Dalam dunia pendidikan, paradigma lama mengenai proses belajar mengajar bersumber pada teori. Kita mengenal teori tabularasa John Locke. Dia mengatakan bahwa pikiran seorang anak didik mirip seperti kertas kosong yang putih bersih dan siap menerima coretan-coretan gurunya. Berdasarkan teori ini banyak guru melaksanakan proses belajar mengajar seperti berikut: (1) memindahkan pengetahuan dari guru ke siswa (transfer of knowledge), (2) seperti mengisi botol kosong dengan pengetahuan (seperti mencerek dan mencawan), (3) mengkotak-kotakan anak didik, (4) memacu anak didik dalam berkompetisi.
Kondisi dunia pendidikan sudah banyak berubah, sehingga tuntutan pembelajaran juga berubah. Oleh karena itu, paradigma pendidikan dan pembelajaran juga harus berubah sesuai dengan perkembangan sains dan teknologi serta tuntutan zaman. Beberapa teori dan pemikiran yang menggiring lahirnya paradigma baru tentang pendidikan dan pembelajaran telah muncul seperti: (1) pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh anak didik, (2) anak didik membangun pengetahuannya secara aktif, (3) pendidik bertugas mengembangkan kompetensi anak didik secara optimal, (4) pembelajaran terjadi melalui interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru, serta antara siswa dengan lingkungan. Berdasarkan paradigma baru pembelajaran maka muncullah berbagai model pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam bidangnya.
Sering muncul pertanyaan dari mahasiswa yang sedang belajar Strategi Belajar Mengajar tentang perbedaan makna antara pendekatan, metode dan model pembelajaran. Memang tidak banyak literatur membahas perpedaan itu secara tajam, bahkan sering juga istilah itu disilihgantikan penggunaanya, kadang kala dipakai istilah pendekatan, kadang kala dipakai istilah metode dan kadangkala dipakai pula istilah model pembelajaran. Namun, masih ada juga para ahli membedakannya dari istilah-istilah tersebut, terutama melihat kepada akar kata dari istilah tersebut. Perbedaan pendekatan dan metode sudah dibahas pada Bab Pendekatan dan Metode Pembelajaran. Di sini dicoba menjelaskan makna dari model pembelajaran.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994), model berarti pola (contoh, acuan, ragam,dan sebagainya). Sesungguhnya model yang dimaksudkan dalam pembelajaran juga sama atau hampir sama yang dikemukakan dalam KBI tersebut. Model pembelajaran, artinya pola atau contoh pembelajaran yang sudah didesain dengan menggunakan pendekatan atau metode atau strategi pembelajaran yang lain, serta dilengkapi dengan langkah-langkah (sintaks) dan perangkat pembelajarnnya. Suatu model pembelajaran mungkin terdiri dari satu atau beberapa pendekatan, satu atau beberapa metode, atau perpaduan antara pendekatan dengan metode. Seorang guru atau peneliti bisa saja merancang suatu model pembelajaran baru, atau memodifikasi model yang sudah ada, atau mengulangi model yang sudah ada. Beberapa model pembelajaran tersebut akan dibahas berikut ini.
Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharpakan Anda dapat:
- menjelaskan makna hakekat model pembelajaran,
- menjelaskan perbedaan antara pendekatan, metode dan model pembelajaran,
- menjelaskan makna atau hakekat pembelajaran kooperatif,
- mejelaskan perbedaan masing-masing tipe pembelajaran kooperatif yang dibahas pada pokok bahasan ini,
- merancang sebuah model pembelajaran kooperatif dengan memilih sebuah tipe dan topik yang sesuai,
- merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan STS dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
- merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
- merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan CTL dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
- merancang sebuah model pembelajaran dengan pendekatan problem solving dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
- merancang sebuah model pembelajaran berbasis masalah (PBI) dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
- merancang sebuah model pembelajaran langsung (DI) dengan memilih topik yang sesuai.
