Ashanti - Baby

Free Music Online
Free Music Online

free music at divine-music.info

Friday, December 2, 2011


 


 


 


 

Tugas dan tanggung jawab guru menjadi sangat penting dalam pendidikan. Arti penting itu bertolak dari peran, tugas dan tanggung jawab guru yang sangat berat yakni mencerdaskan anak didiknya. Berdasarkan kerangka perpikir yang demikian menuntut seorang guru untuk melengkapi dirinya dengan berbagai keterampilan dasar yang diharapkan dapat membantu dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik sebaik-baiknya. Keterampilan dasar yang diperlukan dalam pembelajaran mutlak dimilki guru. Dengan keterampilan dasar yang dimiliki guru ini diharapkan pembelajaran dapat dioptimalkan, sehingga anak didik juga belajar secara optimal.

Kemudian, sesuai dengan kemajuan dalam bidang sains dan teknologi, budaya, serta bidang pendidikan maka menuntut strategi belajar mengajar mengarah ke paradigma baru pendidikan. Pada paradigma baru pendidikan, orientasi strategi belajar mengajar adalah studen center, artinya anak didik menjadi pusat pembelajaran dan active learning, artinya
anak didik
belajar secara aktif menemukan pengetahuan sendiri. Istilah pengajaran (intruction) sering disebut pembelajaran. Pada paradigma lama, posisi guru adalah sebagai pemberi atau aktif menyampaikan atau memindahkan ilmu kepada anak didik yang dikenal dengan transfer of knowledge. Pada paradigma baru, posisi guru lebih dominan sebagai pembimbing, pendidik, pelatih, pengarah, dan fasilitator dalam pembelajaran untuk pengembangan kompetensi (development of competence) anak didik. Oleh karena itu, keterampilan dasar mengajar yang telah disusun oleh Tim P3G (1985) diharpakan dapat disesuaikan atau dikembangkan menurut kebutuhan kompetensi guru masa depan.

Keterampilan dasar pembelajaran telah dikembangkan dan disusun oleh Tim Pengembangan Program Pengalaman Lapangan Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G) yang dituangkan dalam Perangkat Panduan Pengajaran Mikro 1 – 8 (1985). Perangkat Panduan Pengajaran Mikro yang dikembangkan ini diadopsi oleh Tim P3G dari perangkat Sydney Micro Skill berupa Handbook Series 1-5, yang ditulis oleh C. Turney et al. (1973), dan diterbitkan oleh Sydney University Press. Keterampilan-keerampilan dasar tersebut adalah: (1) keterampilan bertanya (dasar dan lanjut), (2) keterampilan memberi penguatan, (3) keterampilan mengadakan variasi, (4) keterampilan menjelaskan, (5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (6) keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan mengelola kelas dan (8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Kemudian, pada kesempatan ini, sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan sekarang dan masa depan, penulis mengusulkan dua lagi keterampilan, yaitu (9) keterampilan mengembangkan dan menggunakan media pembelajaran, (10) keterampilan mengembangkan Emotional Spiritual Quotiont (ESQ) dan skill.

Setelah mempelajari pokok bahasan ini diharapkan Anda dapat:

1) menguasai dan menerapkan keterampilan bertanya (dasar dan lanjut),

2) menguasai dan menerapkan keerampilan memberi penguatan,

3) menguasai dan menerapkan keterampilan mengadakan variasi,

4) menguasai dan menerapkan keterampilan menjelaskan,

5) menguasaai dan menerapkan ketrampilan membuka dan menutup pelajaran,

6) menguasai dan menerapkan keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil,

7) menguasai dan menerapkan ketrampilan mengelola kelas,

8) menguasai dan menerapkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan,

9) menguasai dan menerapkan keterampilan mengembangkan dan menggunakan media,

10) menguasai dan menerapkan keterampilan mengembangkan Emotional Spiritual Quotiont (ESQ) dan skill.


 

6.1 Keterampilan Bertanya

Keterampilan bertanya sangat penting dalam proses pembelajaran. Misalnya untuk memusatkan perhatian awal anak didik dalam pembukaan pembelajaran, sering guru menggunakan keterampilan bertanya. Tanpa menggunakan keterampilan bertanya dalam pembelajaran dapat menyebabkan kelas akan menjadi pasif. Dengan bertanya akan merangsang anak didik aktif berpikir dan merangsang mereka belajar dengan teman-temanya, atau dapat mengembangkan keterampilan kognitif tingkat tinggi anak didik. Dengan demikian, tampaklah bagi kita bahwa bertanya itu penting dalam pembelajaran. Oleh karena itu, maka guru perlu menguasia teknik bertanya.

Guru mengetahui dan menyusun sejumlah pertanyaan yang secara logis dan relevan diajukan kepada anak di dalam kelas. Keterampilan guru bertanya dan memilih materi yang ditanyakan sangat diperlukan bagi guru di dalam pembalajaran.. Misalnya pertanyaan yang diajukan guru harus ringkas dan jelas, sehingga maksud pertanyaan tersebut mudah datangkap atau dipahami anak didik..

Di samping itu, pemberian waktu ( pausing ) untuk perpikir setelah guru bertanya merupakan faktor yang penting. Pemberian waktu ini akan memberikan manfaat di antaranya anak didik yang merespon bisa bertambah, banyak pikiran muncul, anak didik mulai berinteraksi antara satu dan yang lainnya. Bila guru bertanya dan anak didik tidak dapat menjawab, kemudian pertanyaan tersebut diarahkan kepada anak didik lain, atau dengan kata lain guru telah mempergilirkan pertanyaan. Mempergilirkan pertanyaan bermanfaat untuk mengurangi campur tangan guru, mengurangi pembicaraan guru yang tidak perlu, meningktkan jumlah anak didik yang aktif dalam pembelajaran.

Keterampilan bertanya dibedakan atas keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan. Keterampilan bertanya dasar merupakan keterampilan bertanya yang mengarahkan berpikir atau kognisi anak pada tingkat dasar, seperti pertanyaan untuk mencek hafalan dan pemahaman, dengan pertanyaan yang sederhana dan tidak terlalu sulit. Keterampilan bertanya dasar mempunyai beberapa komponen dasar yang perlu diterapkan dalam mengajukan pertanyaan. Komponen-komponen keterampilan bertanya dasar tersebut meliputi:

(1) pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat,

(2) pemberian acuan (untuk mengarahkan pikiran anak didik terhadap topik yang sedang dibahas),

(3) pemusatan (dapat berfokus luas dan berfokus sempit),

(4) menggilirkan pertanyaan (redirecting) (untuk jawaban yang belum benar atau belum memadai),

(5) penyebaran (menyebarkan giliran menjawab pertanyaan secara acak),

(6) pemberian waktu berpikir, dan

(7) pemberian tuntunan (agar anak dapat menemukan jawaban yang benar).

Ketrampilan bertanya lanjut dibentuk di atas landasan penguasaan komponen-komponen dasar. Keterampilan bertanya lanjut merupakan keterampilan yang mengarahkan atau merangsang anak berpikir mendalam (deep thinking) atau berpikir tingkat tinggi (higher level thinking). Karenanya semua komponen bertanya dasar masih dipakai dalam penerapan keterampilan bertanya lanjut. Adapun komponen-komponen keterampilan bertanya lanjut meliputi:

(1) pngubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan,

(2) pengaturan urutan pertanyaan,

(3) penggunaan pertanyaan pelacak, dan

(4) peningkatan terjadinya interaksi.

Berikut ini kan dibahas secara lebih rinci tentang keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjut ini:


 

6.1.1 Keterampilan Bertanya Dasar

a. Tujuan keterampilan pertanyaan dasar

Tujuan memberikan pertanyaan dasar adalah:

(1) untuk meningkatkan fokus perhatian dan rasa ingin tahu anak didik terhadap suatu topik,

(2) mengembangkan belajar anak didik aktif (active learning),

(3) mengoptimal aktivitas pembelajaran,

(4) mendiagnosis kesulitan belajar anak didik,

(5) memberi kesempatan anak didik untuk mengasimilasi dan merefleksi informasi,

(6) mengembangkan kemampuan berpikir anak didik,

(7) mengembangkan refleksi dan komentar anak didik terhadap respon anak didik lain maupun guru, dan

(8) anak didik dapat menilai diri sendiri tentang penguasaannya terhadap materi yang dipelajari dan dapat pula menilai posisinya di antara teman-temanya.

Untuk memudahkan anak didik merespon atau menjawab pertanyaan guru, pertanyaan hendaklah disusun dengan kata-kata yang cocok dengan tingkat perkembangan anak didik. Sesuaikan penggunaan kata-kata dalam menyusun pertanyaan dengan perbendaharaan kata yang dimiliki anak didik. Pertanyaan harus disusun sesejelas dan seefektif mungkin.

Bila diterapkan metode diskusi, seelama diskusi berlangsung usahakan guru memberikan informasi yang relevan dengan tugas anak didik, baik sesudah ataupun sebelum pertanyaan- pertanyaan. Cara yang demikian, memiliki pengaruh yang penting terhadap anak didik, yaitu memberi meteri yang cukup untuk pemecahan masalah. Hal demikian dapat mempertahankan diskusi tetap relevan dengan tujuan yang ditetapkan.


 

b. Komponen-komponen ketrampilan bertanya dasar

Sebagai mana sudah disinggung di atas bahwa ada sejumlah komponen keterampilan bertanya dasar. Berikut ini akan dibahas satu persatu masing-masing komponen tersebut.

(1) Pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat

Pertanyaan guru harus diungkapkan secara jelas dan singkat, dengan menggunakan kata-kata yang dapat dipahami anak didik. Susunan kata-kata perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat perkembangan anak didik. Harus diusahakan agar jangan sampai anak didik tidak dapat menjawab pertanyaan kerena tidak mengerti kata-kata yang digunakan dalam pertanyaanguru.


 

(2) Pemberian acuan (structuring)

Sebelum mengajukan pertanyaan, kadang-kadang guru perlu memberi acuan berupa pernyataan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan. Contoh pemberian acuan: "Di dalam lambung kita ini terdapat enzim yang dapat menghancurkan lambung sapi, kambing, kerbau dan sebaginya yang dimakan. Tetapi lambung manusia tidak dapat hancur oleh enzimnya sendiri. Kenapa enzim lambung manusia tidak dapat menghancurkan lambung itu sendiri?

(3) Pemusatan

Ada dua aspek yang dapat diambil dari komponen pemusatan ini. Pertama, terhadap ruang lingkup pertanyaan yang luas (terbuka), atau yang sempit. Contoh pertanyaan yang luas, "apakah akibat terjadinya kebakaran hutan Indonesia ?". Adapun pertanyaan yang sempit memungkinkan anak didik untuk menjawab secara lebih sempit atau memusat.

Aspek yang kedua adalah pemusatan terhadap jumlah tugas anak didik sebagai akibat dari pertanyaan guru. Pertanyaan yang baik adalah pertnyaan yang dipusatkan untuk satu tugas, dengan demikian akan menjadi jelas spesifikasi tugas yang diharapkan dari anak didik. Contoh pertanyaan multi pemusatan, misalnya " apa akibat kebakaran hutan terhadap manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lingkungan abiotik? "


 

(4) Menggilirkan pertanyaan (redirecting)

Setelah mengajukan pertanyaan kepada seluruh anggota kelas, kemudian guru dapat meminta salah seorang anak didik untuk menjawabnya, dengan cara memanggil nama (pindah gilir verbal), atau dengan menunjuk, mengangguk, atau senyum (pindah gilir non verbal ).


 

(5) Pendistribusian pertanyaan

Untuk melibatkan anak didik langsung dalam pelajaran, disarankan mendistri-busikan pertanyaan secara random (acak) selama proses belajar mengajar (interaksi edukatif) berlangsung. Pertanyaan menyebar keseluruh penjuru ruangan dengan memberi pertanyaan tambahan secara langsung. Prosedur pertanyaan tetap, yaitu mula-mula ke seluruh anggota kelas, kemudian baru menunjuk salah seorang anak didik.


 

(6) Pemberian waktu berpikir

Tiap anak didik berbeda dalam kecepatan merespon pertanyaan, dan berbeda pula tingkat kemampuan berbicara secara jelas. Salah satu cara membantu mereka adalah dengan memberi waktu berpikir dalam beberapa detik setelah pertanyaan diajukan kepada seluruh anggota kelas dan sebelum menunjuk anak didik tertentu untuk menjawabnya.

Pemberian waktu sekitar lima detik atau lebih kepada anak didik setelah guru bertanya adalah faktor yang penting dalam membantu anak didik untuk berpikir lebih tinggi. Harus dicegah kecenderungan guru bertanya lebih banyak dan terlalu cepat, distribusi yang cepat dan pemberian waktu yang tidak ada akan kurang membantu anak didik untuk berpikir. Ada beberapa keuntungan yang dapat diambil dari pemberian waktu berpikir pada anak didik, antara lain:

  1. Respon anak didik cenderung lebih panjang, kalimatnya lebih lengkap, menunjukan kepercayaan diri bertambah.
  2. Proses belajar mengajar cenderung berubah dari berpusat pada guru ke pembicaraan antar anak didik.
  3. Guru punya waktu untuk mendengarkan dan berpikir.
  4. Anak didik yang kurang berpartisipasi akan lebih berpartisipasi.


 

(7) Pemberian tuntunan

Pemberian tuntunan (prompting) adalah cara yang dilakukan guru untuk menuntun anak didik memberikan jawaban dengan baik dan benar atas pertanyaan yang guru ajukan. Dengan kata lain, prompting adalah cara lain dalam merespon jawaban anak didik apabila gagal menjawab pertanyaan, atau jawaban kurang sempurna. Cara ini bisa dilakukan dengan :

a) Menyusun kembali kata- kata pertanyaan (rephrasing) yang sama dalam versi yang paralel.

b) Menggunakan pertanyaan yang sederahana yang relevan dengan pertanyaan yang pertama, misalnya dengan menunjuk atau menggunakan pengalaman anak didik.

  1. Mereview (mengulang) informasi yang diberikan sebelumnya kadang-kadang dapat membantu anak didik dalam menjawab pertanyaan.


