yang akan dibahas maka kondisi belajar atau kelas tidak akan aktif, dengan kata lain metode tanya jawab tidak dapat berjalan dengan baik. Peran guru sangat penting dalam merancang pertanyaan yang tepat atau sesuai dengan tujuan pembelajaran dan indikator yang disusun dan kemudian mengarahkan jawaban anak didik terhadap pertanyaan yang berkembang.

Bila persyaratan pembelajaran terpenuhi, maka dengan metode ini dapat dikembangkan kemampuan atau keterampilan berpikir kreatif dan kritis, termasuk berpikir tingkat tinggi, seperti menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Anak didik yang suka berpikir biasanya sangat termotivasi dengan metode tanya jawab ini. Sebaliknya, anak yang malas berpikir kurang menyukai metode tanya jawab ini. Seperti juga metode yang lain, metode diskusi mempunyai kelebihan dan kekurangan, yaitu:

  1. Kelebihan metode tanya jawab
    1. dapat mengaktifkan berpikir anak didik,
    1. dapat memotivasi anak didik untuk aktif membaca materi sebelumnya,
      1. dapat merangsang minat anak belajar,
      2. dapat menarik dan memusatkan perhatian anak didik dalam belajar.


 

  1. Kekurangan metode tanya jawab
    1. punya peluang menyimpang dari pokok persoalan,
    2. kurang menarik bagi anak yang kurang aktif berpikir,
    1. dapat memojokkan kekurangan anak didik bila mereka tidak bisa menjawab,
      1. sulit merancang pertanyaan yang sesuai dengan keadaan anak didik,
    2. pembelajaran tidak bisa berjalan dengan baik bila anak didik tidak membaca lebih dahulu.


 

  1. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah metode yang bertujuan untuk memecahkan atau menemukan solusi masalah yang ditemukan dalam mempelajari materi pembelajaran. Masalah adalah kesenjangan atau perbedaan antara yang diinginkan dengan kenyataan yang terjadi. Masalah dapat berupa sebuah pertanyaan apa, kenapa, bagaimana,dimana dan kapan. Melaui metode diskusi dapat menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Salah satu syarat untuk metode diskusi adalah sebagian besar peserta diskusi harus mempunyai pengetahuan dan wawasan tentang topik atau masalah yang didiskusikan. Bila peserta diskusi tidak menguasai masalah atau materi yang akan didiskusikan maka diskusi tidak akan berjalan dengan baik, pemecahan masalah atau solusi tidak akan ditemukan secara tepat.

Pemimpin diskusi sangat berperan dalam mengatur jalannya diskusi. Oleh karena itu, peminpin diskusi haruslah seorang anak didik yang terampil memimpin diskusi. Peran guru juga tidak bisa diabaikan dalam pelaksanaan metode diskusi. Guru harus mengikuti jalannya diskusi dan melakukan arahan dan bimbingan bila jalannya diskusi melenceng dari apa yang direncanakan. Guru juga harus memberikan penegasan terhadap pemecahan atau solusi masalah yang dirumuskan dalam diskusi. Jangan sampai tidak ada hasil yang dicapai dalam diskusi, walaupun hasilnya belum sempurna.

Perlu dicatat bahwa persoalan yang didiskusikan harus dikuasai secara mendalam. Diskusi akan terasa kaku atau stagnansi bila persoalan yang akan didiskusikan tidak dikuasai. Metode diskusi juga mempunyai kelemahan dan kekurangan seperti metode yang lainnya.

  1. Kelebihan metode diskusi
    1. dapat melibatkan anak didik secara langsung dalam pembelajaran,
    2. pemecahan masalah secara bersama lebih baik daripada sendirian atau individu,
    1. dapat mengembangkan kemampuan berpikir kreatif, kritis dan berpikir tingkat tinggi anak didik,
      1. dapat mengembangkan kompetensi sosial dan sikap demokratis,
    2. dapat menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan dan bukan satu jalan (satu jawaban saja)
    3. dapat menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik
    4. dapat membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya sendiri dan membiasakan bersikap toleran.


     

  2. Kekurangan metode diskusi
    1. sulit dilaksanakan bila jumlah anak didik yang besar,
    2. diskusi memerlukan waktu yang banyak,
    3. materi masalah yang dapat didiskusikan sangat terbatas,
    4. kelas sering didominasi oleh anak yang aktif berbicara,
    5. kurang menarik bagi anak yang kurang aktif berpikir dan berbicara
    6. tidak menjamin ditemukannya pemecahan masalah atau solusi yang tepat


 


 

  1. Metode Demonstrasi

Demonstrasi adalah suatu metode yang digunakan untuk memperlihatkan suatu proses, mekanisme atau cara kerja suatu alat yang berkaitan dengan bahan pelajaran. Pada metode ini adakalanya guru lebih aktif daripada anak didik, jika guru yang melaksanakan demonstrasi. Tetapi dapat juga murid yang diminta guru untuk mendemonstrasikan suatu cara kerja, prosedur atau mekanisme kerja suatu alat di bawah bimbingan guru, atau murid yang sudah dilatih sebelumnya. Sebagai contoh pelaksanaan metode demonstrasi adalah guru memperagakan suatu proses atau cara kerja suatu alat, misalnya bagaimana menggunakan menggunakan mikroskop, respirometer, cara kerja jantung, penggunaan alat bedah, cara membedah hewan percobaan, dan sebagainya.