7.1 Model Pembelajaran Kooperatif
Semua model pembelajaran ditandai dengan adanya (1) struktur tugas, (2) struktur tujuan, dan (3) struktur penghargaan. Struktur tugas mengacu kepada dua hal yaitu cara pembelajaran diorganisasikan dan jenis kegiatan yang dilakukan oleh anak didik di dalam kelas. Struktur tujuan merupakan kadar saling ketergantungan anak didik pada saat mereka mengerjakan tugas. Ada tiga macam struktur tujuan: (1) individualistik, yaitu juka pencapaian tujuan itu tidak memerlukan intertaksi dengan orang lain; (2) kompetitif, yaitu anak didik hanya dapat mencapai suatu tujuan jika anak didik lain tidak dapat mencapai tujuan tersebut (misal seperti pertandingan sepak bola, satu group dikatakan sukses bila group yang lain gagal); dan (3) kooperatif, anak didik dapat mencapai tujuan hanya jika bekerjasama dengan anak didik lain. Struktur penghargaan (reward) merupakan penghargaan yang diperoleh anak didik atas prestasinya. Struktur penghargaan ini bervariasi tergantung jenis upaya yang dilakukan, seperti halnya struktur tujuan, yaitu penghargaan individualistik, kompetitif dan kooperatif.
Pembelajaran kooperatif bercirikan struktur tugas, tujuan dan penghargaan kooperatif. Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu bekerjasama, saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk mencapai suatu tujuan. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif yang lain adalah: (1) anak didik bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan bahan pelajaran, (2) kelompok dibentuk dari anak didik yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah, (3) bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, jenis kelamin berbeda, (4) penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
Roger dan David (1994) mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap cooperative learning. Ada lima unsur yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) saling ketergantungan positif, (2) tanggungjawab perorangan, (3) tatap muka, (4) komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok.
Terdapat beberapa variasi dari model pembelajaran kooperatif, namun prinsip dasar dari pembelajaran kooperatif tersebut tidak berubah. Beberapa variasi model pembelajaran tersebut adalah : (1) Student Teams Achievement Division (STAD), (2) Jigsaw,
(3) Group Investigation (GI), dan (4) Think-Pair-Sshare dan (5 Numbered-Head-Together. Masing-masing model
pembelajaran ini akan dijelaskan secara ringkas.
a. Studen Teams Achievement Division (STAD)
STAD dikembangkan oleh Slavin et al. (1994) di Universitas John Hopkins. STAD merupakan model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana. Langkah-langkahnya adalah:
- Setelah dilakukan pretest, siswa dibagi beberapa kelompok belajar yang beranggotakan 4-5 orang yang merupakan campuran berdasarkan prestasi, jenis kelamin, dan sebagainya.
- Guru menyajikan pelajaran atau presentasi verbal atau teks.
- Siswa bekerja dalam kelompok menggunakan lembaran kegiatan atau perangkat pembelajaran yang lain untuk menuntaskan menguasai materi dengan saling membantu.
- Dilakukan kuis untuk seluruh siswa, dalam kuis mereka bekerja masing-masing, diskor, dan setiap individu diberi skor perkembangan (dibandingkan dengan skor rata-rata pretest)
- Point tiap anggota dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok.
- Kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi penghargaan
b. Jigsaw
Jigsaw dikembangkan dan diujicobakan oleh Aronson et al. (1978) di Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slavin et al. Di Universitas John Hopkins. Langkah-langkahnya adalah:
- Anak didik dibagi atas beberapa kelompok, tiap kelompok berjumlah 4 anggota yang heterogen
- Guru memberikan bahan pelajaran yang akan dibahas kepada setiap kelompok. Guru melakukan brainstorming untuk mengaktifkan skemata anak didik sehingga lebih siap menghadapi pembelajaran
- Setiap anggota bertanggung jawab mempelajari bagian tertentu atau yang ditugaskan. Misalnya materi yang akan dibahas adalah alat ekskresi (meliputi: ginjal, hati, paru-paru, dan kulit)
- Anggota pertama mempelajari ginjal, anggota yang kedua mempelajari hati, anggota ketiga mempelajari paru-paru, dan anggota kempat mempelajari kulit dari setiap kelompok.
- Setiap anggota kelompok yang mendapat tugas yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Dengan demikian terdapt kelompok ahli: ginjal, hati, paru-paru, dan ahli kulit.
- Setiap anggota kelompok ahli ini kembali bergabung dengan kelompok asal dan mengajarkan topik yang telah dipelajarinya di kelompok ahli kepada anggota kelompok aslinya secara bergantian.