 

6.1.2 Keterampilan Bertanya Lanjut

a. Prinsip Penggunaan

Keterampilan bertanya lanjut mempunyai beberapa prinsip yang perlu diperhatikan. Prinsip-prinsip tersebut meliputi:

  1. Prinsip-prinsip yang berlaku pada keterampilan bertanya dasar juga berlaku pada ketrampilan bertanya lanjut, seperti: kehangatan dan keantusiasan, menghindari menjawab pertanyaan sendiri, menghindari mengajukan pertanayaan ganda, dan menghindari pertanyaan yang memancing jawaban serentak dan sebagainya.
  2. Pemberian waktu yang lebih lama daripada waktu yang digunakan pada keterampilan bertanya dasar, agar anak didik dapat menjawab lebih sempurna. Di samping itu, pemberian waktu ini sangat penting juga bagi temannya yang lain untuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut.
  3. Guru hendaklah menyiapkan pertanyaan pokok yang akan diajukan selama proses pembelajaran. Dengan disusunnya pertanyaan pokok secara teratur diharapkan adanya perubahan tingkat berpikir dari sederhana ke tingkat yang lebih kompleks dan dari tingkat konkrit ke tingkat abstrak.
  4. Menilai pertanyaan pokok sesudah proses pembelajaran selesai. Hal ini penting untuk dapat mengetahui kesesuaian jumlah pertanyaan, representasi terhadap materi, dan kualitas pertanyaan yang disusun.


 

b. Manfaat Penggunaan

Kemanafaatan penggunaan keterampilan bertanya dasar dalam proses pembelajaran juga berlaku pada keterampilan bertanya lanjut. Tetapi masih ada kebutuhan yang lebih tinggi sifatnya yang belum dapat dijangkau oleh keterampilan bertanya dasar yaitu upaya mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, berpikir kreatif dan kritis. Misalnya dengan teknik bertanya melacak, guru akan mendapatkan kemanfaatan khusus dalam hubungannya dengan kemampuan kognitif tingkat tinggi. Bertanya melacak akan meningkatkan respon anak didik dengan menyediakan pertanyaan yang tingkat kesukarannya lebih tinggi, cermat, membantu, dan relevan. Pada saat bertanya melacak guru berkonsentrasi memperbaiki respon anak didik secara individual dengan menyediakan pertanyaan yang baru, guru masih tetap dengan anak didik yang sama dengan waktu seperti pertanyaan sebelumnya. Bila guru memandang perlu, pertanyaan dapat dialihkan ke anak didik lain.

Secara umum manfaat penggunaan keterampilan bertanya lanjut di antaranya adalah:

  1. Mengembangkan kemampuan anak didik dalam menemukan, mengorganisasi, dan menilai informasi yang didapat.
  2. Meningkatkan kemampuan anak didik mengembangkan pertanyaan yang didasarkan pada informasi yang langkap dan relevan.
  3. Menodorng anak didik mengembangkan ide-ide dalam pembelajaran.
  4. Melatih anak didik berpikir kreatif dan kritis.
  5. Melatih anak didik untuk memecahkan masalah.


 

c. Komponen-komponen keterampilan bertanya lanjut

Ada sejumlah komponen keterampilan bertanya lanjut yang perlu diperhatikan, seperti berikut:

1) Pegubahan tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan

Kebanyakan pertanyaan yang dilakukan guru adalah hanya menanyakan fakta. Karenanya masih di perlukan pertanyaan yang menuntut anak didik untuk dapat membedakan, menganalisis, dan mengambil keputusan atau menilai informasi yang diterima, berhubungan dengan taksonomi informasi yang diterima. Dalam hal ini taksonomi tujuan pengajaran pengajaran dari Bloom, ranah kognitif (cognitive domain) perlu dipertimbangkan sebagai alat yang bermanfaat dalam menyusun berbagai tipe pertanyaan. Penyususnan pertanyaan dapat yang memiliki tingkat ranah kognitif yang rendah (pengetahuan, pemahaman, penerapan) dan tingkat ranah kognitif yang tinggi (analisis, sintesis, evaluasi).


 

2) Pengaturan urutan pertanyaan

Untuk mengembangkan tingkat kognitif dari yang lebih rendah ke yang lebih tinggi dan kompleks, guru hendaklah mengatur urutan pertanyaan yang diajukan kepada anak didik. Untuk mengklasifikasikan urutan cara berpikir anak didik dalam hubungannya dengan pertanyaan lanjut , dapat digunakan konsep dan terminologi dari Bloom, seperti berikut :

a) Recall ( mengingat kembali )

pertanyaan yang merecall adalah pertanyaan yang meminta anak didik uintuk mengingat kembali informasi yang telah diterima sebelumnya. Me-recall tidak hanya terdapat pengetahuan (knowledge) tentang fakta, tetapi juga mengingat akan konsep yang luas, generalisasi yang telah didiskusikan, definisi, metode dalam mendekati masalah, kriteria dalam evaluasi, dan lain- lain.

Pertanyaan me-recall akan dipakai sebagai dasar untuk memberi pertanyaan yang lebih kompleks. Umumnya proses tersebut dapat berjalan dengan cepat karena guru dapat menggunakan pertanyaan yang sifatnya menuntun (prompting question ).

b) Pemahaman ( comprehention )

Pertanyaan kemampuan yang menyadap informasi, menginterpretasi arti, dan melakukan ekstrapolasi atau memberikan saran-saran. Menyadap informasi/pesan/ komunikasi akan meliputi kemampuan mengekspresikan dengan kata-kata lain, dapat juga meliputi kemampuan mengembangkan ringkasan yang lebih teliti, menuliskan kembali dalam bentuk verbal suatu pernyataan yang berbentuk simbol-simbol atau memberi contoh khusus untuk mengilustrasikan ide yang abstrak. Ekstrapolasi meliputi kemampuan memperkirakan atau memprediksi lebih lanjut apa yang telah pasti untuk menentukan implikasi terhadap pandangan/ pendapat yang diekspresikan.

c) Aplikasi

Pertanyaan aplikasi meminta anak didik menggunakan abstraksi dan generalisasi pada situasi tertentu. Menurut teori Bloom, pertanyaan aplikasi sangat erat/ dekat sekali dengan pertanyaan komprehensif, tetapi dapat dibedakan. Pertanyaan aplikasi menggunakan generalisasi bebas dari suatu keadaan dimana generalisasi telah digambarkan sebelumnya. Dengan pertanyaan aplikasi guru mempunyai kesempatan untuk mengulang kembali pelajaran yang penting-penting melalui sudut pandang yang bervariasi.

d) Analisis

Pertanyaan ini meminta anak didik untuk memecahkan (break down) masalah sampai ke bagian-bagian kecil untuk mempelajari bagaimana hubungan antara bagian-bagian itu. Pertanyaan ini juga meminta anak didik meneliti cara bagaimana masalah memperoleh pengaruhnya, baik dalam arti masalah sebagai alat untuk menghasilkan pengaruh, maupun cara bagaimana masalah itu diorganisasi.

Pertanyaan analisis memberi kesempatan yang luas bagi anak didik agar terlibat dalm semangat perpikir. Dengan domain kognitif yang tinggi, anak didik perlu waktu untuk mengembangkan jawabannya dan menyampaikannya secara hati-hati terhadap pertanyaan guru

e) Sintesis

Pertanyaan sinbtesis meminta anak didik untuk memmbuat/ membentuk pikiran baru tentang konsep, perencanaan, atau percobaan. Ciri khusus dari pertanyaan ini adalah " keunikan " produk dari hasil pertanyaan. Karena itu, untuk menentukan apakah pertanyaan itu sintesis atau tidak , diukur dari produk kata-kata pertanyaan itu sendiri.

Untuk menjawab pertanyaan sintesis dengan lengkap dibutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu disarankan pnggunaaannya tidak terlalu banyak. Penggunaan pertanyaan sintesis sebaiknya diikuti dengan pertanyaan melacak daripada diikuti pertanyaan lain.

f) Evaluasi

Pertanyaan evaluasi meminta anak didik untuk membuat keputusan atau menyatakan pendapat khususnya tentang kualitas. Pertanyaan evaluasi sebaiknya diajukan setelah beberapa kali pertemuan. Pertanyaan ini berhubungan dengan pertanyaan sintesis atau analisis.

Seorang guru harus menggunakan keterampilan bertanya, yaitu memberikan pertanyaan yang sifatnya umum dari tingkat berpikir yang rendah kemudian menuju ketingkat berpikir yang lebih kompleks atau yang tinggi. Maksud penting penggunaan keterampilan bertanya ialah membentuk cara berpikir maju yang bertahap-tahap, juga melibatkan semua anak didik pada kegiatan, namun kecepatan dan kamampuan anak didik tidak harus menjadi homogen.

3) Penggunaan pertanyaan melacak

Pertanyaan melacak digunakan untuk membantu anak didik dalam menjawab pertanyaan guru secara memadai, dari jawaban yang singkat sederhana menuju kejawaban yang lebih tinggi/ jauh . Ada beberapa jenis pertanyaan melacak, yaitu:

a) Klasifikasi

Pertanyaan ini digunakan jika guru menghendaki jawaban yang jelas dan singkat.

b) Mendukung

Disini anak didik diminta untuk memberikan bukti terhadap kehidupan ekonomi.

c) Konsensus

Pertanyaan ini memberi kesempatan kepada seorang seorang anggota kelompok untuk menyebutkan pandangan/ pendapat yang disetujui atau tidak. Juga menggunakan pertanyaan ini untuk meningkatkan diskusi lebih tajam.

d) Kecermatan

Pertanyaan ini untuk menarik perhatian anak didik dalam memperbaiki atau menstruktur kesalahan mereka. Pertanyaan ini tidak boleh memalukan anak didik.

e) Relevansi

Pertanyaan yang meuntut relevansi memberi kesempatan kepada anak didik untuk menilai kembali ketepatan jawabannya agar lebih relevan dan jelas

f) Contoh

Pertanyaan ini merupakan pertanyaan melacak yang meminta anak didik untuk memberi contoh sederhana khusus atau konkret terhadap respon mereka yang kelihatan meragukan.

g) Kompleks

Pertanyaan melacak yang kompleks dapat digunakan guru dalam meminta kelompok memberi respon penting dari suatu konsep atau prinsip yang lebih luas/ jauh.

Ada beberapa prinsip penting dalam menggunakan pertanyaan melacak, yaitu :

  1. Pertanyaan tersebut akan efektif bila digunakan sebagai pertanyaan tindak lanjut terhadap respon anak didik dengan menggunakan pertanyaan analisis, sintesis, dan evaluasi.
  2. Sikap guru dalam menggunakan pertanyaan melacak harus tetap, tidak boleh kasar dan mengancam. Guru sebaiknya mengetahui latar belakang pengetahuan anak didik, sehingga pertanyaan itu mempunyai manfaat ataukah tidak.
  3. Perlu memberi waktu kepada anak didik mempelajari yang diharapkan dari jawabannya. Respon anak didik mungkin bagus dan sangat membantu, tetapi setelah diklasifikasi dengan menggunakan suatu kriteria, mereka memerlukan waktu untuk mempelajari bagaimana mengembangkan jawaban yang lebih baik dan teliti.


 

4) Peningkatan terjadinya interaksi.

Hal ini dapat dilakukan dengan meminta anak didik memberikan komentar atau memberi respon pertama. Permintaan itu dapat lebih kuat lagi dengan memberikan garis besar alasan. Kemudian guru benar-benar mau menerima dan membantu hasil hasil sumbangan pikiran anak didik. Tetapi dapat juga guru secara aktif lebih jauh meminta anak didik lain untuk memberi komentar secara langsung terhadap respon pertama, atau guru dengan sengaja mengurangi komentar dan kontribusinya sendiri.


 

6.1.3 Hal- hal yang Perlu Dihindari dalam Penggunaan Keterampilan Bertanya Dasar dan Lanjur

Di dalam mengajukan pertanyaan ada beberapa kebiasaan yang perlu dihindari atau dikurangi, di antaranya adalah seperti berikut:

1) Mengulangi pertanyaan sendiri

Bila guru mengulangi beberapa kali pertanyaan yang sama karena anak didik tidak menjawab, maka perhatian proses pembelajaran akan menjadi berkurang, serta membuang waktu. Di samping itu, kebiasaan ini akan menyebabkan anak didik tidak memperhatikan pertanyaan guru, kerena mengharapkan pertanyaaan itu akan diulang guru. Satu pertanyaan yang diikuti dengan satu respon anak didik, masih lebih baik dari pertanyaan yang diulang-ulang. Karena perhatian akan menjadi penuh terhadap setiap pertanyaan yang diajukan guru.


 

2) Mengulangi jawaban anak didik

Memang ada terdapat perbedaan terhadap pengulangan jawaban anak didik. Di satu pihak mengatakan bahwa pengulangan jawaban anak didik akan menambah atau mempererat hubungan guru-anak didik. Di lain pihak mengatakan bahwa hal itu akan memperlambat proses pembelajaran, membuang waktu, menimbulkan sesuatu yang tidak perlu, kebiasaan mendengarkan pendapat orang lain berkurang, dan mengurangi kebebasan memberi komentar terhadap anak didik lain, atau mengurangi kesempatan belajar dari jawaban temannya.


 

3) Menjawab pertanyaan sendiri

Bila guru sering menjawab pertanyaan sendiri sebelum anak didik mempunyai kesempatan untuk menjawab, akan mengakibatkan anak didik menjadi frustasi, dan mungkin perhatian anak didik menjadi berkurang atau keluar dari proses belajar mengajar. Anak didik akan beranggapan bahawa mereka tidak perlu menjawab, sebab garu akan menjawab sendiri.


 

4) Pertanyaan yang memancing jawaban serentak

Guru dianjurkan untuk tidak memberi pertanyaan yang memerlukan jawaban anak didik secara serentak, misalnya " kamu semua telah mengerti ?"pertanyaan tersebut tidak memecahkan masalah, karena biasanaya pertanyaan yang mudah. Kebiasaan ini perlu dihindari karena dengan jawaban serentak, guru tidak dapat mengetahui pasti siapa yang benar dan siapa yang salah.