Untuk kondisi yang terbatas, seperti terbatasnya alat dan bahan, waktu yang tersedia, maka metode demonstrasi sangat tepat dilaksanakan. Jangan sampai anak didik tidak mengenal cara kerja suatu alat laboratorium di sekolah dengan alasan jumlah alat yang terbatas, alat yang mahal, alat yang rumit dan sensitivitas yang tinggi. Semua alasan atau kesulitan ini dapat diatasi dengan menggunakan metode demonstrasi yang dilakukan oleh guru.

Di lain waktu, anak didik juga bisa melakukan demonstrasi, baik secara kelompok ataupun klasikal, dengan mendapatkan bimbingan dari guru, bila diperlukan. Tetapi untuk alat yang mempunyai kerumitan tinggi, sangat sensitif dan mudah rusak, alat yang canggih dan mahal, serta bahan yang berbahaya sebaiknya guru yang melakukan demonstrasi, guna menghindari resiko atau bahaya yang terjadi. Metode demonstrasi ini juga mempunyai kelebihan dan kekurangan sebagaimana metode lainnya.

  1. Kelebihan metode demonstrasi
    1. dapat membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda,
    2. dapat memudahkan berbagai jenis penjelasan, karena sering penggunaan bahasa lisan bersifat terbatas,
      1. dapat mengurangi verbalisme pada anak didik,
      2. dapat mengkonkritkan penjelasan yang bersifat abstrak,
      3. dapat mengatasi kesulitan jumlah alat, bahan dan waktu yang tersedia.


 

  1. Kekurangan metode demonstrasi
    1. kadang kala anak didik sukar melihat dengan jelas alat yang akan ditunjukkan, terutama yang mempunyai komponen-komponen yang cukup rumit,
      1. tidak semua cara kerja alat dapat didemonstrasikan,
    2. sukar dimengerti anak didik bila didemonstarsikan oleh guru yang kurang menguasai alat yang didemonstrasikan,
    3. tidak ada jaminan semua anak dapat mengulangi apa yang telah didemonstrasi-kan,
    4. sulit diingat anak didik karena mereka tidak langsung mengerjakannya,
    5. tidak dapat diikuti anak didik dengan baik bila jumlah mereka terlalu banyak.


 

  1. Metode Eksperimen

Metode eksperimen adalah metode yang memberi kesempatan kepada anak didik baik secara perorangan atau kelompok untuk melakukan suatu percobaan dilaboratorium atau di lapangan, guna membuktikan teori atau menemukan sendiri sutu pengetahuan baru bagi anak didik. Metode eksperimen sering dilakukan pada saat kegitan praktikum. Dalam melakukan eksperimen, anak didik bisanya dipandu dengan lembaran kerja atau dikenal juga dengan penuntun praktikum. Dengan metode ini anak didik dilatih menggunakan metode ilmiah, yaitu: (1) melakukan pengamatan, (2) merumuskan masalah atau pertanyaan, (3) menyusun hipotesis, (4) menguji hipotesis atau melakukan percobaan, dan (5) menarik kesimpulan.

Dengan metode eksperimen diharapkan anak didik tidak menelan begitu saja sejumlah teori atau informasi yang diperoleh dalam pembelajaran, karena mereka sendiri yang mengamati, mengumpulkan data untuk menguji hipotesis melalui eksperimen. Dengan metode ini sekaligus dapat dikembangkan berbagai keterampilan sebagaimana yang diperlukan dalam melakukan metode ilmiah. Metode eksperimen juga mempunyai kelebihan dan kekurangan.


 

  1. Kelebihan Metode Eksperimen
    1. anak didik mempunyai pengalam langsung terhadap suatu kegiatan,
    2. dapat melibatkan multisensoris (mendengar, melihat, merasa, dan membau) anak didik,
    3. mengembangkan sikap ilmiah dan jiwa serta kemampuan riset bagi anak didik,
    4. dengan metode ini dapat membuat anak didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaan sendiri daripada menerima kata guru atau buku
    5. anak didik dapat mengembangkan sikap dan kemampuan untuk mengadakan studi eksplorasi (menjelajahi) tentang ilmu dan teknologi, suatu kemampuan dan sikap yang dituntut dari seorang ilmuwan,
    6. dengan metode ini akan terbina manusia yang dapat membawa terobosan- terobosan baru dengan penemuan sebagai hasil percobaan yang diharapkan dapat bermanfaat bagi kesejahteraan hidup manusia.


 

  1. Kekurangan metode eksperimen
    1. memerlukan persiapan yang matang,
    2. memerlukan biaya dan waktu yang banyak,
    3. tidak semua materi yang dapat dieksperimenkan
    4. kekurangan alat-alat mengakibatkan tidak setiap anak didik berkesempatan mengadakan eksperimen,
    5. jika eksperimen memerlukan jangka waktu yang lama, maka anak didik harus menanti untuk melanjutkan pelajaran,
    6. belum tentu atau tidak ada jaminan semua anak berhasil melakukan eksperimen,
      1. metode ini lebih sesuai untuk menyajikan bidang-bidang sains dan teknologi.