- Guru memberikan kuis secara individu tentang seluruh topik yang sudah dibahas.
- Point tiap anggota dijumlahkan untuk mendapatkan skor kelompok.
- Kelompok yang mencapai kriteria tertentu dapat diberi penghargaan
c. Group Investigation (GI)
Model pembelajaran ini dirancang pertama kali oleh Thelan dan dikembangkan oleh Sharan et al. (1984)
dari Universitas Tel Aviv. Dalam penerapan GI ini, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota 5- orang yang heterogen. Langkah-langkah yang dikembangkan Sharan adalah:
- Pemilhan topik. Anak didik disuruh memilih subtopik khusus dalamm bidang tertentu yang sudah ditetapkan guru.
- Perencanaan Kooperatif. Guru bersama anak didik merencanakan prosedur pembelajaran, tugas, dan tujuan khusus untuk subtopik yang telah dipilih.
- Implemntasi. Anak didik menerapkan rencana yang telah dibuat pada tahap kedua. Guru berperan sebagai pembimbing atau fasilitator.
- Analisisdan Sintesis Anak didik menganalisis, mensintesis informasi yang diperoleh pada tahap ketiga, dipersiapkan untuk presentasikan secara menarik di kelas.
- Presentasi Hasil Final. Beberapa atau semua kelompok menyajikan hasil bahasannya dalam diskusi kelas.
- Evaluasi. Guru bersama anak didik mengevaluasi kontribusi kelompok terhadap kerja kelas secara keseluruahan yang membahas aspek yang berbeda dari topik yang sama. Evaluasi dapat berupa penilaian individu atau kelompok.
d. Think-Pair-Share
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Lyman et al. (1985) dari Universitas Marylan. Langkah-langkahnya adalah:
- Thinking. Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran, kemudian anak didik diminta untuk memikirkan pertanyaan atau isu tersebut secara mandiri untuk beberapa saat
- Pairing. Guru meminta anak didik berpasangan dengan temannya untuk mendiskusikan sekitar 4-5 menit apa yang telah dipikirkannya pada tahap pertama.
Sharing. Guru meminta kepada pasangan untuk berbagi ide, informasi, pengetahuan atau pemahaman dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini dilakukan secara bergiliran pasangan demi pasangan sampai sekitar 25% pasangan mendapat kesempatan.
e. Numbered-Head-Together
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Kagen (1993). Langkah-langkahnya adalah:
- Penomoran. Guru membagi anak didik menjadi beberapa kelompok dengan jumlah anggota kelompok 3-5 orang, dan setiap anggota kelompok diberi nomor 1 sampai 5.
- Mengajukan pertanyaan. Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang akan dibahas. Miasalnya "Apa yang dimaksud dengan cell
cloning?, "Apa contohnya cell cloning?, "Bagaimana mekanisme cell cloning?"
- Berpikir Bersama. Para
anak didik setiap kelompok menyatukan pendapatnya tentang pertanyaan yang diajukan guru.
- Menjawab. Guru memanggil satu nomor tertentu, kemudian anak didik yang nomornya sama mengancungkan tangannya dan mencoba untuk menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.
7.2 Model Pembelajaran dengan Pendekatan Science Technology and Society
Pendekatan STM merupakan gabungan antara pendekatan konsep, pendekatan keterampilan proses, pendekatan CBSA, pendekatan inkuiri dan diskoveri, serta pendekatan lingkungan (Susilo1999). Pendekatan STM berangkat dari isu-isu yang berkembang di masyarakat akibat dampak kemajuan sains dan teknlogi. Filosofi yang mendasari pendekatan STM adalah filosofi konstruktivisme, yaitu siswa menyusun sendiri konsep-konsep di dalam struktur kognitifnya berdasarkan apa yang telah mereka ketahui sebelumnya. Ada enam (6) ranah yang dikembangkan melalui STM, yaitu: (1) konsep, (2) proses, (3) kreativitas, (4) sikap dan nilai, (5) penerapan, dan (6) hubungan atau keterkaitan (Yager, 1992).
Berikut ini ditampilkan tahapan (sintaks) pembelajaran STS yang mengacu kepada model konstruktivistik yang dikembangkan Yager (1992).