 

5) Pertanyaan ganda

Pertanyaan ganda maksudnya pertanyaan yang meminta dua atau lebih jawaban sekali gus. Misalnya apakah yang dimaksud dengan gen kloning, bagaimana mekanisme kerjanya, dan apa manfaatnya bagi manusia. Dalam pertanyaan ini dituntut tiga jawaban sekaligus. Pertanyaan ganda ini dapat melemahkan semangat anak didik yang hanya dapat menjawab satu pertanyaan. Sebaiknya dari pertanyaan di atas, kita dapat membuat tiga pertanyaan yang terpisah.


 

6) Menentukan anak didik tertentu untuk menjawab

Kebiasaan ini dapat menyebabkan anak didik yang tidak mendapat kesempatan sering tidak memikirkan jawaban pertanyaan. Sebaiknya, pertanyaan diajukan ke seluruh kelas lebih dahulu, dan setelah menunggu sejenak tidak ada yang menjawab barulah ditentukan anak didik yang menjawab. Hindari memberikan kesempatan menjawab pertanyaan kepada anak didik tertentu saja.

6.2 Keterampilan Memberi Penguatan ( Reinforcemen )

Dalam kehidupan seahari- hari kita mengenal adanya " hadiah." Orang yang bekerja untuk oarang lain hadiahnya adalah upah/ gaji, orang yang menyelesaikan suatu program sekolah, hadiahnya adalah ijazah membuat suatu prestasi dalm satu bidang olah raga, hadiahnya adalah mendali atau uang, tepuk tangan, memberi salam pada dasarnya adalah memberi hadiah juga. Pemberian hadiah tersebut secara psikologis akan berpengaruh terhadap perilaku seseorang yang menerimanya.

Sebaliknya, kita juga mengenal hukuman yang diberikan kepada seseorang karena tindakannya yang tidak sesuai tau melanggar norma atau aturan yang berlaku. Pada dasarnya hukuman juga akan berpengaruh terhadap perilaku orang yang menerima hukuman tersebut. Pemberian hukuman dalam pembelajaran juga biasa dilakukan bila kondisinya sudah menghendaki, dengan tujuan untuk memperbaiki perilaku yang suka melanggar atruran atau disiplin yang sudah ditetapkan.

Baik pemberian hadiah maupun hukuman merupakan suatu respon terhadap tindakan anak didik dalam proses pembelajaran. Pemberian hadiah merupakan suatu respon positif, sedangkan pemberian hukuman suatu respon negatif. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu agar anak didik mangubah perilakunya. Respon positif bertujuan agar perilaku yang sudah baik itu frekuensinya akan berulang atau bertambah,. Sedangkan respon negatif bertujuan agar frekuensi perilaku yang kurang baik itu dapat berkurang atau hilang. Pemberian respon yang demikian dalam proses pembelajaran disebut pemberian penguatan (reinforcemen). Pemberian penguatan akan membantu sekali dalam meningkatkan motivasi, aktivitas dan hasil belajar anak didik. Dengan kata lain, perubahan perilaku (behavior) anak didik dapat terjdi dengan pemberian penguatan.


 

6.2.1 Tujuan Penggunaan Penguatan

Tujuan memberi penguatan dalam proses pembelajaran adalah untuk:

  1. Meningkatkan perhatian dan membantu anak didik belajar bila pemberian penguatan digunakan secara efektif.
  2. Memberi motivasi kepada anak didik untuk belajar lebih giat.
  3. Dapat digunakan sebagai mengontrol atau mengubah perilaku anak didik yang mengganggu, dan meningkatkan cara belajar yang produktif.
  4. Mengembangkan kepercayaan diri anak didik atas potensinya dalam belajar.
  5. Mengarahkan terhadap pengembangan daya berpikir dan inisiatif anak didik.


 

6.2.2 Penerapan penguatan dalam pemebelajaran

Hal yang perlu diperhatiakn dalam pemberian penguatan ialah guru harus yakin bahwa anak didik akan menilai bahwa penghargaan itu memang pantas diperolehnya sehingga bermakna secara psikologis baginya. Pemberian penguatan dapat dilakukan ketika anak didik melakukan atau merespon stimulus yang diberikan guru atau ketika anak mencapai prestasi tertentu, misalnya:

  1. Anak didik memperhatikan guru, memperhatikan kawan lainnya dan objek yang menjadi tujuan diskusi atau menunjukkankesungguhan.
  2. Anak didik sedang belajar, mengerjakan tugas dari buku, membaca, dan bekerja di papan tulis.
  3. Anak didik yang dapat menyelesaikan tugas tepat pada waktunya.
  4. Anak didik bekerja dengan kualitas yang baik (kerapian, ketelitian, keindahan, dan mutu materi)
  5. Anak didik dapat memperbai pekerjaan (dalam kualitas, hasil atau penampilan ).
  6. Anak didik menampilkan kategori perilaku ( tepat, tidak tepat, verbal, fisik, dan tertulis).
  7. Anak didik dapat melakukan tugas mandiri (dapat mengarahkan diri sendiri, mengelola perilaku sendiri, dan mengambil inisiatif sendiri ).


 

6.2.3 Komponen Pemberian Penguatan

Keterampilan memberikan penguatan terdiri atas beberapa komponen yang perlu dipahami dan dikuasai oleh guru agar dapat memberikan penguatan secara tepat. Komponen-komponen tersebut meliputi:

  1. Penguatan verbal

    Penguatan verbal adalah penguatan yang diberikan menggunakan kata-kata. Pujian dan dorongan yang diucapkan oleh guru untuk respon atau perilaku anak didik adalah penguatan verbal. Ucapan tersebut dapat berupa kata- kata; bagus, baik, betul, benar, tepat, dan lain-lain. Dapat juga berupa kalimat; misalnya hasil pekerjaanmu baik sekali atau sesuai benar tugas yang kau kerjakan.

  2. Penguatan non verbal

    Penguatan non verbal adalah penguatan yang diberikan selain menggunakan kata-kata, yang mencakup:

    1. Penguatan Gestural (mimik dan gerakan badan)


      Pemberian penguatan gestural sangat erat sekali dengan pemberian penguatan verbal. Ucapan atau komentar yang diberikan guru terhadap respon, perilaku, pikiran anak didik dapat dilakukan dengan mimik yang cerah, dengan senyum, mengangguk, acungan jempol, tepuk tangan, memberi salam, anggukan atau gelengan kepala, dan sebagainya. Semua gerakan tubuh merupakan pemberian penguatan gestural.

    2. Penguatan Kegiatan

      Penguatan dalam bentuk kegiatan ini banyak terjadi bila guru menggunakan suatu kegiatan atau tugas, sehingga anak didik dapat memilihnya atau menikmatinya sebagai suatu hadiah atas suatu pekerjaan atau penampilan sebelumnya, contoh penguatan kegiatan; pulang lebih dulu, diberi istirahat lebih, bermain, berolah raga, menjadi ketua, membantu anak didik lain, mendengarkan musik atau radio, melihat TV, dan sebaginya yang menyenangkan.

    3. Penguatan Mendekati

      Perhatian guru kepada anak didik, menunjukkan bahwa guru tertarik atau menyenangi, secara fisik guru mendekati anak didik, dapat dikatakan sebagai penguatan mendekati. Misalnya guru berdiri di samping anak didik, duduk dekat dekat anak didik sambil memberi pnguatan verbal.

    4. Penguatan Sentuhan

      Penguatan sentuhan adalah merupakan penguatan yang terjadi bila guru secara fisik menyentuh anak didik. Misalnya guru menepuk-nepuk bahu atau pundak anak didik degan tangan, menyalami, dan mengangkat tangan anak didik yang menang dalam pertandingan dengan perasaan senang atau puas.

    5. Penguatan Tanda


      Bila guru menggunakan berbagai macam simbol, apakah itu benda atau tulisan yang ditujukan kepada anak didik untuk penghargaan terhadap suatu penampilan. Yang berbentuk simpol nisaknya berupa tang (V), komentar tertulis pada buku anak didik. Kemudian, yang berbentuk benda misalnya dapat berupa kartu bergambar, bintang plastik, dan benda-benda lain yang tidak terlalu mahal.


       

6.2.4 Model Penggunaan

  1. Penguatan kelompok

    Penguatan kelompok diberikan atas dasar prestasi kerja kelompok. Penguatan verbal, gestural, pemberian tanda, dan kegiatan adalah merupakan komponen penguatan yang dapat diperuntukan pada seluruh anggota kelompok

  2. Penguatan yang ditunda

    Penguatan yang ditunda diberikan karena suatu tugas belum selesai, dan akan diberikan bila tgas sudah selesai. Penundaan penguatan pada umumnya kurang efektif bila dibandingkan dengan pemberian secara langsung. Tetapi penundaan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan penjelasan atau isyarat verbal, bahwa penghargaan itu ditunda dan akan diberikan kemudian.

  3. Penguatan tidak penuh (partial)

    Penguatan tidak penuh atau partial artinya penguatan diberikan sebagian-sebagian yang dimaksud untuk menghindari penggunaan penguatan negatif dan pemberian kritik. Biasanya penguatan ini diberikan ketika jawaban anak didik belum sempurna. Misalnya,"Ya, jawabanmu sudah baik tapi masih perlu disempurnakan sedikit lagi."

  4. Penguatan Perorangan

    Merupakan pemberian penguatan secara khusus kepada suatu individu yang mendapat prestasi. Misalnya anak didik dapat mengerjakan tugas tepat waktu dan bagus, anak didik dapat menjawab pertanyaan guru dengan benar, anak didik yang dapat membantu temanya dalam belajar, dan sebaginya.


 


 

6.2.5 Prinsip Penggunaan

Empat prinsip yang harus diperhatikan oleh seoarang guru dalam memberikan penguatan kepada anak didik, yaitu;

  1. Hangat dan antusias

    Kehangatan dan keantusiasan guru dalam pemberian penguatan kepada anak didik memiliki aspek penting terhadap perilaku dan hasil belajar anak didik.

  2. Hindari penggunaan penguatan negatif

    Walaupun pemberian kritik atau hukuman adalah efektif untuk dapat mengubah motivasi, penampilan dan perilaku anak didik, namun pemberian itu memiliki akibat yang sangat kompleks, misalnya dapat mengakibatkan anak didik menjadi frustasi, menjadi sakit hati, dendam, nekad, dan sebaginya.

  1. Penggunaan Bervariasi

    Pemberian penguatan seharusnya diberikan secara bervariasi baik komponennya maupun caranya, dan diberikan secara hangat dan antusias, juga pemberian penguatan akan bermanfaat jika arah pemberiannya bervariasi, mula- mula dari keseluruhan anggota kelas, kemudian kelompok kecil, akhirnya ke individu, atau sebaliknya dan tidak harus berurutan.

  2. Bermakna

    Agar setiap pemberian penguatan menjadi efekltif, maka harus dilaksanakan pada situasi dan kindisi yang tepat, sehingga anak didik mengetahui adanya hubungan antara pemberian penguatan terhadap perilakunya atau prestasinya dan melihat bahwa itu sangat pantas diterimanya..


 

6.3 Keterampilan Mengadakan Variasi

Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki kebosanan dalam hidupnya, karena hal ini tidak menyenangkan. Biasanya, kebosanan itu dapat terjadi jika guru tidak menggunakan variasi dalam proses belajar mengajar. Kebosanan ini merupakan masalah besar di sekolah yang perlu diatasi. Dalam pembelajaran, salah satu car mengatasi kebosanan anakdidik adalah dengan mengadakan variasi. Apa saja yang perlu divariasikan? Berikut ini akan diuraikan hal-hal yang perlu divariasikan dalam proses pembelajaran.

Variasi dimaksudkan sebagai proses perubahan yang terjadi dalam pembelajaran, yang dapat dikelompokan atas tiga kelompok komponen, yaitu:

  1. variasi dalam gaya mengajar,
  2. variasi dalam penggunaan alat dan media pembelajaran,
  3. variasi dalam pola interaksi dalam kelas.

Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan penggunaannya atau secara integrated, maka akan dapat meningkatkan perhatian anak didik, menghilangkan kebosanan, membangkitkan keinginan, dan kemauan atau kegairahan belajar. Keterampilan mengadakan variasi ini lebih luas penggunannya daripada keterampilan lainnya, karena merupakan keterampilan campuran atau integrasi dengan keterampilan yang lain. Misalnya variasi guru dalam menggunakan pendekatan, menggunakan metode, memberi penguatan, variasi dalam memberi pertanyaan, dan variasi dalam tingkat kognitif, dan sebagainya.


 

6.3.1 Penggunaan dalam kelas

Dalam proses belajar mengajar, variasi ditunjukkan dengan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan dan perubahan dalam pola interaksi. Variasi lebih bersifat daripada produk.

a. Tujuan

Tujuan penggunaan variasi dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

1) Menghilangkan kebosanan belajar bagi anakdidik.

2) Meningkatkan dan memelihara perhatian anak didik dalam pembelajaran.

3) Meningkatkan motivasi dan rasa ingin tahu anakdidik trehadap situasi yang baru .

4) Mengembangkan sikap positif terhadap guru sehingga meningkatkan iklim belajar yang baik bagi anak didik..

5) Menyediakan pilihan strategi belajar bagi anak didik sebagai respon terhadap variasi gaya mengajar, media dan interaksi dalampembelajaran.


 

b. Prinsip Penggunaan

  1. Dalam menggunakan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan, di samping juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi.
  2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan, sehingga momen proses belajar yang utuh tidak rusak dan perhatian anak didik dan proses belajar tidak terganggu.
  3. Penggunaan komponen variasi harus benar-benar tetrsturktur dan direncanakan oleh guru. Karena itu, memerlukan penggunaan yang luwes dan spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima. Biasanya bentuk umpan balik ada dua, yaitu:
    1. Umpan balik perilaku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan anak didik; dan (2) umpan balik informasi tentang pengetahuan dan penguasaan pelajaran.


 

6.3.2 Komponen Variasi

a. Variasi Gaya Mengajar

Variasi dalam gaya mengajar ini terdiri dari:

  1. Variasi suara

    Variasi suara adalah perubahan nada suara dari keras menjadi lunak , dari tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat dan sebaliknya. Ataua dengan kata lain, suara guru dapat bervariasi dalam, intonasi, nada, volume, dan kecepatan.Guru dapat mendramatisasi suatu peristiwa dengan menunjukkan hal-hal yang dianggap penting, berbicara pelan dengan seorang anak didik, atau berbicara secara tajam dengan anak didik yang kurang perhatian, dan seterusnya.