 

  1. Metode Pemberian Tugas atau Resitasi

Metode pemberian tugas (resitasi) merupakan metode yang menugaskan kepada anak didik untuk mengerjakan sesutu dengan tujuan memantapkan, mendalamai, dan memperkaya materi yang sudah dipelajari atau menemukan suatu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang relevan atau sesuai sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan. Tugas ini dapat dilakukan seperti guru menyuruh anak didik membaca, membuat makalah, membuat kliping, membuat ringkasan, membuat tugas presentasi, tugas observasi, dan sebagainya. Jangan sampai anak didik merasakan beban berat atau merasa terpaksa melakukan tugas, apalagi mereka tidak tahu manfaat tugas yang dilakukan. Oleh karena itu, guru harus merancang tugas sebaik mungkin sehingga mereka merasakan manfaat yang besar dari tugas yang dilakukannya. Setiap tugas yang dibuat anak didik harus dihargai oleh guru, diberikan umpan balik, misalnya dikoreksi, dikomentari, dan dinilai. Di samping itu, tugas yang diberikan kepada setiap anak didik harus jelas dan petunjuk- petunjuk yang diberikan harus terarah. Metode tugas juga mempunyai kelebihan dan kekurangan.

  1. Kelebihan Metode Pemberian Tugas dan Resitasi
    1. pengetahuan yang diperoleh anak didik dari hasil belajar sendiri akan dapat diingat lebih lama (mempunyai retensi yang lama)
    2. anak didik berkesempatan memupuk perkembangan dan keberanian mengambil inisiatif, bertanggungjawab, dan mandiri.
    3. materi yang belum sempat dibahas dapat ditugaskan untuk belajar sendiri,
    4. anak didik dapat menemukan hal-hal baru yang mungkin guru juga belum mengetahui,
    5. dengan metode tugas ini dapat mengoptimalkan anak belajar.


 

  1. Kekurangan metode pemberian tugas (resitasi)
    1. seringkali anak didik melakukan penipuan dimana anak didik hanya meniru atau mengopi hasil pekerjaan orang lain tanpa mau bersusah payah mengerjakan sendiri,
      1. sulit dikontrol, terkadang tugas itu dikerjakan orang lain,
      2. sering terjadi kesulitan anak didik menemukan referensi,
      3. sukar memberikan tugas yang memenuhi atau sesui dengan kebutuhan individu,
    2. sulit memerikasa, mngoreksi dan menilai tugas karena memakan waktu yang banyak


 

  1. Metode Latihan

Metode latihan disebut juga metode training atau metode drill, yaitu suatu metode atau cara mengembangkan kompetensi atau skill anak didik baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor, sehingga anak menjadi terampil dalam bidang yang dilatihkan. Latihan biasanya diberikan setelah anak didik mempelajari sutu masalah atau topik atau setelah guru menjelaskan materi tersebut. Latihan juga diberikan untuk tujuan mencapai suatu keterampilan atau skill tertentu. Misalnya calon guru harus berlatih untuk terampil menjadi guru. Tanpa latihan anak tidak akan menjadi terampil atau skill dalam bidang atau aspek apapun. Oleh karena itu, metode latihan menjadi sangat penting dalam pembelajaran. Orang yang terampil dalam sesuatu hal niscayalah orang yang sudah mendapat latihan yang cukup dalam hal tersebut.

Anak didik harus melakukan latihan tentang hal yang telah mereka pelajari. Kalau tidak demikian tidak ada kepastian, apakah hal-hal yang sudah dipelajari betul-betul telah dipahami dan telah dapat diaplikasikan. Metode latihan tentang hal yang telah dipelajari sangat baik bagi guru untuk meyakinkan diri bahwa apakah materi sudah dipahami anak didik dengan baik atau belum. Bila anak didik ditugaskan mengerjakan latihan, guru harus memberi umpan balik terhadap latihan tersebut, misalnya memeriksa, mengoreksi, mengomentari, dan menilai latihan yang diberikan. Latihan dapat diberikan di dalam kelas ataupun di luar kelas. Contoh latihan adalah misalnya guru genetika menyuruh anak didik ke depan untuk mengerjakan soal persilangan monohibrid atau dihibrid yang sudah dijelaskan guru.

Metode latihan juga sangat penting artinya untuk memantapkan konsep, hukum dan teori. Materi ajar yang kurang latihannya, terutama dalam bentuk pemecahan masalah kehidupan nyata di lapangan maka materi tersebut akan bersifat teoritis, dan akan berdampak kepada anak didik ketika mereka berhadapan pada kondisi yang sesungguhnya di lapangan, yaitu mereka akan mengalami kesulitan karena belum pernah berlatih atau berpengalaman menghadapi kondisi tersebut. Metode ini diakui banyak memiliki kelebihan, tetapi juga mempuyai beberapa kekurangan.


 

  1. Kelebihan metode latihan
    1. dapat mengembangkan kecakapan berpikir (thinking skill) atau kecerdasan intelektual,
    2. dapat mengembangkan kecakapan motoris, seperti menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat,
    3. dapat memperkuat mental, misalnya keberanian tampil dimuka publik, keberanian mengeluarkan pendapat, dan mengembangkan kecerdasan emosional, yaitu terampil mengendaliakan diri dan mengendalikan emosi orang lain,
    4. dapat mengembangkan kecerdasan spiritual, yaitu dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah anak didik.


 

  1. Kekurangan metode latihan
    1. dapat menyita waktu anak didik, sehingga terjadi kekurangan waktu untuk aktivitas yang lain,
    2. kadang-kadang latihan yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal yang menoton dan membosankan,
    3. dapat melelahkan fisik atau pikiran, bila dilakukan latihan jangka waktu yang lama.