Tabel Sintaks pembelajaran STS
Tahap | Kegiatan Guru | Kegiatan Siswa |
1. Invitasi | Memberikan pertanyaan mengenai fenomena, permasalahan biologi yang relevan untuk merangsang rasa ingin tahu dan minat anak didik, untuk mengetahui hal-hal yang sudah diketahui anak didik | Anak didik memberi respon secara individual atau kelompok dan mengajukan suatu masalah atau gagasan yang akan dibahas |
2. Eksplorasi | Memberikan tugas agar anak didik mendapat informasi yang cukup melaui membaca, observasi, wawancara, diskusi, mengerjakan LKS dan sebaginya | Mencari informasi dan data dengan membaca, observasi, wawancara, berdiskusi, merancang eksperimen, menganalisis data |
3.Eksplanasi dan Pemecahan | Memberikan tugas untuk membuat laporan dan mempresentasikan hasil penyelidikan atau ekperimen secara ringkas | Membuat laporan hasil penyelidikan, membuat kesimpulan dan mempresentasikan hasil |
4. Tindak lanjut | Memberikan penjelasan mengenai tindakan yang akan diajukan berdasarkan hasil penyelidikan | Memberikan solusi pemecahan masalah atau membuat keputusan dan memberikan ide |
7.3 Model Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivistik
Pendekatan pembelajaran konstruktivistik pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Sebagian besar waktu proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Pada dasarnya anak didik tidak membawa kepala kosong ke sekolah, tapi niscalayalah mereka sudah memiliki pengetahuan atau konsep tentang sesuatu berdasarkan pengalaman mereka dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin mereka sudah melihat, mendengar, membaca, mengamati suatu hal, sehingga berdasarkan penglihatan, pendenagaran, pembacaan, pengalaman itu mereka sudah punya konsep tentang hal itu. Misalnya mereka sudah mendengar atau membaca istilah cloning. Cuma kita belum tahu sampai dimana kebenaran konsep yang mereka miliki. Dengan pembelajaran konstruktivistik, anak didik secara aktif mencoba membangun sendiri konsep atau pengetahuan itu secara bertahap, mungkin dengan bertanya kepada guru, berdiskusi dengan teman, atau mebaca buku sehingga anak menemukan konsep yang benar atau hampir benar berdasarkan konsep yang sudah dimilikinya.
Ciri-ciri pembelajaran konstruktivistik vs pembelajaran tradisional (Johnston, 1999) adalah seperti berikut.
Pengajaran Tradisional | Pembelajaran Konstruktivistik |
1) 1. Berfokus pada efisiensi | 1. Berfokus pada pembelajaran secara mendalam dengan pengalaman yang relevan |
2. Pendekatan utama belajar hafalan | 2. Menuntut keterlibatan siswa secara penuh danaktif belajar |
3. Keterampilan diajarkan secara berurutan | 3. Ketrampilan dikembangkan dalam kegiatan belajar yang relevan |
4. Materi pembelajaran diajarkan dengan urutan logis | 4. Materi pebelajaran terintegrasi, harus digunakan dan sdisusun sendiri oleh siswa |
Berdasarkan konsep dan ciri-ciri konstruktivistik ini maka diharapkan Anda dapat merancang sebuah model pembelajaran konstruktivistik.
7.4 Model Pembelajaran dengan Pendekatan ContextualTteaching and Learning
7.4. 1 Konsepsi CTL
CTL merupakan suatu konsepsi yang membantu guru mengkaitkan konten mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga, warganegara, dan tenaga kerja (U.S. Department of Education and the National School-to-Work Office yang dikutip oleh Blanchard, 2001)
CTL menekankan pada berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan lintas disiplin akademik, dan pengumpulan, penganalisisan, pensintesisan informasi dan data dari berbagai sumber titik pandang (viewpoints) (University of Washington College of Education. 2001).
- Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang terkait erat dengan pengalaman nyata (http://www.stw.ed.gov/factsht/bull0996.htm).
- Pembelajaran kontekstual berakar pada pendekatan konstruktivis (Brown,1998;Dirkx, Amey, and Haston 1999 dalam Imel, 2000).