     

  2. Pemusatan perhatian ( focusing)

    Untuk memfokuskan anak didik pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan penekanan secara verbal, misalnya " perhatikan baik baik!," "nah, ini adalah bagian yang sukar," "dengarkan yang baik, ini agak sukar dipahami." Penekanan seperti itu biasanya disertai dengan anggota badan atau isyarat, seperti menunjuk ke tulisan di papan tulis.


     

  3. Pemberian waktu atau kesenayapan ( pausing )

    Ada kesenyapan yang tiba-tiba yang disengagaja selagi guru menerangkan sesuatu merupakan kondisi yang baik untuk menarik perhatian. Di samping itu dapat juga dilakukan dengan cara mengubah suasana menjadi sepi, dari suatu kegiatan menjadi tanpa kegiatan/ diam, dari akhir bagian pelajaran ke bagian berikutnya. Dalam keterampilan bertanya, pemberian waktu dapat diberikan setelah guru mengajukan beberapa pertanyaan, untuk mengubahnya menjadi pertanyaan yang lebih tinggi tingkatannya setelah keadaan memungkinkan. Bagi anak didik pemberian waktu dipakai untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap.


     

4) Kontak pandang

Bila guru berbicara atau berinteraksi dengan anak didik, sebaiknya mengarahkan pandangannya keseluruh kelas, menatap mata anak didik untuk dapat membentuk hubungan yang positif dan membentuk hubungan yang akrab. Hindari memandang anak didik tertentu secara terus menerus atau memandang ke arah tertentu saja.

5) Gerakan anggota badan ( Gesturing )

Variasi dalam ekspresi wajah, mimik, gerakan kepala atau badan merupakan bagian yang penting dalam berkomunikasi. Tidak hanya untuk menarik perhatian saja, tetapi juga menolong arti pembicaraan. Ekspresi wajah misalnya: tersenyum, mengerutkan dahi, cemberut, menaikan alis mata. Menggerakankepala seperti mengangguk, menggeleng. Menggoyang-goyangkan tanggan dapat diartikan "tidak", mengangkat tangan dapat diartikan "apa lagi."


 

  1. Variasi posisi gurui

    Variasi posisi guru artinya perubahan posisi guru dari suatu daerah ke daerah lain di dalam kelas. Perpindahan posisi guru dalam ruangan kelas dapat menarik perhatian anak didik dan dapat meningkatkan kepribadiaan guru. Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke belakang, dari sisi kiri ke kanan, atau di antara anak didik dari belakang ke samping anak didik


 

b. Variasi Media dan Bahan Ajar


Ada beberapa variasi penggunaan media, yaitu media pandang (visual), media dengar (audio), dan media pandang dengan (audio visual). Kemudian variasi dalam alat/bahan dapat pula dilakukan, misalnya yang dapat diraba, dicium dan dimanipulasi sangat membantu menarik perhatian anak didik. Pembelajaran yang banyak melibatkan alat sensoris (indra) atau multisensoris adalah sangat baik, karena dapat menampung semua kebiasaan belajar anak yang bervariasi. Misalnya ada anak didik yang lebih suka mendengar daripada melihat, tau suka melihat saja, atau suka mendengar dan melihat, suka meraba, suka mencium. Bila guru menggunakan media bervariasi atau bervariasi dalam menggunakan bahan ajaran, akan banyak sekali memerlukan penyesuaian indra anak didik, membuat perhatian anak menjadi lebih tinggi, memberi motivasi untuk belajar, mendorong berpikir, dan meningkatkan kemampuan belajar.


 

c. Variasi Interaksi

Variasi interaksi artinya perubahan pola dalam proses pembelajaran, misalnya interaksi satu arah (guru-murid), dua arah (guru-murid, murid guru), multi arah (guru-murid, murid-guru, dan murid-murid). Pada pola interaksi akan dipengaruhi oleh pola pembelajaran, yaitu:

  1. Anak didik bekerja atau belajar secra bebas tanpa campur tangan dari guru (pola student center.
  2. Anak didik mendengarkan dengan pasif, situasi didominasi oleh guru, di mana guru berbicara kepada anak didik (pola teacher center).
  3. Pola ketiga dapat diusulkan yaitu semi student center atau semi techer center. Di lapangan sulit terjadi secara murni teacher center ataupun studen center, karena kedua sama-sama perlu sesuaidengan kondisinya. Tetapi yang mungkin terjadi adalah kadangkala pembelajaran didominasi oleh teacher center dan akadangkala didominasi oleh student center.

    Diantara pola pembelajaran ini banyak kemungkinan dapat terjadi pola interaksi. Misalnya, guru berceramah dengan sekelompok besar atau kecil kecil, anak didik mengajukan beberapa pertanyaan, atau guru berbincang dengan anak didik secara individual, atau guru menciptakan situasi sedemikian rupa sehingga antar anak didik dapat saling tukar pendapat melalui penampilan diri, demonstrasi, atau diskusi.


 

6.4 Keterampilan Menjelaskan

Dalam kehidupan sehari-hari keterampilan menjelaskan dapat artikan dengan keterampilan menceritakan. Sesungguhnya, keterampilan menjelaskan tidak hanya menceritakan atau mendeskripsikan suatu hal, suatu peristiwa atau suatu fenomena seperti menjawab pertanyaan apa, melainkan bisa lebih dari itu. Artinya menjelaskan fenomena yang menunjukkan perbedaan dan hubungan sebab akibat, atau seperti menjelaskan jawaban pertanyaan kenapa dan bagaimana. Misalnya penjelasan pertanyaan apa yang dimaksud dengan kembar identik. Penjelasan ini akan bisa berkemabang bila diminta untuk menjelaskan pertanyaan kenapa kembar identik dapat terjadi? Bagaimana meknisme terjadinya kembar identik? Penjelasan diorgsanisasi secara sistematis untuk menunjukkan adanya hubungan sebab akibat, antara suatu konsep dengan konsep yang lain, antara generalisasi dengan konsep, antara konsep dengan data, atau sebaliknya. Keberhasilan guru menjelaskan ditentukan oleh kejelasan materi dan tingkat pemahaman anak didik.


 

6.4.1 Tujuan Memberikan Penjelasan

Tujuan memberikan penjelasan dalam pembelajaran adalah:

  1. Membimbing anak didik untuk memahami konsep, definisi, prinsip, hukum, teori, dalil, fakta secara benar.
  2. Mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi anak didik.
  3. Materi yang sulit dapat dimudahkan dengan keterampilan guru menjelaskan dengan contoh dan ilustrasi yang tepat.
  4. Dapat mengatasi kesalahan konsep (miskonsepsi) dari materi yang dipelajari sendiri.

6.4.2 Alasan perlunya guru menguasai keterampilan menjelaskan

Alasan perlunya guru menguasai keterampilan menjelaskan adalah:

  1. Ada materi yang sulit dipahami sendiri oleh anak didik, sehingga diperlukan keterampilan guru untuk menjelaskannya.
  2. Keterampilan guru menjelaskan dapat menghemat waktu, karena tidak semua materi yang perlu dijelaskan guru atau yang mudah bisa ditugaskan anak didik mebaca sendiri.
  3. Penjelasan yang diberikan oleh guru kadang-kadang tidak jelas bagi anak didiknya, atau penjelasan itu hanya jelas olehguru saja, karena guru tidak terampil menjelaskan materi.
  4. Tidak semua anak didik mampu menggali sendiri pengetahuan dari buku atau dari sumber lainnya. Oleh karena itu, guru perlu membantu menjelaskan hal-hal tertentu.
  5. Kurangnya sumber yang tersedia, guru perlu membantu anak didik dengan cara memberikan informasi lisan berupa penjelasan yang cocok dengan materi yang diperlukan.


 

6.4.3 Penggunaan dalam kelas

Keterampilan menjelaskan diperlukan dalam proses pembelajaran pada hampir semua topik yang terdapat dalam kurikulum. Keterampilan menjelaskan yang dilakukan oleh guru harus dapat menjawab pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana dan jawabannya sedemikian rupa sehingga menimbulkan pemahaman yang benar bagi anak didik. Begitu juga, bila anak didik bertanya, maka diperlukan jawaban yang jelas, bila tidak berdampak buruk terhadap kegairahan belajar anak didik. Pandangan ini dikemukakan karena guru sering ditanya oleh anak didik dan memerlukan jawaban secara verbal, langsung, dan bila perlu tuntas.

Perlu diperhatikan bahwa dalam memberikan penjelasan, guru harus mempertim-bangkan kemampuan dan latar belakang anak didik. Kemudian, materi yang dijelaskan haruslah bermakna bagi anak didik, rlevan dengan tujuan pembelajaran.


 

6.4.4 Komponen Keterampilan Menjelaskan

Komponen keterampilan menjelaskan terbagi atas:

a. Perencanaan menjelaskan

Ada dua hal yang perlu dianalisis dan direncanakan pada keterampilan menjelaskan,

yaitu:

1) Isi pesan (materi)

Menganalisis dan merencanakan isi pesan, meliputi tiga tahap keterampilan, yaitu:

  1. Keterampilan menetapkan apa yang memerlukan penjelasan : masalah, peristiwa, prosedur, pernyataan dalam pikiran, dan lain-lain. Berikutnya adalah menganalisisnya, serta meneliti apa yang harus dihubungkan dalam menjelaskan.
  2. Keterampilan mengekspresikan bentuk hubungan yang ada di antara unsur/ konsep atau komponen yang harus dihubungkan.
  3. Keterampilan membuat generalisasi, hukum, prinsip, atau aturan yang tepat terhadap hubungan yang telah dibentuknya. Perbedaan bentuk hubungan akan menghasilkan perbedaan generalisasi.

2) Penerima pesan (anak didik)

Dalam menjelaskan perlu diperhatikan ciri-ciri atau karakteristik si penerima pesan, yaitu anak didik sebagai suatu kelompok. Karekteristik tersebut adalah:

  1. Tingkat pendidikan

    Menjelaskan masalah yang sama terhadap anak didik SLTP dan SLTA haruslah berbeda.

b) Jenis kelamin

Kelas yang terdiri dari jenis kelamin yang sama, akan berbeda dalam menjelaskan dibanding bila kelas tersebut terdiri dari jenis kelamin yang tidak sama dalam hal-hal tertentu.

c ) Kemampuan kelompok

Kelompok yang terdiri dari anak didik berkemampuan tinggi, akan berbeda kesiapan menerima penjelasan dengan anak berkemampuan rendah.

d) Pengalaman

Perbedaan pengalaman hidup anak didik menyebabkan perbedaan pula penjelasan oleh guru. Dalam memberikan penjelasan terhadap anak dari kota akan berbeda dibanding terhadap anak dari desa.

e) Lingkungan sekolah

Sekolah yang sudah lengkap fasilitasnya, seperti perpustakaan, tempat belajar individual, tempat olah raga, dan lain- lain, akan berpengaruh pada guru daripada sekolah yang kurang fasilitasnya.


 

b. Penyajian suatu penjelasan

Penyajian suatu penjelasan dapat ditingkatkan hasilnya dengan memperhatikan hal- hal sebagai berikut :

1) Kejelasan

Pemilihan bahasa dan istilah yang tepat dan sesuai dengan kemampuan berpikir anak didik adalah penting. Bila menggunkan istilah baru jelaskan pengertiannya sehingga anak didik dapat memahaminya. Di samping memperhatikan bahasa, juga ucapan guru harus jelas.

2) Penggunaan contoh

Pada setiap tingkat usia sangat sedikit anak didik dapat menguasai bahan pelajaran baru tanpa ada contohnya. Contoh seharusnya dihubungkan dengan kehidupan nyata. Bila contoh yang digunakan berasal dari kehidupan nyata, maka materi akan mudah dipahami. Pemberian contoh yang bervariasi juga penting untuk membuat penjelasan lebih menarik, dan lebih efektif.

3) Penekanan

Penekanan adalah keterampilan penyajian yang meminta perhatian anak didik terhadap informasi yang esensial atau penting. Apabila dalam suatu diskusi pembahasan memjadi berkembang, itu menunjukan adanya keberhasilan dalam penekanan. Cara memberikan penekanan dapat dilakukan dengan:

  1. Mmberi variasi dalam mengajar guru. Misalnya, dengan suara yang bervariasi, dengan gerakan anggota badan atau dengan menggunakan media dan bahan pelajaran.
  2. Menstruktur bahan pelajaran, misalnya dengan memberi ikhtisar dan ulangan, dengan menyususn kembali kata-kata respon anak didik, dan dengan memberi tanda-tanda atau isyarat. Penekanan dalam menjelaskan dapat dilakukan dengan ucapan langsung dalam bentuk :
    1. Kata-kata: pertama, kedua, dasar, esensial, kritis, fundamental, utama, penting, mayor, bermakna, vital, dan menonjol.
    2. Ungkapan: yang nomor satu, kita mulai dengan, lain kali kita kembali, ini adalah yang perlu diketahui, jangan lupa ini, pikiran yang penting, dengarkan baik-konsep ini, ada dua kesimpulan.

4) Umpan balik

Anak didik sebaiknya diberi kesempatan untuk menunjukkan pengetahuan atau pengertiannya tentang sesuatu yang dijelaskan, atau minta anak didik untuk mengungkapkan hal-hal yang mereka belum tahu. Cara tersebut dapat dilakukan dengan memberi pertanyaan kepada anak didik. Umpan balik dapat juga diketahui melalui perhatian, minat, aktivitas belajar, dan latihan yang diberikan kepada mereka. Menjelaskan yang dikaitkan dengan kebutuhan dan kehidupan nyata akan dapat menarik perhatian anak didik. Umpan balik dapat juga diperoleh dari pengamatan perilaku anak didik dalam proses pembelajaran melalui pertanyaan yang sifatnya kopmprehensif.


 

6.5 Keterampilan Membuka dan Menutup Pelajaran

Ketrampilan guru dalam membuka dan menutup pelajaran sangat penting. Yang dimaksud dengan membuka adalah aktivitas guru untuk menciptakan kesiapan mental dan menimbulkan perhatian anak didik agar terpusat pada proses pembelajaran. Kegiatan membuka pelajaran tidak saja harus dilakukan guru pada awal proses pembelajaran tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan inti pelajaran atau dari satu sub materi ke sub materi berikutnya. Untuk menciptakan suasana siap mental bagi anak didik, guru dapat melakukan usaha-usaha mengaitkan antara materi pelajaran yang lalu dengan materi yang akan dipelajari dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata.