 

  1. Metode Bercerita

Metode bercerita adalah suatu cara mengajar dengan bercerita atau menyampaikan suatu kisah atau peristiwa yang sangat penting bagi anak didik untuk dipetik hikmahnya atau pelajaran dari cerita tersebut. Pada hakekatnya metode bercerita sama dengan metode ceramah, karena informasi disampaikan melalui penuturan atau penjelasan lisan dari seorang kepada orang lain, bedanya pada metode cerita ada penekanan terhadap suatu kisah atau peristiwa yang mengandung pesan atau hikmah atau pelajaran tertentu. Misalnya guru bercerita tentang kisah penemuan listrik, penemuan sel, penemuan atom dan sebagainya. Kisah ini disampaikan dengan maksud atau pesan bagaimana orang-orang dahulu bekrja keras untuk menemukan sesuatu, sekarang kita sudah menikmati kerja keras orang-orang terdahulu tersebut, lalu kita sebagai generasi penerus berbuat apa atau apa yang harus dilakukan lagi.

Dalam metode bercerita, baik guru ataupun anak didik dapat berperan sebagai penutur. Guru dapat menugaskan salah seoarang atau beberapa orang anak didik untuk menceritakan suatu peristiwa atau topik. Salah satu metode bercerita adalah membaca cerita atau peristiwa yang mungkin ada kaitannya dengan perilaku manusia, seperti bencana alam.

Ketika guru akan menggunakan metode bercerita, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kejelasan arah dan tujuan cerita, bentuk penyampaian dan sistematika cerita, tingkat kemampuan dan perkembangan anak (sesuai dengan usia anak), situasi dan kondisi kelas, dan penyimpulan hasil cerita. Jangan lupa memberikan menegasan terhadap pesan cerita yang disampaikan.


 

  1. Kelebiha Metode Bercerita
    1. guru dapat menguasai kelas bila penyampaian cerita menarik,
    2. guru dapat meningkatkan konsentrasi anak didik dalam waktu relatif lama,
    3. dapat mengembangkan daya imajinasi dan emosi anak didik,
    4. guru dapat menyampaikan pesan pendidikan atau pesan moral bagi anak didik,
    1. dapat diikuti oleh anak didik dalam jumlah yang banyak bila suara guru cukup memadai.
    2. metode ini baik untuk intermezo atau sebagai variasi dalam pembelajaran.


 

  1. Kekurangan metode bercerita
    1. sering anak didik terbuai dengan jalannya cerita sehingga tidak dapat mengambil intisarinya apalagi tidak disimpulkan diakhir cerita,
    2. hanya guru yang pandai bermain kata- kata atau kalimat,
    3. menyebabkan anak didik pasif, karena guru yang aktif,
    4. anak didik cenderung hafal isi cerita dari pada sari cerita atau pesan yang dikandung cerita.


       

    1. Metode Karyawisata

Metode karyawisata ialah suatu cara mendapatkan pengetahuan oleh para anak didik dengan jalan membawa mereka langsung ke objek yang terdapat di luar kelas atau dilingkungan kehidupan nyata, agar mereka dapat mengamati atau mengalami secara langsung. Metode karyawisata diterapkan antara lain terhadap objek yang akan dipelajari hanya terdapat di tempat tertentu. Selain itu, pengalaman langsung dapat membuat setiap anak didik lebih tertarik kepada pelajaran yang disajikan sehingga anak didik lebih ingin mendalami masalah yang diminati. Dengan metode ini para anak didik dapat mencari informasi dari objek yang dikunjungi dan memadukannya dengan buku-buku atau sumber lainnya. Metode ini juga dapat menumbuhkan rasa cinta kepada alam sekitar sebagai ciptaan Tuhan. Metode karyawisata berfungsi pula memberikan hiburan kepada anak didik kerena juga bersifat rekreatif.

Yang perlu diperhatikan dalam metode ini adalah guru harus benar-benar mempersiapkan perencanaan dengan matang. Guru atau bersama anak didik atau panitia harus mempersiapakan semua kebutuhan yang diperlukan seperti lembaran kerja untuk anak didik, mungkin alat dan bahan yang diperlukan, tata tertib di lapangan, surat-surat izin dari pihak yang berwajib, kemanan lokasi, transportasi, obat-obatan, pakaian lapangan dan sebagainya.

  1. Kelebihan Metode Karyawisata
    1. karyawisata dapat menerapkan prinsip pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) dengan memanfaatkan lingkungan nyata dalam pembelajaran,
    2. membuat bahan pelajaran di sekolah menjadi lebih hidup dan relevan dengan kenyataan dan kebutuhan yang ada di masyarakat,
    3. pembelajaran dapat lebih merangsang kreaktivitas anak didik, sehingga menjadi menarik,
    4. dapat meltih anak didik bagaimana cara berinteraksi dengan alam lingkungan,
    5. metode ini mengandung unsur rileks sehingga diminati anak didik,
    6. dapat mengumpulkan informasi dari sumber primer atau mungkin dapat pula mengumpulkan benda atau objek yang diperlukan dalam pembelajaran.


       

  2. Kekurangan metode karyawisata
    1. memerlukan persiapan yang matang dan melibatkan banyak pihak,
    2. memerlukan tempat dan objek yang harus sesuai dengan materi pelajaran,
    3. dalam karyawisata sering unsur rekreasi menjadi prioritas daripada tujuan utama, sedangkan unsur studinya terabaikan,
    4. memerlukan pengawasan yang ketat terhadap setiap gerak-gerik anak didik di lapangan,
    5. memerlukan biaya yang cukup mahal dan waktu yang cukup banyak,
    6. tanggungjawab guru dan sekolah yang cukup berat atas kelancaran karyawisata dan keselamatan anak didik, terutama karyawisata jangka panjang dan jauh.