- Pada pembelajaran kontekstual, anak didik benar-benar di awali dengan pengetahuan, pengalaman, dan konteks keseharian yang mereka miliki yang dikaitkan dengan konsep mata pelajaran yang dipelajari di kelas, dan selanjutnya dimungkinkan untuk mengimplementasikan dalam kehidup keseharian mereka.
- Ungkapan yang tepat untuk ini adalah: Bawalah mereka dari dunia mereka ke dunia kita, kemudian hantarkan mereka dari dunia kita ke dunia mereka kembali.
- Pembelajaran kontekstual mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
- Menekankan pada problem solving
- Mengenal bahwa pengajaran dan pembelajaran perlu terjadi pada berbagai konteks
- Membantu para siswa dalam belajar bagaimana memonitor belajar mereka sindiri sehingga mereka dapat menjadi para pelajar yang teratur sendiri (self-regulated learners)
- Mengaitkan mengajaran di dalam berbagai konteks kehidupan siswa
- Mendorong para siswa belajar satu sama lainnya (belajar bersama)
- Menggunakan penilaian autentik
- Elemen-elemen kunci CTL
a. Menurut University of Washington (2001)
- Pembelajaran bermakna
- Penerapan pengetahuan
- Berfikir tingkat tinggi
- Kurikulum berdasarkan standar
- Responsif terhadap budaya
- Penilaian autentik
b. Menurut Depdiknas (2002)
- Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning)
- Pembelajaran autentik (Authentic Instruction)
- Belajar berbasis inquiri (InquryBased Learning)
- Belajar berbasis proyek (Project-Based Learning)
- Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning)
- Belajar jasa-layanan (Service Learning)
- Belajar kooperatif (Cooperative Learning)
7.4.2 CTL dan Teori Pembelajaran Konstruktivis
Pendekatan pembelajaran konstruktivis pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran. Sebagian besar waktu proses pembelajaran berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Inquiry-Based Learning dan Problem-Based Learning yang ditekankan pada pendekatan konstruktivis juga disebut sebagai strategi CTL.
7.4.3 Tujuh (7) komponen Pendekatan CTL
- Konstrktivisme (Constructivism)
- Pengetahuan dibangun sendiri oleh pebelajar sedikit demi sedikit melalui pengalaman nyata
- Dalam pandangan konstruktivis, strategi memperoleh lebih utama dibanding dengan seberapa banyak pebelajar memperoleh dan mengingat pengetahuan
- Pada dasarnya kita sudah menerapkan filosofi ini ketika kita: menerapkan pembelajaran dalam bentuk pebelajar bekerja, praktek mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, mendemonstrasikan, menciptakan ide, dan sebagainya
- Menemukan (Inquiry)
Kata kunnci dari pendekatan inquiri adalah pebelajar menemukan sendiri. Siklus inquiri adalah sebagai berikut:
- Observasi (Observation)
- Bertanya (Questioning)
- Mengajukan Jawaban sementara (Hypothesis)
- Mengumpulkan data (Data gathering)
- Penyimpulan (Conclussion)
- Observasi (Observation)
- Bertanya (Questioning)
Bertanya merupakan bagian penting dalam menerapkan pembelajaran berbasis inquiri. Bertanya dapat diterapkan antara pebelajar dengan pebelajar, antara guru dengan pebelajar, antara pebelajar dengan guru, antara pebelajar dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
- Masyarakat Belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar bisa terbentuk bila komunikasi dalam pembelajaran terjadi dalam bentuk dua dan banyak arah
- Pemodelan (Modeling)
Model berupa cara atau mekanisme sesuatu, berupa karya atau benda, sehingga dapat ditiru pebelajar. Model dapat dari guru, dari pebelajar dan dari orang lain
- Refleksi (Reflection)
- Refleksi merupakan cara berpikir (merenung) tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu
- Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima
- Penilaian autentik (Authentic Assessment)
Kharakteristik authentic assessmen adalah:
- Dilaksanakan selama dan sesudah pembelajaran berlangsung
- Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif
- Yang dinilai keterampilan dan penampilan, bukan mengingat fakta
- Berkesinambungan
- Terintegrasi
- Dapat digunakan sebagai feed back
Contoh kegiatan yang dapat dinilai adalah: proyek/kegiatan dan laporan, PR, kuis, karya siswa, presentasi, demonstrasi, jurnal, portofolio, hasil tertulis, karya tulis.