Sementara yang dimaksud dengan menutup pelajaran adalah mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Kegiatan menutup pelajaran dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari anak didik, mengetahui tingkat pencapaian anak didik dan tingkat keberhasilan guru dalam pembelajaran. Contoh kegiatan yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran ini adalah merangkum kembali atau menugaskan anak didik membuat rangkuman, mencek pemahaman anak didik dengan mengajukan pertanyaan, meminta anak didik untuk bertanya, dan sebagainya. Seperti halnya membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran tidak saja harus dilakukan guru pada akhir proses pembelajaran tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan inti pelajaran.

Kegiatan membuka dan menutup pelajaran tidak mencakup urutan kegiatan rutin seperti menertibkan anak didik, mengambil absen, menyampaikan pengumuman, menyuruh menyiapkan alat dan buku pelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Kegiatan-kegiatan ini memang harus dikerjakan oleh guru tetapi bukanlah merupakan bagian kegiatan membuka dan menutup pelajaran. Sesungguhnya yang menjadi pusat perhatian dalam membuka dan menutup pelajaran adalah kegiatan-kegiatan yang berkaitan langsung dengan penyampaian materi pelajaran.


 

6.5.1 Penggunaan keterampilan membuka dan menutup dalam kelas

a. Tujuan

  1. Menumbuhkan perhatian dan motivasi anak didik agar siap menghadapi proses pembelajaran.
  2. Anak didik mngetahui batas-batas materi dan tugasyang akan dikerjakan..
  3. Anak didik dapat mempersiapkan strategi belajar yang sesuai.
  4. Anak didik mengetahui hubungan antara pengetahuan dang pengalaman yang telah dikuasai dengan pengetahuan baru.
  5. Anak didik dapat pengkombinasikan fakta-fakta yang penting, pegalaman, keterampilan, dan konsep dalam pembelajaran, sehingga menguasaan materi menjadi lebih mantap.
  6. Anak didik mengetahui tingkat keberhasilannya dalam pelajaran yang sedang berlangsung.

b. Prinsip- prinsip penggunaan

1) Bermakna

Guru hendaknya memilih cara yang tepat atau relevan dengan isi dan tujuan pembelajaran dalam menarik perhatian atau memotivasi anak didik. Di samping itu, guru hendaklah dapat memilih cara, tugas atau media yang tepat dengan kondisi dan kebutuhan anak didik, sehingga pembelajaran dirasakan anak bermakna.

2) Berurutan dan berksinambungan

Aktivitas yang dilakukan guru dalam memperkenalkan dan merangkum kembali bahan-bahan pelajaran pada waktu membuka dan menutup pelajaran sebaiknya merupakan suatu kesatuan yang utuh, berurutan dan berkesinambungan. Kemudian, aktivitas membuka dan menutup pelajaran yang dilakukan hendaklah disusun sedemikian rupa, dikaitkan dengan minat, pengetahuan dan pengalaman yang sudah dimilki anak didik, dan dilakukan secara berkesinambungan.


 

6.5.2 Komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran

a. Keterampilan membuka pelajaran


Komponen keterampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian, menimbulkan motivasi, memberi acuan dan membuat kaitan.

1) Menarik perhatian anak didik

Cara yang dapat dilakukan guru untuk menarik perhatian anak didik di antaranya adalah memvariasikan gaya mengajar, alat atau media, dan pola interaksi dalam pembelajaran. Misalnya, guru dapat mengubah gaya mengajar, biasa berdiri di depan kemudian berdiri di belakang. Suara yang biasa keras diubah menjadi suara yang pelan. Penggunaan alat bantu atau media pengajaran yang divariasikan juga dapat menarik perhatian anak didik.

2) Menimbulkan motivasi

    Membuka pelajaran harus mampu menimbulkan motivasi anak didik untuk mengikuti proses pembelajaran. Berbagai cara yang dapat dilakukan guru dalam membuka pelajar yang dapat menimbulkan motivasi, di antaranay:

(1) dengan kehangatan dan keantusiasan,

(2) dengan menimbulkan rasa ingin tahu,

(3) dengan mengemukakan ide yang bertentangan, dan

(4) dengan memperhatikan minat anak didik


 

3) Memberi acauan (structuring)

Memberi acuan diartikan sebagai usaha mengemukan serangkaian alternatif secara spesifik dan singkat yang memungkinkan anak didik memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang akan ditempuh dalam mempelajari materi pelajaran. Usaha dan cara yang dapat ditempuh guru di antaranya adalah:

(1) mengemukakan tujuan dan batasan tugas,

(2) menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan,

(3) mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas,

(4) mengajukan pertanyaan-pertanyaan.


 

4) Membuat kaitan

Membuat kaiatan artinya jika guru menyajikan pelajaran yang baru perlu dikaitkan dengan materi yang telah dipelajari atau pengalaman anak didik sebelumnya, juga dikaitkan dengan minat dan kebutuhan anak didik. Contoh upaya guru untuk membuat kaitan adalah:

  1. membuat kaitan antar aspek-aspek yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal anak didik,
  2. guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimilki,
  3. guru menjelaskan konsepnya atau pengertiannya lebih dahulu sebelum menyajikan materi secara rinci.


 

b. Keterampilan menutup pelajaran

Menjelang pembelajaran berakhir atau menjelangakhir setiap penggalan kegiatan, guru harus harus melakukan kegiatanmenutup pelajaran, agar anak didik memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi yang sudah dipelajari. Cara-cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran diantaranya adalah:

1) Meninjau kembali (Review)

Untuk menutup pelajaran, guru sebaiknya meninjau kembali atau melakukan review hal-hal yang dianggap penting, atau kunci bahan pelajaran yang diberikan. Hal ini dapat dilakukan setiap saat selesai memberikan satu konsep ataupun pada akhir pelajaran. Ada dua cara meninjau kembali penguasan inti pelajaran, yaitu: (1) merangkum inti pelajaran atau membuat kesimpulan secara lisan, dan

(2) membuat ringkasan di papan tulis oleh anak didik atau guru atau kerjasama guru dengan anak didik


 

2) Evaluasi

Dalam menutup pelajaran disamping me-review , guru juga seharusnya melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran yang baru saja dilakukan. Evaluasi dapat dilakukan dengan:

  1. meminta anak didik mendemonstrasikan keterampilan yang baru saja dipelajari,
  2. meminta anak didik mengaplikasikan konsep atau ide yang baru pada situasi yang berbeda,
  3. meminta anak didik mengekspresikan pendapat sendiri,
  4. meminta anak didik mengerjakan soal tertulis, baik objektif maupun subjektif.


 

6.6 Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Dalam paradigama lama pendidikan yang menyatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan (tansfer of knowledge) sudah mulai ditinggalkan. Sekarang, pendidikan sudah mengarah ke paradigma baru yang menyatakan bahawa mengajar adalah perbuatan yang kompleks, yaitu menggunakan sejumlah keterampilan secara integratif untuk mngembangkan potensi atau kompetensi (development of competence) anak didik.

Dalam pembelajaran dapat dikembangkan model diskusi kelompok kecil dan pengajaran individual. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil ini berhubunbgan dengan keterampilan lainnya, yaitu keterampilan bertanya dasar dan lanjut, keterampilan penguatan, serta keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Tidak semua pembicaraan dalam kelompok kecil disebut diskusi, tetapi yang dimaksud dengan diskusi kelompok kecil di sini adalah suatu proses yang teratur yang melibatkan sekelompok individu dalam suatu interaksi tatap muka secara kooperatif untuk tujuan berbagi pengetahuan, memecahkan masalah dan membuat keputusan. Dari pengertian tersebut, diskusi kelompok kecil memiliki empat karakteristik, yaitu:

1) melibatkan sekelompok individu (3 – 9 orang),

2) berlangsung dalam interaksi tatap muka informal, yang berati semua anggota kelompok harus mendapat kesempatan mengeluarkan pendapat secara bebabas dan langsung,

3) memiliki tujuan dan kerja sama anatar anggota kelompok,

4) berlangsung mengikuti proses yang teratur dan sistematis menuju suatu kesimpulan.


 

6.6.1 Kelebihan dan Kekurangan

a. Kelebihan

Diskusi kelompok kecil mempunyai kelebihan yang dapat dimanfaatkan secara baik dalam pembelajaran, di antaranya adalah:

  1. kelompok memiliki sumber informasi yang lebih banyak dari pada individu, karena itu dapat menghasilkankan keputusan lebih baik daripada keputusan individu.
  2. anggota kelompok sering mendapat motivasi dari anggota yang lain,
  3. anggota yang pemalu lebih berani berinteraksi pada kelompok kecil daripada kelompok besar,
  4. anggota kelompok mempunyai ikatan yang kuat terhadap keputusan yang diambil karena keterlibatannya dalam pengambilan keputusan,
  5. partisipasi dalam diskusi akan meningkatkan saling pengertian antar individu dalam satu kelompok dan dalam kelompok yang lain.

b. Kekurangan

Di samping memiliki kelebihan, diskusi kelompok
juga memilki kelemahan atau keterbatasan, di antaranya adalah:

1) diskusi kelompok memakan waktu yang lebih banyak daripada cara belajar biasa,

2) sering terjadi pemborosan waktu, misalnya diskusi yang tidak berjalan dengan baik dapat melantur dan tidak relevan dengan masalah yang dibahas,

3) anggota yang kurang aktif (pendiam dan pemalu) sering tidak berminat dengan diskusi,

4) diskusi sering didominasi oleh anggota tertentu saja,

5) sering juga terjadi penekanan pendirian, misalnya dalam diskusi kelompok kecil ditemukan perbedaan pendapat dengan dukungan yang berbeda. Kelompok yang satu mendukung pendapat seorang, sementara kelompok yang lain mendukung pendapat yang lainnya. Anak didik yang perndapatnya selalu kurang mendapat dukungan karena dianggap kurang rasional dan tidak argumentatif, terpaksa menekan pendiriannya dan di lain kesempatan ia akan pesimis atau kurang percaya diri dalam mengemukan pendapatnya, walaupun pendapatnya itu rasional dan argumentatif.


 

6.6.2 Penggunaan dalam kelas

Pelaksanaan diskusi di dalam kelas masih memerlukan bimbingan dari guru. Oleh karena itu, guru harus mempunyai keterampilan dalam membimbing diskusi. Di sampingmitu, fungsi pimpinan diskusi sangat penting dan menentukan. Oleh karena itu, guru harus melatih pimpinan diskusi sebalum kegiatan, dan kemudian mengarahkan jalannya diskusi dari awal sampai akhir.

Diskusi kelompok kecil sangat bermanfaat untuk memberikan pengalaman pendidikan bagi anak didik yang terlibat di dalamnya. Potensi yang berpengaruh terhadap partisipasi adalah seperti saling memberi informasi, mengeksplorasi ide atau gagasan, meningkatkan pemahaman baru terhadap hal-hal yang baru. Kemudian, diskusi juga dapat mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan ketrampilan perpikir dan ketrampilan berkomunikasi secara efektif. Selanjutnya dengan keterlibatan anak didik dalam perencanaan, pengambilan keputusan, bekerjasama kelompok, saling menghargai dan toleransi, semuanya ini mempersiapkan anak didik untuk berpartisipasi dan berinteraksi dalam masyarakat.

Yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan diskusi kelompok kecil agar dapat efektif dan efisien adalah, guru harus menjalankan fungsinya sebagai pembimbing. Sebagai pembimbining, yang harus diperhatikan guru adalah:

a. Diskusi harus dilakukan dalam duasana terbuka

Diskusi yang baik harus dilaksanakan dalam suasana bebas terpimpin, suasana intim yang ditandai dengan kehangatan antarpribadi, kesedian menerima pendapat orang lain, menghargai pendapat orang lain, antusias terhadap topik diskusi, memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, dan menikmati diskusi.

b. Perlunya perencanaan yang matang, m eliputi:

1) pemilihan topik atau masalah yang akan didiskusikan. Untuk ini tiga hal yang perlu

dipertimbangkan, adalah: (1) minat anak didik, (2) kemampuan anak didik, dan (3) bermakna bagi peningkatan kemampuan berpikir anakdidik.

2) guru dapat memastikan, bahwa anak didik memiliki latar belakang pengetahuan dan informasi yang cukup untuk mendiskusikan topik secara baik,

3) diskusi kelompok kecil harus dipersiapkan secar baik, guru harus benar-benar siap sebagai sumber informasi, motivator, mengajukan pertanyaan kunci, mengatur jalannya diskusi, membimbing dan memberi stimulasi terhadap tanggapan anak didik.

4) menetapkan besarnya kelompok berdasarkan:pengalaman, kematangan dan keterampilan anak didik,

5) mengatur tempat duduk yang memberi kesempatan bagi semua anggota kelompok bertatap muka.

Untuk meningkatkan dan partisipasi, anak didik harus duduk saling berhadapan sehingga saling melihat atau memandang.


 

6.6.3 Komponen Keterampilan

a. Pemusatan perhatian

Pemusatan perhatian anak didik pada tujuan dan topik diskusi dapat dilakukan

Dengan cara-cara berikut:

  1. merumuskan tujuan pada awal diskusi,
  2. merumuskan masalah khusus dan merumuskannya kembali bila terjadi penyimpangan;
  3. mengenal dengan cermat materi yang tidak relevan atau menyimpang dari tujuan,
  4. membuat rangkuman sementara pada setiap akhir tahap diskusi terhadap hal-hal yang disepakati, sebelum melanjutkan pada tahap berikutnya.


 

b. Memperjelas Masalah

Selama diskusi berlangsung, sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas, sehingga sukar ditangkap oleh perserta diskusi. Keadaan seperti ini sering menimbulkan kesalah pahaman sehingga kondisi diskusi dapat menjadi tegang.
Untuk itu, perlu peran guru menjelaskan ide atau permasalahan yang kurang jelas tersebut. Memperjelas masalah ini dapat dilakukan dengan cara:

  1. menguraikan kembali atau merangkum ide atau gagasan yang berkembang dalam diskusi yang masih membingungkan,
  2. menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang membantu mereka memperjelas ide tersebut,
  3. menguraikan gagasan anak didik dengan jalan memberi penjelasan atau informasi atau contoh yang sesuai sehingga memperjelas pemahaman.