     

    1. Metode Bermain Peran

Metode bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan dan penghayatan anak didik. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan oleh anak didik dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Dengan kegiatan memerankan ini akan membuat anak didik lebih meresapi perolehannya. Dalam pembelajaran biologi misalnya topik sintesis protein dapat diterapkan metode bermain peran. Dalam hal ini ada yang memainkan peran sebagai mRNA, ribosom, tRNA, asam amino dan sebagainya. Melalui metode ini dapat ikembangkan keterampilan mengamati, menarik kesimpulan, menerapkan, dan mengkomunikasikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan metode bermain peran, yaitu: (a) penentuan topik, (b) penentuan anggota pemeran, (c) pembuatan lembar kerja (kalau perlu), (d) latihan singkat dialog (kalau perlu), dan (e) pelaksanaan permainan peran.

Metode ini juga mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya di antaranya adalah dapat mengkonkritkan materi yang abstrak, terutama yang berhubungan dengan mekanisme atau proses yang terjadi dalam biologi. Kekurangannya di antaranya adalah tidak bisa melibatkan seluruhanak didik


 

  1. Metode Sosiodrama

Metode sosiodrama adalah cara mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk melakukan kegiatan memainkan peran terutama yang terdapat dalam kehidupan masyarakat (kehidupan sosial). Seperti metode bermain peran, dalam metode sosiodrama anak didik dibina agar tampil mendramatisasikan atau mengekspresikan sesuatu yang dihayati. Ketika sosiodrama berlangsung, penggunaan lembar pengamatan perlu diperhatikan untuk mengetahui pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Pada prinsipnya sosiodrama hampir sama dengan metode bermain peran, dalam pemakaiannya sering disilihgantikan. Metode ini juga mempunyai kelebihan dan kekurangan.

  1. Kelebihan Metode Sosiodrama
    1. dapat melatih inisiatif dan kreativitas anak didik,
    2. dapat melatih jiwa kooperatif,
    3. dapat melatih bahasa lisan anak didik menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami oarang lain.


       

  2. Kekurangan metode sosiodrama
    1. sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama menjadi kurang aktif,
    2. banyak memakan waktu, baik waktu persiapan maupun waktu palaksanaan pertunjukan
    3. kelas lain sering terganggu oleh suara para pemain dan penonton yang terkadang bertepuk tangan dan berprilaku lainnya.


 

3.12 Metode Proyek

Metode proyek adalah cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu masalah atau tugas, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan. Proyek merupakan kegiatan yang dapat dilaksanakan di dalam atau di luar kelas secra berkelompok atau individu. Proyek juga dapat berupa perancangan model-model yang menunjukkan bagaimana cara kerja suatu alat yang dirancang anak didik. Metode proyek merupakan suatu cara dalam pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menggunakan unit-unit kehidupan sehari-hari sebagai bahan pelajarannya.

Pembelajaran melalui metode proyek dilakukan dengan cara menghubungkan sebanyak mungkin fakta atau fenomena dengan pengetahuan yang telah diperoleh anak didik. Metode ini dapat memantapkan pengetahuan yang diperoleh anak didik,. menyalurkan minat, serta melatih anak didik menelaah suatu materi pelajaran dengan wawasan yang lebih luas.


 


 


 


 

a. Kelebihan metode proyek

  1. dapat merubah pola pikir anak didik dari yang sempit menjadi lebih luas dan menyeluruh dalam memandang dan memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan,
  2. anak didik dibina dengan membiasakan menerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan dengan terpadu, yang diharapkn secara praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari,
  3. melatih anak didik dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari


     

b. Kekurangan metode proyek

  1. organisasi bahan pelajaran, perencanaan dan pelaksanaan metode ini sukar dan memerlukan kahlian khusus dari guru,
  2. guru harus dapat memilih topik unit yang tepat sesuai kebutuhan anak didik, memerlukan cukup fasilitas, dan memiliki sumber-sumber belajar yang diperlukan,
  3. bahan pelajaran sering menjadi luas sehingga dapat mengaburkan pokok unit yang dibahas.


 

Ringkasan

Pendekatan dan metode pembelajaran sangat penting dikuasi oleh para guru untuk mencapai pembelajaran yang optimal. Materi yang sulit bisa menjadi mudah, materi yang kurang menarik bisa menjadi menarik bila guru mampu menggunakan pendekatan dan metode pembelajaran yang baik dan menyenangkan. Oleh karenanya, para guru haruslah berupaya merancang pendekatan dan metode pembelajaran yang baik dan menyenangkan dalam pembelajaran.

Pendekatan berbeda dengan metode dalam proses pembelajaran. Pendekatan (approach) lebih menekankan pada strategi dalam perencanaan, sedangkan metode (method) lebih menekankann pada teknik pelaksanaannya. Pendekatan bersifat aksiomatis yang menyatakan pendirian, orientasi, filosofis, dan keyakinan yang berkaitan dengan serangkaian asumsi. Sementara, metode lebih bersifat prosedural atau proses yang teratur. Dapat juga dikatakan bahwa metode merupakan jabaran dari pendekatan.

Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan tergantung kepada kondisi materi, anak didik, dan fasilitas dan lingkungan belajar. Sebuah pendekatan dan metode tidak bisa berlaku untuk seluruh materi, karena masing-masing pendekatan dan metode mempunyai kharakteristik dan persyaratan tertentu dalam hal kondisi materi, fasilitas, dan kondisi anak didik. Sebuah model pembelajaran dapat dirancang dari kombinasi dari suatu pendekatan dengan pendekatan yang lain, suatu metode dengan metode yang lain dan dari suatu pendekatan dengan suatu metode pembelajaran.