- Kaitan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan CTL
Dari isi kompetensi dan penilaian yang digunakan dalam KBK ternyata sejalan dengan apa yang ada pada CTL. Oleh karena itu, pendekatan CTL ini kelihatannya sangat cocok, bahkan sangat menunjang pelaksanaan KBK.
Sebagai salah satu komponen KBK adalah penilaian berbasis sekolah (PBK) dengan prinsip:
- Penilaian berkelanjutan (ongoing assessment)
- Pengumpulan kerja pebelajar (portfolio)
- Hasil karya (product)
- Penugasan (project)
- Kinerja (performance)
- Tes tertulis (paper and pen)
7.5 Model Pembelajaran dengan Pendekatan Problem Solving
Model pembelajaran problem solving ini termasuk model pembelajaran yang sudah tua, tapi sampai sekarang masih termasuk model pembelajaran yang sangat penting atau sangat dianjurkan digunakan dalam pembelajaran. Karena sudah hasil banyak penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran problem solving ini dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi anak didik. Sudah banyak variasi pola pembelajaran problem solving ini ditemukan dari berbagai literatur. Berikut ini akan disajikan berbagai pola proses atau tahapan problem solving yang dikemukakan oleh berbagai pakar.
7.5.1 Proses ideal Problem Solving menurut Bransford & Stein (1984 dalam Marzano et al.,1988)
- Identifikasi masalah (Identifying the problem = I)
- Mendefinisikan masalah (Defining the problem = D)
- Mengeksplorasi strategi-strategi (Exploring strategies = E)
- Mengemukakan ide-ide (Acting on ideas = A)
- Mencari pengaruhnya (Looking for the effects)
7.5.2 Tahapan proses pronlem solving menurut Wisconsin dalam Mc Intosh, 1995):
1) Pengajuan masalah (problem posing)
2) Pendekatan masalah (problem approach)
3) Solusi masalah (problem solution)
4) Komunikasi (communication)
7.5.3 Skema problem Solving ( menurut Karl R. Popper disadur oleh Taryadi, 1989)
1) Problem awal (P1)
2) Solusi tentatif (tentative solution = TS)
3) Error elimination (EE) atau evaluasi dengan tujuan menemukan dan membuang masalah
4) Situasi yang diakibatkan oleh adanya evaluasi kritis atau solusi tentatif terhadap problem awal, sehingga timbul problem baru (P2)
7.5.4 Proses pemecahan masalah secara ilmiah menurut Tek (1998)
1) Menemukan masalah yang butuh pemecahan
2) Mendefinisikan masalah
3) Meneliti kemungkinan solusi atau membuat rancangan gambar atau rancangan suatu penelitian
4) Mempertimbangkan sejumlah solusi atau memilih solusi yang menjanjikan
5) Mengujicoba atau membuat alat.
7.5.5 Ururtan Strategi berpikir (mis. Problem Solving) menurut Beyer (1988 dalam Zeidler et al., 1992)
- Mengenal masalah
- Menggambarkan (represent) masalah
- Memilih (devise/choose) rencana solusi
- Melaksanakan rencana (execute the plan)
- Mengevaluasi solusi
7.5.6 Tahap-tahap Problem Solving menurut Philippine Education Quarterly (1994)
1) Mengenal masalah (recognize a problem)
2) Menggambarkan masalah (represent the problem)
3) Memilih/menemukan rencana solusi (devise/choose solution plan)
4) Melaksanakan rencan (execute the plan)
5) Mengevaluasi solusi (evaluate the solution)
7.5.7 Tahapan Problem Solving menurut Gagne (1985)
1) Penyajian masalah (presentation of the problem), dapat dinyatakan dalam pernyataan verbal atau beberapa sarana (means) yang lain
2) Mendefinisikan masalah, atau membedakan sifat-sifat esensial (essential features) dari situasi
3) Memformulasikan hipotesis, yang dapat diaplikasikan terhadap solusi
4) Pengujian hipotesis (verification of the hypotesis), atau dilakukan secara berturut-turut (successive) sampai menemukan jawaban yang mencapai solusi.