 

c. Menganalisis pandangan anak didik

Dalam diskusi sering terjadi perbedaan pendapat di antara anggota kelompok. Guru harus mampu menganalisis perbedaan pendapat yang terjadi dalam diskusi itu, supaya tidak membingungkan. Komponen ini penting dalam diskusi, karena akan menggali nilai-nilai yang dapat memberi harapan untuk membuat keputuusan atau sampai konsensus (kesepakatan).


 

d. Meningkatkan kontribusi anak didik

Komponen yang juga penting dalam membimbing diskusi kelompok kecil adalah peningkatan sumbangan (kontribusi) pikiran anak didik, sehingga diskusi dapat hidup dan semua peserta berminat untuk berpartisipasi. Cara yang dapat dilakukan adalah:

1) mengajukan pertanyaan kunci yang dapat meningkatkan diskusi,

2) menggunakan stimulasi berupa contoh-contoh verbal maupun nonverbal,

3) memancing pikiran anak didik dengan membuat komentar bertentangan (kontro-versial),

4) menunggu partisipasi anak didik dengan tenang, tetapi juga mengharapkan sumbangan pikiran anak didik, daripada hanya mengsi dengan pembicaraan yang asal bicara,

5) memberi dukungan terhadap sumbangan pikiran anak didik dengan mendengarkan

penuh perhatian, pemberian komentar positif.


 


 

e. Mendistribusikan kesempatan berpartisipasi

Semua anggota kelompok seharusnya memiliki kesempatan untuk berpartisipasi menyumbangan pikiran. Dalam usaha mendistribusikan partisipasi kepada anak didik, guru dapat melakukan:

  1. secara berhati-hati meminta pandangan anak didik yang kurang berpartisipasi dengan menghargaia pendapatnya,
  2. mencegah keributan sehingga pembicaraan seseorang dapat didengar oleh semua anggota,
  3. mencegah anak didik yang cenderung memonopoli dalam diskusi,
  4. meminta persetujuan sementara untuk menghindari jalan buntu dan memperluas wawasan,
  5. meningkatkan penjelasan atau pemberian komentar terhadap pendapat anak didik lainnya sehingga interaksi antar anak didik dapat terjadi dengan baik.


 

f. Menutup diskusi

Proses diskusi harus berjalan sampai penutup. Ketrampilan terakhir yang harus dimilki guru adalah menutup diskusi. Menutup diskuasi dapat dilakukan guru dengan cara berikut:

  1. merangkum hasil diskusi secara jelas dan singkat pada hal-hal yang penting, atau dengan formulasi yang dimiliki anak didik, atau dengan menarik kesimpulan,
  2. memberikan topik diskusi berikutnya, atau menyebutkan kerja tindak lanjut untuk kelompok.
  3. guru melibatkan anak didik dalam mengevaluasi hasil atau proses diskusi kelompok kecil.


 

Hal-hal yang perlu dihindari dalam diskusi

Agar dapat menguasai keenam komponen keterampilan dalam melaksanakan diskusi kelompok kecil tersebut, maka guru hendaklah menghindari hal-hal berikut:

  1. Menyelenggarakan diskusi dengan topik yang tidak sesuai dengan minat dan latar belakang pengetahuan serta pengalaman anak didik.
  2. Mendominasi diskusi melalui pertanyaan yang terlalu banyak, dan menyediakan jawaban yang terlalu banyak juga, sehingga anak didik tidak diberi kesempatan.
  3. Membiarkan anak didik tertentu memonopoli diskusi.
  4. Membiarkan terjadinya penyimpangan dalam diskusi.
  5. Gagal berdiskusi karena rendahnya partisipasi anggota.
  6. Tergesa-gesa dalam pelaksanaan diskusi sehingga guru tidak punya waktu untuk perpikir dan memformulasi tanggapan anak didik.
  7. Tidak memperjelas ide atau gagasan anak didik yang masih kabur bagi anggota lain,
  8. Gagal mengakhiri diskusi dengan suatu formulasi atau kesimpulan.


 

6.7 Keterampilan Mengelola Kelas

6.7.1 Pengertian

Yang dimaksud dengan keterampilan mengelola kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar secara optimal. Apabila terdapat gangguan dalam proses pembelajaran, guru dapat mengembalikan kondisi ini ke kondisi pembelajaran yang optimal. Keterampilan mengelola kelas termasuk di antaranya tindakan mendisiplin kelas.

Pengelolaan kelas merupakan masalah yang rumit. Dalam pengelolaan kelas ini, guru berupaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang kondusif, untuk terjadinya pembelajaran yang optimal, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Keterampilan guru dalam mengelola kelas yang diperlukan, terutama pengelolaan kelas yang efektif. Karena, pengelolaan kelas yang efektif adalah syarat bagi pembelajaran yang efektif. Tugas utama dan yang paling sulit dilakukan guru dalampembelajaran adalah mengelola kelas. Pendekatan dan metode pembelajaran tidak akan dapat berjalan dengan baik bila pengelolaan kelas tidak terlaksana secara baik.

Setiap guru masuk ke dalam kelas, maka pada saat itu pula ia menghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah manajemen.. Masalah pengajaran adalah usaha membantu anak didik untuk mencapai tujuan khusus pembelajaran Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa, sehingga proses proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

6.7.2 Tujuan

Semua komponen keterampilan mengelola kelas mempunyai tujuan, baik untuk anak didk maupun guru, yaitu:

  1. Tujuan untuk anak didik
    1. mendorong anak didik mengembangkan tanggung jawab individu terhadap tingkah lakunya, serta sadar untuk mengendalikan dirinya,
    2. membantu anak didik ke arah perilaku yang sesuai dengan tata tertib kelas dan memahami bahwa teguran guru merupakan suatu peringatan bukan kemarahan,
    3. menimbulkan rasa berkewajiban melibatkan diri dalam tugas dan berperilaku yang wajar dalamkegiatan pembelajaran.
  2. Tujuan untuk guru
    1. melatih keterampilam guru mengembangkan pemahaman dan keterampilan dalam penyajian pelajaran dengan langkah-langkah (sintaks) yang tepat,
    2. menyadari dan memenuhi kebutuhan anak didik serta mengembangkan kompetensinya,
    3. memberi respon secara efektif terhadap perilaku anak didik yang menyimpang.
    4. merangsang pemikiran guru untuk mengembangkan strategi pengelolaan kelas yang tepat sesuai kondisi kelas.


 

6.7.3 Prinsip Penggunaan

a. Kehangat dan keantusiasan

Guru yang bersifat hangat dan akrab dengan anak didik akan menunjukan keantusiasan terhadap tugasnya atau aktivitasnya dan akan berhasil dalam pengelolaan kelas.

b. Menantang

Penggunaan kata-kata yang bersifat action, cara kerja, atau bahan- bahan yang menantang (baru bagi anak) akan meningkatkan gairah dan menarik perhatian anak didik untuk belajar, sehingga mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang menyimpang karena bosan.


 


 

c. Bervariasi

Penggunaan alat atau media, gaya mengajar dan pola interaksi akan mengurangi munculnya gangguan akibat kebosanan dan dapat meningkatkan perhatian anak didik. Apalagi bila penggunaannya bervariasi, sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya, merupakan kunci tercapainya pengelolaan kelas yang efektif.

d. Keluwesan

Keluwesan perilaku guru untuk mengubah strategi mengajar sesuai kondsi kelas dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan dari anak didik serta menciptakan iklim belajar yang efektif.

e. Penekanan pada hal- hal yang positif

Penekanan pada hal-hal yang positif, yaitu penekanan yang dilakukan guru terhadap perilaku anak didik yang positif dan menghindari yang negatf. Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif dan guru berupaya menghindari kesalahan yang dapat mengganggu jalannya proses pembelajaran.

f. Penekanan disiplin

Tujuan akhir pada pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri sendiri. Karena itu, guru sebaiknya mendorong anak didik untuk melaksanakan disiplin diri dan menjadi teladan dan pandai mengendalikan diri serta melaksanakan tanggung jawab.


 

6.7.4 Komponen Keterampilan

a. Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan pondisi belajar yang optimal

Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran. Aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan ini ialah sebagai berikut :

  1. Menunjukan sikap tanggap

    Komponen ini ditunjukan oleh perilaku guru, bahwa guru hadir bersama anak didik. Guru tahu kegiatan anak didik, apakah memperhatikan atau tidak, dan tahu apa yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegurnya walaupun sedang menulis di papan tulis. Sikap tanggap ini dapat dilakukan dengan cara:

    1. Memandang secara seksama

    Memandang secara seksama dapat mengundang dan melibatkan anak didik dalam kontak pandang serta interaksi antarpribadi. Hal ini ditampakkan dalam pendekatan guru untuk bercakap-cakap, bekerja sama, dan menunjukan rasa persahabatan.

    1. Gerakan mendekati

      Gerak guru dalam posisi mendekati kelompok kecil atau individu menandakan kesiagaan, kesenangan dan perhatian guru terhadap tugas serta aktivitas anak didik. Gerak mendekati hendaklah dilakukan secara wajar, bukan untuk menakut-nakuti, mengancam atau memberi kritikan dan hukuman.

    2. Memberi pernyataan

      Pernyataan yang diberikan terhadap sesuatu yang dikemukakan oleh anak didik sangat diperlukan, baik berupa tanggapan, komentar ataupun yang lain. Akan tetapi, hindarilah hal-hal yang menunjukkan dominasi guru, apalagi yang bersifat negatif misalnya dengan komentar atau pernyataan yang mengandung ancaman seperti: " saya tuggu sampai kalian diam!" " saya atau kalian yang keluar?" atau " siapa yang tidak senang dengan pelajaran saya, silakan keluar!"

    3. Memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan

      Kelas tidak selamanya tenang.Pasti terdapat gangguan. Hal ini perlu disadari guru jangan dibiarkan. Teguran perlu dilakukan guru untuk mengembalikan keadaan kelas. Teguran ini menandakan bahwa guru ada bersama anak didik dan anak didik sadar akan keberadaan guru. Teguran haruslah diberikan pada satu dan sasaran yang tepat, sehingga dapat mencegah meluasnya penyimpangan perilaku.


       


       


       

  1. Membagi Perhatian

    Pengelolaan kelas yang efektif terjadi bila guru mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang sama. Membagi perhatian dapat dilakukan dengan cara.

    1. Visual

      Guru dapat mengubah pandangannya dalam memperhatikan kegiatan pertama, sehingga dapat melirik ke kegiatan kedua, tanpa kehilangan perhatian pada kegiatan pertama. Kontak pandangan ini dilakukan terhadap kelompok anak didik atau individu anak didik.

    2. Verbal

      Guru memberi komentar, penjelasan, pertanyaan, dan sebagainya terhadap aktivitas anak didik pertama, sementara ia memimpin dan terlibat supervisi pada aktivitas anak didik yang lain.

3) Pemusatan perhatian kelompok

Pemusatan perhatian kelompok dapat dilakukan dengan hal-hal sebagi berikut:

(1) Meniagakan anak didik

Misalnya menciptakan atau membuat situasi tenang sebelum memperkenalkan suatu objek, pertanyaan, atau topik, denagan memilih anak didik secara random untuk meresponnya.

(2) Menuntut tanggung jawab anak didik

Setiap anak didik sebagai anggota kelompok harus bertanggung jawab terhadap kegiatan sendiri maupun kegiatan kelompoknya, misalnya, dengan meminta kepada anak didik memperagakan, melaporkan hasil, dan memberi tanggapan.

4) Pengarahan dan petunjuk jelas

Guru harus seringkali memberi pengarahan dan petunjuk yang jelas dan singkat dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, sehingga anak didik tidak menjadi bingung. Pengarahan dan petunjuk dapat dilakukan pada seluruh anggota kelas, kepada kelompok kecil, ataupun kepada individu dengan bahasa dan tujuan yang jelas.


 

5) Menegur

Tidak semua gangguan perilaku dapatat dicegah, atau dihindari. Yang diperlukan disini adalah guru dapat menegur anak didik yang nyata-nyata melanggar dan mengganggu kegiatan di kelas. Cara untuk menghentikan gangguan ini adalah dengan mengomeli atau membuat persetujuan mengenai prosedur dan aturan yang merupakan bagian dari pelaksanaan dan proses interaksi edukatif. Cara membuat persetujuan lebih baik dari pada dengan mengomeli karena kurang dibenarkan dalam pendidkan, sebab tidak mendidk.

Teguran yang dilakukan guru adalah salah satu cara untuk menghentikan gangguan anak didik. Teguran verbal dibenarkan dalam pendidkan. Teguran verbal yang efektif memenuhu syarat-syarat sebagai berikut:

(1) Tegas dan jelas tertuju kepada anak didik yang mengganggu serta kepada

perilakunya yang menyimpang;

(2) Menghindari peringatan yang kasar dan menyakitkan atau yang mengandung

penghinaan; dan

(3) Menghindari ocehan atau ejekan, lebih-lebih yang berkepanjangan.

6) Memberi penguatan

Penggunaan penguatan untuk mengubah perilaku merupakan strategi remedial untuk megatasi anak didik yang terus mengganggu atau yang tidak melakuka tugas, Pemberian penguatan yang sederhana antara lain adalah :

(1) Dengan memberikan penguatan positif bila anak didik telah menghentikan

gangguan atau kembali pada tugas yang diminta; dan

(2) Dengan mengguanakan penguatan positif terhadap anak didik yang lain yang

tidak mengganggu dan dipakai sebagai model perilaku yang baik bagi

anak didik yang suka mengganggu.

7) Kelancaran

Kelancaran atau kemajuan anak didik dalam belajar adalah indikator bahwa anak didik dapat memusatkan perhatiannya pada pelajaran yang diberikan dikelas. Hal ini perlu didukung dan jangan diganggu dengan hal-hal lain yang bisa membuyarkan konsentrasi anak didik.