 

Perlatihan

Setelah mempelajari pokok bahasan ini kerjakanlah soal-soal berikut:

1) Jelaskan pengertian pendekatan pembelajaran,

  1. Jelaskan pengertian metode pembelajaran,
  2. Jelaskan hubungan antara pendekatan dan metode pembelajaran,
  3. Jelaskan kelebihan dan kekurangan masing-masing metode pembelajaran,
  4. Jelaskan pengertian macam-mcam pendekatan pembelajaran,
  5. Jelaskan pengertian mcam-macam metode pembelajaran,
  6. Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan menggunakan salah satu pendekatan,
  7. Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan menggunakan dua atau lebih pendekatan pembelajaran,
  8. Rancanglah sebuah model pembelajaran yang merupakan kombinasi pendekatan dengan metode pembelajaran.


 


 


 


 


 

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu yang terjadi akibat interaksi dengan lingkungan. Pembelajaran, merupakan hal membelajarkan—yang artinya mengacu kesegala daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan terjadinya peristiwa belajar di dalam diri orang tersebut. Dalam proses pembelajaran, komponen proses belajar memegang peranan yang sangat penting. Proses pembelajaran akan bermakna apabila terjadi kegiatan belajar anak didik. Oleh karena itu, guru sangat penting memahami teori belajar dan pembelajaran, agar dapat memberikan bimbingan kepada anak didik sebaik-baiknya.

Istilah pembelajaran, diperkenalkan sebagai pengganti istilah pengajaran, meskipun kedua istilah itu sering digunakan bergantian dengan arti yang sama dalam wacana pendidikan dan perkurikuluman. Dalam bahasa
Inggris hanya satu istilah untuk keduanya (pembelajaran dan pengajaran), yaitu INSTRUCTION (Munandir, 2001)

Sebelum kita membahas teori-teori belajar yang berkembang dewasa ini terlebih dahulu akan dibahas prinsip-prinsip belajar dan hasil belajar, teori-teori belajar yang dikembangkan sebelum abad ke 20 dan teori-teori belajar yang dikembangkan pada abad ke 20. Perkembangan teor-teori belajar ini banyak melibatkan penelitian. Teori-teori belajar yang diberikan ini belumlah secara keseluruhan mendalam tapi baru sekedar untuk memberikan informasi umum yang merupakan pandangan historis. Setelah mempelajari bab ini diharapkan Anda mampu:

1 ) menjelaskan pengertian belajar,

2) menjelaskan pengertian hasil belajar,

3) menjelaskan tiga macam teori belajar yang berkembang sbelum abad ke 20,

4) menjelaskan dua macam teori belajar yang berkembang pada aba ke 20,

5) menjelaskan teori belajar penemuan (discovery learning),

6) menjelaskan teori belajar bermakna (meaningful learning),

7) menjelaskan teori belajar menurut Gagne

8) menjelaskan teori Peaget tentang perkembangan intelektual anak

9) menjelaskan teori pembentukan dan pemahaman konsep

2.1 Pengertian Belajar, Hasil Belajar dan Teori Belajar

2.1.1 Pengetian belajar

Sebagian besar ahli pendidikan telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang belajar. Sering pula ditemukan rumusan itu berbeda satu sama lainnya sesuai dengan sisi pandang masing-masing. Pada uraian ini akan dikemukakan beberapa rumusan tentang belajar yang umum digunakan.

Pertama, belajar didefinisikan sebagai modifikasi atau peneguhan perilaku melalaui pengalaman (learning is defined as the modification or strenghening of behavior through experiencing). Berdasarkan pengertian ini, belajar bukan suatu hasil dan bukan pula suatu tujuan tetapi merupakan sutu proses atau suatu aktivitas. Belajar tidak hanya proses mengingat atau menghafal, tetapi lebih jauh dari itu, yakni proses mengalami sesuatu. Pengertian ini berbeda dengan pengertian lama yang menyatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan. Pengertian lama ini bukan salah tetapi belum sempurna. Kedua, belajar adalah suatu proses perubahan perilaku individu yang terjadi akibat interaksi dengan lingkungan. Pengertian ini menekanakan pada interaksi individu dengan lingkungannya. Ketiga, belajar merupakan perpaduan kedua pengertian di atas, yaitu merupakan suatu proses atau aktivitas individu dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya sehingga terjadi pengalaman belajar.


 

2.1.2 Hasil belajar

Setiap proses pembelajaran, keberhasilannya diukur dari seberapa jauh hasil belajar yang dicapai, di samping diukur dari segi prosesnya. Oleh karenanya, konsep hasil belajar penting dipahami. Menurut Burton (1952) hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap, apresiasi, kemampuan (ability), dan ketrampilan. Hasil belajar itu lambat laun dipersatukan menjadi kepribadian dengan kecepatan yang berbeda-beda. Hasil belajar yang telah dicapai bersifat kompleks dan dapat beradaptasi (adabtable) atau tidak sederhana dan tidak statis. Belajar, pembelajaran dan hasil belajar berkaitan erat dengan teori belajar. Bloom mengelomopkkan hasil belajar dalam tiga wilayah (domain) atau dikenal dengan taksonomi Bloom, yaitu: (1) ranah kognitif (pengetahuan), (2) ranah afektif (sikap), dan (3) ranah psikomotor (keterampilan).