7.5.8 Proses Problem Solving menurut UNESCO (1986)
1) Indentification of problem (preparation phase)
2) Analysis of problem (limiting phase)
3) Selection of hypothesis (productive phase)
4) Planning investigation (operative phase)
5) Carrying out investigation (active phase)
- Drawing conclusion (critical phase)
7.5.9. Tahapan Problem Solving menurut Dewey (1910; 1933 dalam Glover & Bruning, 1990)
- Presentation of the problem
- Problem definition
- Development of hypothesis
- Testing hypotesis
- Selection of the best hypothesis
5.10 Tahapan Problem Solving dalam Biologi Perkembangan Hewan menurut Lufri, (2003)
- Memahami masalah
- Merumuskan masalah (dalam bentuk kalimat tanya dan kalimat perintah)
- Mengajukan beberapa alternatif pemecahan atau solusi masalah
- Memilih solusi yang paling tepat dan menguraikan rasionalnya sehingga masalah dapat dipecahkan
Contoh: Problem Solving dalam Biologi Perkembangan Hewan
1. Masalah
Semua sel tubuh kita mengandung gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi hanya sel darah merah yang mengandung protein hemoglobin. Sebagai contoh, sel otot dan sel saraf juga mempunyai gen yang mengkode protein hemoglobin, tetapi tidak ditemukan protein hemoglobin.
2. Rumusan Masalah
Kenapa protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel otot dan sel saraf?
3. Beberapa alternatif kemungkinan pemecahan masalah
Protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot mungkin karena:
- Gen hemoglobin mengalami mutasi pada sel saraf dan sel otot
- Tidak terdapat asam amino penyusun protein hemoglobin di dalam sel saraf dan sel otot
- Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch of) pada sel saraf dan sel otot
4. Pemecahan yang dianggap paling tepat adalah:
- Gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch of) pada sel saraf dan sel otot
Penjelasan
Teori menyatakan bahwa sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi, gen-gennya hanya akan mengkode protein yang dibutuhkan oleh sel-sel/ jaringan/ organ di tempat sel-sel itu berada. Diketahui bahwa sel saraf dan sel otot merupakan sel-sel yang sudah mengalami diferensiasi dan spesialisasi atau dengan kata lain, gen-gen yang mengkode protein hemoglobin tidak aktif (switch off) pada sel saraf dan sel otot. Oleh karena itu, protein hemoglobin tidak ditemukan pada sel saraf dan sel otot.
7. 5.11 Tahapan Problem Solving secara heuristic menurut Krulik dan Rudnick (1996)
- Membaca dan berpikir (read and think)
- Menyelidiki dan merencanakan (explore and plan)
- Memilih suatu strategi (select a strategy)
- Menemukan suatu jawaban (find an answher)
- Mengambarkan dan menyampaikan (reflect and extend)
- Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Di sini dikemukakan dua model tahapan (sintaks) pembelajaran berbasis masalah:
7.6.1 Menurut Greenwald (2000) ada sepuluh (10) tahapan Problem- Based Learning (PBL) atau Problem- Based Instruction (PBI):
- Menemukan sebuah masalah yang didefinisikan sebagai suatu hal yang kabur (Encounter an ill-defined problem)
- Meminta para anak didik mengajukan pertanyaan tentang minat yang menimbulkan teka teki (Have students ask questions about what is interesting , puzzling, or important to find out (IPF question)
- Mengejar atau mengikuti temuan masalah (Pursue problem finding)
- Memetakan temuan dan memprioritaskan sebuah masalah (Map problem finding and prioritize a problem)
- Meneliti masalah (Investigate the problem)
- Menganalisis hasil-hasil (Analize results)
- Mengulangi pernyataan pembelajaran atau menyajikan apa yang telah mereka lakukan (Reiterate learning)
- Menghasilkan solusi dan rekomendasi (Generate solutions and recommendations)
- Mengkomunikasikan hasil-hasil (Communicate the results)
- Melakukan penilaian sendiri. (Conduct self-assessment)
- Menemukan sebuah masalah yang didefinisikan sebagai suatu hal yang kabur (Encounter an ill-defined problem)
7. 6.2 Sintaks PBI yang dikemukakan oleh Ibrahim dan Nur (2000)
Tabel 2. Sintas Pembelajaran Berbasis Masalah
Tahap | Aktivitas Guru |
1. Orientasi anak didik kepada masalah | Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan peralatan yang diperlukan, memotivasi anak didik terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. |
2. Mengorganisasi anak didik untuk belajar | Guru membantu anak didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut |
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok | Guru mendorong anak didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah |
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya | Guru membantu anak didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, vidio, dan model, dan membantu mereka berbgi tugas dengan temannya |
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah | Guru membantu anak didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses- proses yang mereka gunakan |
(Dikutip dari: Ibrahim dan Nur, 2000)
7.7 Model Pembelajaran Langsung
Pembelajaran langsung atau direct intruction (DI) mempunyai ciri sebagai berikut: (1) adanya tujuan pembelajaran, (2) adanya pengaruh model terhadap siswa, (3) adanya prosedur penilaian hasil belajar, (4) adanya sintaks atau pola keseluruhan dan alur kegiatan pembelajaran, (5) adanya sistem pengelolaan dan lingkungan belajar.