 

Kesalahan-kesalahan yang harus dihindari guru dalam pengelolaan kelas, yaitu:

1) Campur tangan yang berlebihan

Apabila guru menyela kegiatan yang sedang berlangsung dengan komentar, pertanyaan, atau petunjuk yang mendadak, kegiatan itu akan terganggu atau terputus. Hal ini akan memberikan kesan kepada anak didk, bahwa guru tidak memperhatikan partisipasi dan kebutuhan anak didik. Ia hanya ingin memuaskan kehendak sendiri.

2) Membuang waktu

Hal ini terjadi jika guru gagal melengkapi suatu instruksi, penjelasan, petunjuk atau komentar, dan kemudian menghentikan penjelasan atau sajian tanpa alasan yang jelas. Hal ini juga dapat terjadi dalam bentuk waktu diam yang terlalu lama, kehilangan akal atau melupakan langkah-langkah dalam pelajaran. Akhinya membiarkan pikiran anak didik mengawang-awang, melantur dan ini mengganggu keefektifan serta kelancaran dalam pembelajaran.

3) Menyimpang dari pokok bahasan

Karena guru terlalu asyik dalam menyampaikan bahan pelajaran, sehingga pada waktu tertentu penjelasannya atau pembicaraannya menyimpang dari pokok persoalan. Penyimpangan ini dapat mengganggu kelancaran kegiatan belajar anak didik.

4) Berhenti dan memulai kegiatan yang tidak tepat

Ketidaktepatan mengakhiri dan memulai kegiatan dapat terjadi bila guru memulai aktivitas tanpa mengakhiri aktivitas sebelumnya, menghentikan kegiatan pertama, memulai kegiatan yang kedua, kemudian kembali pada kegiatan yang pertama lagi. Dengan demikian, guru tidak dapat mengendalikan situasi kelas dan akhirnya mengganggu kelancaran kegiatan belajar anak didik.

5) Kecepatan pembelajaran yang tidak sesuai

Kecepatan di sini diartikan sebagai tingkat kemajuan yang dicapai anak didik dalam suatu pelajaran. Ada dua kesalahan yang harus dihindari, bila kecepatan yang ideal mau dipertahankan:

  1. Hindari bertele-tele

    Kesalahan ini terjadi bila pembicaraan guru bersifat mengulang-ulang hal tertentu, memperpanjang keterangan atau penjelasan, mengubah teguran yang sederhana menjadi cobaan atau kupasan yang panjang.

  2. Hindari pengulangan penjelasan yang tidak perlu

    Kesalahan lain yang perlu dihindari adalah pengulangan penjelasan yang tidak perlu. Kesalahan ini muncul bila guru memberi petunjuk pengajaran atau penjelasan kepada kelompok kecil anak didik atau secara individu, yang sebenarnya sudah diberikan dalam kelas atau kelompok besar secara bersama.


 

b. Keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang

optimal.

Keterampilan ini berkaitan dengan upaya guru mengatasi gangguan anak didik yang berkelanjutan, dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan perbaikan untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan yang berulang-ualang, walaupun guru telah berupaya mengatasinya tapi masih belum berhasil, guru dapat meminta bantuan kepala sekolah, konselor sekolah, atau orang tua anak didik untuk membantu mengatasinya.

Walaupun bukan kesalahan profesional guru, apabila ia tidak dapat menangani setiap masalah anak didik dalam kelas, tapi ketrampilan ini penting dimiliki. Pada kondisi tertentu guru perlu mengguanakan seperangakat strategi untuk melakukan perbaikan terhadap perilaku anak didik yang terus-menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas di kelas. Di antara strategi yang dapat dilakukan adalah:

  • Modifikasi perilaku

    Guru hendaknya menganalisis perilaku anak didik yang mengalami masalah atau kesulitan dan berusaha memodfiikasi perilaku tersebut ke arah positif dengan mengaplikasikan pemberian penguatan dan pendekatan edeukatif secara kontinu dan sistematis.

  • Guru dapat menggunakan pendekatan pemecahan masalah kelompok dengan cara:
    • Membimbing mengerjakan tugas-tugas

      Mengusahakan terjadinya kerja sama yang baik antara guru anak didik dan antara anak didik sesamanya dalam pelaksanaan tugas.

    • Membudayakan kegiatan-kegiatan kelompok

      Membudayakan dan memulihkan semangat anak didik dan menangani konflik yang timbul dengan kegiatan-kegiatan kelompok.

  • Mengatasi perilaku yang menyimpang dan menimbulkan masalah dalam kelas.

    Guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan perilaku keliru yang muncul, dengan mengetahui sebab-sebab dasar yang mengakibatkan ketidakpatutan perilaku tersebut serta berusaha untuk menemukan pemecahannya.


 

6.7.5 Beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam pengelolaan kelas

a) Pendekatan kekuasaan

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses mengontrol perilaku anak didik. Peran guru disini adalah menciptakan dan mempertahankan situasi disiplin dalam kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut anak didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam bentuk norma mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya.

b) Pendekatan ancaman

Dalam pendekatan ini, pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses mengontrol perilaku anak didik. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara memberi ancaman, misalnya melarang, menyindir, dan memaksa.

c) Pendekatan Kebebasan

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses membantu anak didik untuk merasa bebas mengerjakan sesuatu kapan saja dan dimana saja dalam lingkup edukatif. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan anak didik terjadi dalam pembelajaran.

d) Pendekatan Resep

Pendekatan ini dilakkan dengan mendaftar apa yang harus ada dan apa yang tidak boleh dikerjakan guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas Dalam daftar ini digambarkan tahap demi tahap yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru adalah mengikuti petunjuk sesuai yang tertulis dalam resep.

e) Pendekatan perilaku guru dalam pengajaran

Pendekatan ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa pemecahan dan pelaksanaan akan mencegah munculnya masalah perilaku anak didik, dan pemecahan diperlukan bila masalah tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan perilaku guru dalam mengajar dapat mencegah atau menghentikan perilaku anak didik yang kurang baik. Peranan guru adalah mengimplementasikan pelajaran dengan perilaku yang baik.

f) Pendekatan pengubahan perilaku

Sesuai dengan namanya, pengelolaan kelas disini diartikan sebagai suatu proses mengubah perilaku anak didik. Peranan guru adalah mengembangkan perilaku anak didik yang baik dan mencegah perilaku yang kurang baik.

g) Pendekatan sosioemosional

Menrut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim sosioemosional yang positif dalam kelas. Sosiemosional yang positif artinya adanya gubungan yang positif antara guru dengan anak didik, atau antara anak didik dengan anak didik. Disini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat.

h) Pendekatan proses kelompok

Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses menciptakan kelas sebagai suatu sistem sosial dan proses kelompok. Peran guru adalah mengusahakan agar pengembangan dan pelaksanaan proses itu efektif. Proses kelompok adalah usaha mengelompokan anak didik dalam beberapa kelompok dengan berbagai pertimbangan individual sehingga tercipta kelas yang bergairah dalam belajar.

i) Pendekatan ganda (multiple approach)

Pada pendekatan ganda, pengelolaan kelas berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan proses interaksi edukatif berjalan efektif dan efisien. Disini bebas memilih dan memmadukan pendekatan yang sesuai dan dapat dilaksanakan.


 


 


 


 

6.8 Keterampilan Mengajar Kelompok Kecil dan Perorangan

6.8.1 Rasional

Telah cukup lama dikembangkan upaya meningkatkan peranan anak didik dan mengurangi peranan guru dalam proses pembelajaran dengan berbagai istilah seperti cara belajar siswa aktif" (CBSA), active learning, dan student center. Salah satu cara dari sekian banyak cara untuk meningkatkan keaktifan anak didik dalam pembelajaran adalah dengan mengembangkan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Jumlah anak didik dalamsatu kelompok berkisar antara 3 – 8 orang. Guru menghadapi banyak kelompok dan banyak individu dalam satu kelas. Keterampilan ini akan meningkatkan aktivitas guru dan anak didik yang terlibat, juga keterampilan guru dalam mengorganisasi proses interaksi edukatif dalam pembelajaran. Hubungan interpersonal dan sosial, dan mengorganisasi adalah hal yang penting untuk menyukseskan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Karena itu, guru harus memiliki keterampilan melakukan hubungan antarpribadi, bila ingin mengaplikasikan keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.


 

6.8.2 Pengertian

Ketrampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan keterampilan guru mengaktifkan anak didik belajar (active learning) dalam bentuk kelompok dan perorangan sehingga pembelajaran berjalan optimal. Di sampingitu, pengelompokan anak didik dalam proses interaksi edukatif merupakan suatu bentuk organisasi sosial dalam pembelajaran.

Dalam pengajaran secara klasikal, perbedaan individu jarang mendapat perhatian. Biasanya semua anak didik dalam kelas dianggap mempunyai kebutuhan, kemampuan, dan kecepatan yang sama, karena itu diperlakukan dengan cara yang sama. Dalam pembelajaran jarang terpikirkan oleh guru memberikan atau menyediakan kesempatan yang berbeda sesuai kondisi dan kebutuhan anak didik, padahal ini penting. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh guru dalam rangka memperhatikan perbedaan anak didik ini adalah dengan pengajaran kelompok kecil dan perorangan.

Hakekat pengajaran kelompok kecil dan perorangan adalah:

  1. Terjadinya hubungan interpersonal yang sehat dan akrab antara guru-anak didik, anak didik-anak didik (pola interaksi multiarah).
  2. Anak didik belajar sesuai dengan kecepatan, cara, kemampuan, dan minatnya sendiri.
  3. Anak didik mudah mendapat bantuan dari guru sesuai kebutuhannya.
  4. Anak didik terlibat aktif dalam pembelajaran, mereka dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar yang akan ditempuh, materi dan alat yang akan dugunakan, bahkan tujuan yang akan dicapai.

Peran guru dalam pengajaran kelompok kecil dan perorangan adalah sebagai:

1) organisator kegitan pembelajaran,

2) sumber informasi bagi anak didik,

3) motivator bagi anak didik untuk aktif belajar,

4) fasilitator bagi anak didik dalam pembelajaran,

5) pendiagnosa kesulitan dan memberi bantuan bagi anak didik sesuai kebutuhan mereka,

6) pembimbing, pengarah, penyumbang ide dalam memecahkan masalah.


 

6.8.3 Penggunaan dalam kelas

Dalam mengajar kelompok kecil dan perorangan, guru bertindak sebagai operator dalam sistem tersebut. Dalam rangka memberikan kesempatan kepada anak didik untuk belajar dalam kelompok kecil maupun perorangan, diperlukan variasi pengorganisasian dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaannya.

(a) Variasi Pengorganisasian

Empat model variasi pengorganisasian yang diusulkan oleh Tim P3G (1985), yaitu:


 


 


 


 


 


 


 


 


 

MODEL A


 

    = Kelompok kecil


 

    = Perorangan


 

Keterangan :

Pelajaran diawali dengan pertemuan klasikal untuk memberi informasi dasar, penjelasan tentang tugas yang akan dikerjakan, serta hal-hal lain yang dianggap perlu. Dalam model A ini, setelah pertemuan kelas, anak didik diberi kesempatan untuk memilih kegiatan dengan bekerja dalam kelompok kecil atau bekerja secara perorangan. Setelah waktu yang ditetapkan berakhir, pelajaran diakhiri dengan pertemuan kelas kembali untuk melaporkan hasil kerja yang telah dilakukan.


 


 


 


 


 


 


 


 

MODEL B


 

Kelompok kecil

Keterangan:

Pertemuan dimulai dengan pengarahan atau penjelasan secar klasikal tentang informasi dasar, materi, tugas, serta cara kerja yang dilakukan. Setelah itu anaka didil langsung bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang diakhiri dengan laporan kelompok yang diserahkan kepada guru.


 

MODEL C


 


 


 


 

Perorangan


 

Kelompok kecil

    

Keterangan:

Pertemuan diawali dengan penjelasan secra klasikal. Setelah itu, anak didik langsung bekerja secara perorangan dan kemudian bergabung dalam kelompok kecil untuk mengolah hasil yang dicapai dan diakhiri dengan laporan kelompok.


 


 


 


 


 

MODEL D


 

Keterangan:

Pertemuan diawali dengan penjelasan klasikal tentang kegiatan atau tugas yang akan dilaksanakan. Setelah itu anak didik langsung bekerja secara perorangan sesuai kontrak dengan guru samapai batas waktu yang ditetapkan.


 

(b) Hal-hal yang perlu diperhatikan

(1) Bagi guru yang sudah terbiasa dengan pengajaran klasikal, sebaiknya dimulai dengan pengajaran kelompok, kemudian secra bertahap mengarah kepada pengajaran perorangan. Sedangkan bagi calon guru sebaiknya dimulai dengan pengajaran perorangan, kemudian secara bertahap kepada pengajaran kelompok kecil.

(2) Tidak semua topik atau pokok bahasan dapat dipelajari secara efektif dalam kelompok kecil maupun perorangan. Hal-hal yang bersifat umum seperti penjelasan tentang konsep-konsep yang sudah umum sebaiknya diberikan dalam kelas besar.

(3) Dalam pengajaran kelompok kecil, langkah pertama adalah mengorganisasikan anak didik, sumber, materi, ruangan, serta waktu yang diperlukan.

(4) Kegiatan pengajaran kelompok kecil yang efektif diakhiri dengan suatu kulminasi yang dapat berupa: rangkuman, pemantapan materi, laporan dan sebagainya.

(4) Dalam pengajaran perorangan, guru harus mengenal anak didik secara pribadi sehingga kondisi belajar dapat diatur dengan tepat.

(5) Kegiatan dalam pengajaran perorangan dapat berupa bekerja bebas dengan bahan yang telah disiap pakai atau melalui paket belajar telah disiapkan oleh guru.


 


 

6.8.4 Komponen-komponen keterampilan

1) Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi

Salah satu prinsip pengajaran kelompok kecil dan perorangan adalah terjadinya hubungan yang akrab dan sehat antara guru dan anak didik dan anak didik dengan anak didik. Hal ini dapat terwujud bila guru memiliki keterampilan berkomunikasi secara edukatif dengan setiap anak didik. Untuk mencapai hal ini yang harus dilakukan guru adalah:

  1. Menangggapi secara positif dan menghargai pertanyaan, pikiran atau ide yang dikemukakan anak didik.
  2. Membantu anak didik memecahkan masalah yang dihadapi dalambelahar.
  3. Tidak mendominasi pembicaraan bila berdiskusi dengan anak didik.
  4. Menghargai dan menerima perbedaan pendapat anak didik.
  5. Mendorong anak didik untuk berani mengeluarkan pendapat atau ide.