2.2 Teori belajar sebelum abad ke-20

Ada tiga teori yang terkenal, yaitu: (1) teori disiplin mental, (2) teori pengembangan alamiah (natural unfoldment) atau self-actualization, dan (3) teori apersepsi. Ketiga teori ini mempunyai satu ciri yang sama, yaitu teori-teori ini dikembangkan tanpa dilandasi eksperimen. Ini berarti bahwa dasar orientasinya ialah filosofi atau spekulatif (Dahar, 1988)


 

a. Teori disiplin mental (Plato, Aristoteles)

Teori ini menganggap bahwa dalam belajar, mental siswa didisiplinkan atau dilatih. Guru melatih para siswa, dan setiap hari diberi tes, dan para siswa yang belum pandai harus kembali sesudah jam sekolah untuk dilatih lagi


 

  1. Teori perkembangan alamiah (natral unfoldment)

    Menurut teori ini, anak akan berkembang secara alamiah. Pengembang teori ini adalah: Jean J. Roussseau (1712-1778); ahli pendidik Swiss Heinrich Pestalozzi (1746-1827); ahli filsafat, pedidik dan penemu gerakan "Kindegarten" dari Jerman Friedrich Froebel (1782-1852). Teori ini berlawanan dengan teori disiplin mental.


 

  1. Teori apersepsi (Johan Friedrich Herbart (1776-1841)

    Menurut teori ini, belajar merupakan suatu proses terasosiasinya gagasan-gagasan baru dengan gagasan-gagasan lama yang sudah membentuk pikiran (mind). Teori ini berlawanan dengan teor disiplin mental dan teori alamiah.


 

  1. Teori-teori Belajar Abad ke-20

    Ada dua kelompok teori yang berkembang pda abad ke-20 ini, yaitu: (1) teori perilaku (behavioristik), yang berupa teori-teori stimulus-respons (S-R) conditionin, dan (2) teori-teori kognitif (kelompok Gestalt-field).

    1. Teori perilaku (behavioristik)

    Menurut teori ini, belajar merupakan suatu perubahan perilaku yang dapat diamati, terjadi melalui stimulus-respons menurut prinsip-prinsip mekanistik. Nama-nama yang berhubungan dengan teori ini ialah: Ivan Petrovich Pavlov
    (1849-1936) adalah ahli fisiologi dan farmakologi Rusia; E.L Thorndike; E.R.Guthrie; B.F. Skinner; R.M. Gagne; A. Bandura; dan beberapa yang lainnya.


 

  1. Teori kognitif (Gestalt-field)

Menurut teori ini, belajar merupakan suatu proses perolehan atau perubahan insait-insait (insights), pandangan-pandangan (outlooks), harapan-harapan, atau pola-pola pikir. Kelompok ini berpendapat bahwa konsep orang, lingkungan psikologi, dan interaksi lebih memudahkan para guru dalam memberikan proses belajar. Konsep-konsep ini memungkinkan guru untuk melihat seseorang, lingkungan, dan interkasi dengan lingkungannya, semuanya itu terjadi pada waktu yang sama; inilah artinya "field." Selanjutnya, menurut kelompok ini, bahwa perilaku yang tidak tampak atau yang tidak dapat diamati adalah mungkin untuk dipelajari dengan cara ilmiah, misalnya pikiran-pikiran (thoughts). Oleh karena kegiatan ini memusatkan diri pada menganalisa proses-proses kognitif, maka prinsip-prinsip dan kesimpulan-kesimpulan, mereka menyarankan teori ini disebut teori kognitif.


 

Bigge (1982) menyimpulkan perbedan kedua teori ini, yaitu: Pengikut teori perilaku menafsirkan belajar sebagai perubahan tentang kekuatan variabel-variabel hipotesis yang disebut hubungan stimulus-respons (S-R), asosiasi-asosiasi, kekuatan kebiasaan, atau kecenderungan perilaku. Sedangkan pengikut teori Gestalt-field (teori kognitif) mendefinisikan belajar sebagai reorganisasi perseptual atau "cognitive field" untuk memperoleh pemahaman.


 

  1. Teori belajar penemuan (Discovery learning) Teori Bruner (1915-…)

Pendekatan Bruner terhadap belajar didasarkan pada dua asumsi Rosser (1984): (1) Perolehan pengetahuan merupakan suatu proses interkatif. Berlawanan dengan teori perilaku, Bruner yakin bahwa orang yang belajar berinteraksi dengan lingkungannya secara aktif, perubahan tidak hanya terjadi di lingkungan, tetapi juga dalam diri orang itu sendiri. (2) orang mengkonstruksi pengetahuannya dengan menghubungkan informasi yang masuk dengan informasi yang disimpan yang diperoleh sebelumnya. Model Bruner ini mendekati sekali struktur kognitif Ausubel.

Belajar sebagai proses kognitif, Bruner (1973) mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses yang berlangsung hampir bersamaan, yaitu: (1) memperoleh informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan ketepatan pengetahuan.

Salah satu model instruksional kognitif yang sangat berpengaruh dari Burner (1966) dikenal dengan belajar penemuan (discovery learning). Bruner menganggap bahwa belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah, serta pengetahuan yang menyertainya, sehingga menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna.


 

  1. Teori belajar bermakna (meaningful learning): Teori David Ausubel (1968)

Belajar bermakna merupakan suatu proses dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep yang relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Proses interkatif antara materi yang baru dipelajari dengan subsumer-subsumer inilah yang menjadi inti teori belajar asimilasi
Ausubel. Proses ini disebut proses subsumsi.