Istilah lain yang juga sering digunakan untuk model pembelajaran lngsung ini ialah Pengajaran Aktif (Good & Grows, 1985), Mastery Teaching (Hunter, 1982), dan Explicit Instruction (Rosenshine & Stevens, 1986). Di samping itu, metode yang berhubungan erat dengan model ini adalah metode kuliah/ceramah dan resitasi (Kardi dan Nur, 2000).
Pembelajaran langsung mempunyai 5 fase seperti Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Sintaks Model Pembelajaran Langsung
Fase | Peran Guru |
1. Menyampikan tujuan dan mempersiapkan siswa | Guru menjelaskan TPK, informasi latar belakang pelajaran, pentingnya pelajaran, mempersiapkan siswa untuk belajar |
2. Mendemonstrasikan pengetahuan atau keterampilan | Guru mendemonstrasikan keterampilan dengan benar, atau menyajikan informasi tahap demi tahap |
3. Membimbing pelatihan | Guru merencanakan dan memberi bimbingan pelatihan awal |
4. Mengecek pemahaman dan memberikan umpan balik | Mencek apakah siswa telah berhasil melakukan tugas dengan baik, memberi umpan balik |
5. Memberikan kesempatan untuk pelatiahn lanjutan dan penerapan | Guru memperiapkan kesempatan melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi yang lebih kompleks dan kehidupan sehari-hari. |
(Dikutip dari: Kardi dan Nur, 2000)
Ringkasan
Sesungguhnya model yang dimaksudkan dalam pembelajaran adalah suatu pola atau contoh pembelajaran yang sudah didesain dengan menggunakan pendekatan atau metode atau strategi pembelajaran yang lain, serta dilengkapi dengan langkah-langkah (sintaks) dan perangkat pembelajarnnya. Suatu model pembelajaran mungkin terdiri dari satu atau beberapa pendekatan, satu atau beberapa metode, atau perpaduan antara pendekatan dengan metode. Bila dibandingkan antara model dengan pendekatan dan metode pembelajaran, model pembelajaran lebih bersifat operasioanl, artinya model siap untuk diimplementasikan karena sudah jelas langkah-langkahnya (sintaks)nya serta perangkat pembelajaran yang digunakan. Pendekatan dan metode dapat berada (include) dalam model pembelajaran.
Perlatihan
Setelah Anada mepelajari pokok bahasan ini, kerjakanlah soal-soal berikut!
1) Jelaskan makna atau hakekat model pembelajaran,
2) Jelaskan perbedaan antara pendekatan, metode dan model pembelajaran,
3) Jelaskan makna atau hakekat pembelajaran kooperatif,
4) Jelaskan perbedaan masing-masing tipe pembelajaran kooperatif yang dibahas pada pokok bahasan ini,
5) Rancanglah sebuah model pembelajaran kooperatif dengan memilih sebuah tipe dan topik yang sesuai,
6) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan STS dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
7) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
8) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan CTL dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
9) Rancanglah sebuah model pembelajaran dengan pendekatan problem solving dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
10) Rancanglah sebuah model pembelajaran berbasis masalah (PBI) dengan memilih sebuah topik yang sesuai,
11) Rancanglah sebuah model pembelajaran langsung (DI) dengan memilih topik yang sesuai.
No comments:
Post a Comment