 

2) Keterampilan mengorganisasi kelas

Selama kegiatan kelompok kecil atau perorangan berlangsung, guru berperan sebagai organisator yang mengatur dan memonitor kegiatan dari awal hingga akhir. Untuk itu diperlukan keterampilan guru sebagai berikut:

  1. Orientasi umum kegiatan, seperti menetapkan tujuan, masalah atau tugas, menentukan pembagian kerja sebelum pembagian kelompok dan perorangan dilakukan.
  2. Membagi kegiatan yang meliputi menyiapkan tempat kerja, peralatan, prosedur, aturan yang digunakan, dan aspek-aspek khusus yang jelas untuk anak didik.
  3. Membagi kelompok secara tepat, mengatur tugas dan menyediakan sumber-sumber yang dapat digunakan.
  4. Mengkoordinir jalannya diskusi dalam membahas materi atau memecahkan masalah.
  5. Membagi perhatian terhadap berbagai macam kegiatan, baik yang dikerjakan secara kelompok maupun perorangan.
  6. Pada akhir kegiatan, guru membantu anak didik mengambil kesimpulan atau menegaskan pemahaman konsep


 

3) Keterampilan membimbing dan memudahkan anak didik

  1. Dalam membantu anak didik untuk memajukan kegiatan belajarnya dengan meminimalkan frustasi, guru perlu menggunakan berbagai variasi pemberian penguatan secara verbal dan nonverbal kepada kelompok dan perorangan.
  2. Guru juga memerlukan pengembangan supervisi, termasuk di dalamnya memberi tanda kepada perorangan dan seluruh peserta untuk melihat apakah semuanya telah berjalan dan telah mulai bekerja sesuai dengan tujuan.
  3. Mengembangkan supervisi proses lanjut, dengan cara guru berkeliling sehingga sebagai narasumber dapat dimanfaatkan, memberi bantuan bila diperlukan, dan sebagai interaksi langsung guru dengan anak didik ialah memberi tutorial, melibatkan diri dalam kegiatan anak didik, sebagai pemimpin diskusi, atau sebagai katalisator untuk meningkatkan anak didik dalam belajar dan berpikir melalui pertanyaan, komentar dan nasehat.
  4. Tahap akhir dari keterampilan ini adalah mengadakan supervisi pemaduan yang memusatkan perhatian pada penilaian pencapaian tujuan dari berbagai kegiatan yang dilakukan dalam rangka menyiapkan rangkuman dan pemantapan, sehingga anak didik saling belajar dan memperoleh wawasan yang menyeluruh. Ini dilakukan dengan mendatangi kelompok, menilai kemajuannya, dan menyiapkan mereka untuk mengikuti kegiatan akhir dengan cara yang efektif. Untuk maksud ini adalah dengan mengingatkan anak didik akan waktu yang masih tersisa untuk menyelesaikan tugas.


 

4) Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegitanan pembelajaran


Tugas guruyang utama adalah membantu anak didik melakukan kegiatan belajar, baik secara perorangan maupun secara berkelompok. Untukitu, guru harus mampu membuat perencanaan kegiatan belajar yang tepat bagi setiap anak didik atau kelompok, dan sekaligus mampu melaksnakannya. Keterampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan pembelajaran tersebut mencakup keterampilan-keterampil-an seperti berikut:

  1. Membantu anak didik menetapkan tujuan pelajaran.
  2. Merencanakan kegiatan belajar bersama anak didik, yang mencakup kriteria keberhasilan, langkah-langkah kerja, waktu, dan kondisi belajar.
  3. Bertindak atau berperan sebagai penasehat bagianak didik bila diperlukan.
  4. Membantu anak didik menilai pencapaian dan kemajuannya sendiri.


 

6.9 Keterampilan Mengembangkan dan Menggunakan Media Pembelajaran

    Keterampilan mengembangkan media pembelajaran maksudnya ketrempilan guru dalam merancang atau menciptakan atau memodifikasi media sederhana dan membuat soft ware media elektronik atau multimedia, serta mengimplementasikannya dalam pembelajaran. Kehadiran media dalam pembelajaran sangat penting. Tanpa media, penyajian materi pelajaran menjadi kurang menarik, bahkan materi menjadi sulit dipahami dan membosankan. Dengan bantuan media anak didik bisa belajar mandiri. Oleh karenanya, guru jangan malas mempelajari, mengembangkan dan menggunakan media dalam pembelajaran.

Sering terjadi di lapangan, guru suka berceramah saja dan lupa atau menggunakan media. Seharusnya tidak jangan terjadi demikian. Apalagi, seperti pelajaran sains yang seharusnya bersifat konkrit menjadi abstrak karena diceritakan saja tanpa media. Seharusnya dapat diperlihatkan media asli, kalau tidak bisa didapatkan dapat media model, seminimalnya media gambar atau sket. Sekarang berkat kemajuan sains dan teknologi, multimedia dan Information and Communication Technology (ICT) sudah digunakan dalam pembelajaran. Semua guru harus mengikuti perkembangan ini, kalau tidak guru akan menjadi ketinggalan zaman.


 

6.10 Keterampilan Mengembangkan ESQ

6.10.1 Pengertian

Emotional Spiritual Quotient (ESQ) adalah dua kecerdasan yang dimiliki manusia di samping kecerdasan intelektual atau inteligence quotient (IQ), yaitu kecerdasan emosional atau emotional
quotient (EQ) dan kecerdasan spiritual atau spiritual quotient (SQ). Bila ketiga kecerdasan ini berkembang baik dan seimbang pada manusia dapat diprediksi keamanan dan kedamaian dunia akan tercipta. Oleh karena itu, para pendidik harus mampu mengembangkan ketiga kecerdasan ini. Selama ini, pendidikan di sekolah berfokus pada pengembangan kecerdasan intelektual (IQ), yaitu menyerap ilmu pengetahuan sebanyak banyaknya, tapi belum banyak menyentuh kecerdasan emosional dan spiritual.

Kecerdasan emosional (EQ) merupakan kemampuan sesorang bersikap dan bertindak secara bijak. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan memahamidiri sendiri (intrapersonal) dan orang lain (interpersonal). Di antara ciri orang yang memiliki kecerdasan emosional adalah: (1) bisa tampil dengan bijak dalam semua situasi, (2) mudah bergaul dan mudah membuat orang simpatik, (3) mengambil keputusan dengan tanang dan bijak, (4) tidak rela menganggu, menyakiti, merusak dan mengeksploitasi orang lain atau kepentingan umum. Faktor-faktor yang berhubungan dengan EQ ini adalah: (1) kesadaran diri, (2) pengaturan diri, (3) motivasi diri, (4) emphaty, dan (5) sosial.

Kecerdasan spiritual (SQ) merupakan kemampuan seseorang untuk menjadikan seluruh aktivitas hidupnya sebagai ibadah. Ciri yang terpenting dari SQ ini melandaskan perbuatan atas kebenaran dan keikhlasan. Orang yang cerdas secara spiritual akan bekerja optimal, tanpa terpengaruh oleh orang lain yang bekerja bermalas-malasan, atau tanpa terpengaruh oleh cercaan atau pujian orang lain. Kecerdasan spiritual merupakan ruh dari kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.


 

6.10.2 Kecerdasan dan Kesuksesan

Kecerdasan sering diidentikan dengan skor IQ (Intelligence Quotient) atau kecerdasan intelektual yang dimilki anak. Kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient=IQ), yang hampir seratus tahun lalu diperkenalkan oleh William Stern telah menyita perhatian yang sangat besar. Kecerdasan ditakar dalam bentuk skor-skor tertentu. Dengan adanya penskoran IQ, skor IQ telah menjadi momok bagi siswa tertentu ketika ia harus memilih mau menjadi apa di kemudian hari. Yang lebih tragis. takaran IQ telah menghilangkan kesempatan berkembang bagi mereka yang memilki IQ rendah, tetapi mempunyai kecerdasan lain yang lebih dominan.

Kecerdasan lain yang telah diidentifikasi selain kecerdasan intelektual (IQ) adalah kecerdasan emosi (Emotional Quotient=EQ) dan kecerdasan spiritual (Spriritual Quotient=EQ). Kunci dari kecerdasan emosi (EQ) adalah kejujuran pada "suara hati". Kunci dari kecerdasan spiritual (SQ) adalah kemampuan memberi makna ibadah dan prinsip keikhlasan. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall dalam Agustian (2001),
SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan yang tertinggi di antara kecerdasan-kecerdasan yang lain.

Di samping IQ, EQ, dan SQ, dikenal pula kecerdasan ganda (Multiple Quotient=MQ). Setiap orang mempunyai tujuh jenis kecerdasan, yaitu: (1) kecerdasan linguistik, (2) kecerdasan matematika, (3) kecerdasan spasial, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan musik, (6) kecerdasan antar pribadi (people smart), (7) kecerdasan interpribad (self smart). Seorang anak mungkin mempunyai kecerdasan matematika yang tinggi, tapi rendah dari segi kecerdasan antar pribadi dan sebaliknya. Seorang musisi pasti mempunyai kecerdasan yang tinggi dalam musik tapi rendah dalam kecerdasan matematika. Seorang politikus pasti mempunyai kecerdasan antar pribadi (people smart) yang tinggi, tetapi bisa mempunyai kecerdasan inter-pribadi (self amart) yang rendah.

Menurut psikolog Daniel Golemen dalam Pasiak (2003), Intelligence Quotient (IQ) , hanya menyumbang sekitar 5- 10 persen bagi kesuksesan hidup. Sisanya adalah kombinasi beragam faktor, yang salah satunya adalah kecerdasan emosi (Emotional Quotient=EQ). Faktor lain, selain kecerdasan yang sudah diindentifkasi yang berperan dalam kesuksesan adalah: kinerja, bakat dan kemauan, karakter, kesehatan, faktor genetis, pendidikan, dan keyakinan.

Kekeliruan dalam pendidikan adalah kesuksesan anak dalam pendidian hanya dilihat dari segi kesusksesan intelektual (IQ), yaitu berdasarkan nilai rapor atau IPK atau nila Ebtanas dan sejenisnya. Dalam sejarah kita baca bahwa Einstein pun pernah dianggap bodoh dan dikeluarkan dari kelasnya. Nilai-nlai rapor Einstein sangat rendah sehingga guru SD-nya menganggap ia terlalu bodoh. Di kemudian hari terbukti, bahwa nilai-nilai rapor itu bukan kunci kesuksesan Einstein.

Di Indonesia walaupun kurikulm seringkali berubah atau perubahan itu hampir terjadi setiap kali pergantian Menteri Pendidikan, namun orientasi pendidikan tetap didominasi oleh kecerdasan intelektual (IQ) yang terlihat dari nlai rapor, NEM dan IPK. Kesuksesan anak didik tetap mengacu kepada kecerdasan intelektal, hampir-hampir tidak menyintuh atau tidak memperhatikan atau tidak menghargai kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual atau kecerdasan-kecerdasan yang lain. Padahal banyak contoh di sekitar kita membuktikan bahwa orang yang memiliki kecerdasan intelektual saja belum tentu sukses berkiprah di dunia kerja. Bahkan seringkali yang berpendidikan formal lebih rendah ternyata banyak yang lebih sukses. Menurut pendapat Agustian (2001) kebanyakan program pendidikan hanya berpusat pada kecerdasan intelektual (IQ). Padahal yang diperlukan sebanarnya adalah bagaimana mengembangkan kecerdasan hati, seperti: ketangguhan, inisiatif, optimisme, kemampuan beradaptasi.

Hasil penelitian yang ditunjukkan oleh Robert Copper dalam Pasiak (2003) diketahui bahwa "kecerdasan rapor" atau IQ itu hanya menyumbang sekitar 4 persen bagi keberhasilan hidup. Paling penting, keberhasilan 90 persen ditentukan oleh kecerdasan-kecerdasan lain. Di pihak lain, Agustian (2001) mengemukakan bahwa dari hasil tes IQ, kebanyakan orang yang memilki IQ tinggi menunjukkan kinerja buruk dalam pekerjaan, sementara yang ber-IQ sedang, justru sangat berprestasi. Kemampuan akademik, nilai rapor, prediket kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolak ukur seberapa baik kinerja seseorang sesudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang akan dicapai.

Oleh karena itu, marilah kita merenung, sambil menjawab beberapa pertanyaan berikut. Apa benar yang kita lakukan terhadap anak didik kita selama ini hanya mencerdaskan IQ, atau belum menyentuh kecerdasan-kecerdasan yang lain? Sudahkah kita mengidentifikasi, mengembangkan dan menghargai berbagai kecerdasan yang dimilki oleh anak didik kita? Kemudian, mau dibawa kemana anak didik kita?


 

Ringkasan

Keterampilan-keerampilan dasar yang harus dimiliki guru adalah: (1) keterampilan bertanya (dasar dan lanjut), (2) keterampilan memberi penguatan, (3) keterampilan mengadakan variasi, (4) keterampilan menjelaskan, (5) keterampilan membuka dan menutup pelajaran, (6) keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil, (7) keterampilan mengelola kelas dan (8) keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan. Kemudian, sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan sekarang dan masa depan, dirasa perlu ditambahkan dua lagi keterampilan, yaitu (9) keterampilan mengembangkan dan menggunakan media pembelajaran, (10) keterampilan mengembangkan Emotional Spiritual Quotiont (ESQ) dan skill.


 

Perlatihan

Setelah Anda memahami bab ini kerjakanalah latihan berikut.

1) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai keterampilan bertanya (dasar

dan lanjut),

2) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai keterampilan memberi penguatan,

3) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai menguasai keterampilan mengadakan variasi,

4) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai keterampilan menjelaskan,

5) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai ketrampilan membuka dan menutup pelajaran,

6) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai keterampilan memimpin diskusi kelompok kecil,

7) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai ketrampilan mengelola kelas,

8) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan,

9) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai keterampilan mengembangkan dan menggunakan media,

10) Jelaskanlah dengan sebuah contoh mengenai keterampilan mengembangkan Emotional Spiritual Quotiont (ESQ) dan skill.


 

No comments:

Post a Comment