Bila dalam struktur kognitif seseorang tidak terdapat konsep-konsep yang relevan atau subsumer-subsumer relevan, maka informasi baru dipelajari secara hafalan. Begitu pula bila tidak ada usaha dilakukan untuk mengasimilasikan pengetahuan baru pada konsep-konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognitif, akan terjadi belajar hafalan.

Peta konsep, Ausubel sangat menekankan agar para guru mengetahui konsep-konsep yang telah dimiliki para siswa supaya berlangsung belajar bermakna. Tetapi Ausubel belum menemukan suatu alat atau cara bagi para guru yang dapat digunakan untuk terjadinya belajar bermakna. Novak dan Gowin (1985) dengan bukunya "Learning how to learn" mengemukakan bahwa belajar bermakna dapat dilakukan dengan pertolongan peta konsep.


 

  1. Teori Gagne (1916-…)

1) Hasil belajar, Gane mengemukakan 5 (lima) macam hasil belajar: tiga diantarnya bersifat kognitif, satu bersifat afektif, dan satu lagi bersifat psikomotorik, yaitu: (1) keterampilan intelektual, (2) strategi kognitif, (3) sikap, (4) informasi verbal, (5) keterampilan motorik.


 

2) Kemampuan belajar, Gagne (1984, 1985) mengemukakan 5 kategori kemampuan belajar, yaitu:

  1. Informasi verbal
  2. Kemampuan intelektual, yang terdiri dari:
    1. Diskriminasi
    2. Konsep konkrit
    3. Konsep abstrak
    4. Kaidah
    5. Kaidah tingkat lebih tinggi
  3. Strategi kognitif
  4. Sikap
  5. Keterampilan motorik


 

  1. Tipe kondisi belajar, Gagne (1965) mengemukakan 8 tipe kondisi belajar
  1. Belajar tanda (signal learning)
  2. Belajar stimulus-response
  3. Merangkai (chaining)
  4. Belajar verbal Association
  5. Belajar multiple discrimination
  6. Belajar konsep
  7. Belajar prinsip
  8. Problem solving
    1. Teori Piaget

    1) Tiga aspek yang diteliti Piaget dalam perkembangan intelektual, yaitu: (1) struktur, (2) isi, dan (3) funfgsi.

    2) Tingkat-tingkat perkembangan intelektual, yaitu: (1) sensori-motor (0-2 th), (2) pra-operasional (2-7 th), (3) operasional konkrit (7-11 th), dan (4) operasi formal (11 th ke atas).


 

  1. Teori pembentukan dan pemahaman konsep (Degeng, 1989: 100-103)

1) Model Taba: Pembentukan konsep

Taba (1980) memperkenalkan strategi pengorganisasian pengajaran mikro, khusus untuk belajar konsep dengan pendekatan induktif. Strateginya terdiri dari 3 tahap: (1) pembentukan konsep, (2) interpretasi, dan (3) aplikasi prinsip


 

2) Model Bruner: peahaman konsep

Pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan mengkategori yang berbeda yang menuntut proses berpikir yang berbeda. Dalam pemahaman konsep, konsep-konsep sudah ada sebelunya, sedangkan dalam pembentukan konsep adalah sebaliknya, yaitu tindakan untuk membantuk kategori-kategori baru. Menurut Bruner (1980), kegiatan mengkategori meiliki dua komponen, yaitu: (1) tindakan membentuk konsep, (2) tindakan pemahaman konsep.


 

i. Teori elaborasi (Degeng, 1989: 114)

Teori elaborasi mempreskripsikan cara pengorganisasian pengajaran dengan mengikuti urutan umum ke khusus (rinci). Menurut Reigeluth dan Stein (1983) ada 7 komponen strategi yang diintegrasikan ke dalam teori elaborasi ini: (1) urutan elaborasi, (2) urutan prasyarat belajar, (3) rangkuman, (4) sintesis, (5) analogi, (6) pengaktif strategi kognitif, dan (7) kontrol belajar


 


 


 

Ringkasan

Belajar merupakan suatu proses atau aktivitas individu dalam bentuk interaksi dengan lingkungannya sehingga terjadi pengalaman belajar. Pembelajaran merupakan hal membelajarkan—yanng artinya mengacu kesegala daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan terjadinya peristiwa belajar di dalam diri orang tersebut. Hasil belajar merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap, apresiasi, kemampuan (ability), dan keterampilan. Ada tiga teori belajar yang terkenal sebelum abab ke-20, yaitu: (1) teori disiplin mental, (2) teori pengembangan alamiah (natural unfoldment) atau self-actualization, dan (3) teori apersepsi. Dan ada dua kelompok teori belajar yang berkembang pda abad ke-20 ini, yaitu: (1) teori perilaku (behavioristik), yang berupa teori-teori stimulus-respons (S-R) condition, dan (2) teori-teori kognitif (kelompok Gestalt-field).


 

Perlatihan

Setalah Anda mempelajari bab ini kerjakanlah latihan berikut:

1 ) Jelaskan pengertian belajar belajar!

2) Jelaskanlah pengertian hasil belajar!

3) Jelaskan tiga macam teori belajar yang berkembang sbelum abad ke 20!

4) Jelaskan dua macam teori belajar yang berkembang pada aba ke 20!

5) Jelaskan teori belajar penemuan (discovery learning)!

6) Jelaskan teori belajar bermakna (meaningful learning)!

7) Jelaskan teori belajar menurut Gagne!

8) Jelaskan teori Peaget tentang perkembangan intelektual anak!

9) Jelaskan teori pembentukan dan pemahaman konsep!