( GF ) GHAZWATUL FIKR – SERANGAN PEMIKIRAN
Ghazwul Fikri berarasal dari kata Ghazwah artinya serangan,serbuan atau invansi.dan Fikr artinya pemikiran.Berbeda dengan Ghozwah yang berarti kontak senjata ( Qital ) .
- Ghozwul Fikri
- Tidak sadar kalau sedang diperangi.
- Tidak ada dendam,bahkan bangga dan ketagihan
- Simpatisan menjerumuskan
- Efeknya luas
- Biayanya murah
Berbeda dengan
Ghozwah ( Qitaal )
- Sadar betul dalam kondisi Perang
- Korban jiwa jelas,timbul dendam dan perlawanan.
- Simpatisan sangat membantu.
- Efeknya terbatas.
- Biayanya mahal
SERANGAN BUDAYA
- Zaman kini adalah zaman teknologi yang menyebabkan mudahnya informasi dari belahan negeri manapun masuk ke rumah kita
- Menganggap semua budaya itu baik terutama yg datangnya dari barat
- Kita cenderung mudah menerima tanpa mencerna lagi baik buruknya
Bentuk serangan barat seperti "
1. Song
2. Sport
3. Sex
4. Fashion
5. food
Serangan pemikiran atau dalam bahasa Arab dinamakan Ghazwul Fikri dan dalam basaha Inggris disebut sebagai brain washing, thought control, menticide adalah istilah yang merujuk kepada suatu program yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematik dan terstruktur oleh musuh-musuh Islam untuk melakukan pendangkalan pemikiran dan cuci otak kepada kaum muslimin, dengan tujuan agar kaum muslimin tunduk dan mengikuti cara hidup mereka sehingga memudahkan kepentingan mereka untuk menjajah dan mengeksploitasi sumber daya milik kaum muslimin.
Sejarah GF sudah ada setua umur manusia, makhluk yang pertama kali melakukannya adalah Iblis la'natullah ketika berkata kepada Adam as :
"Sesungguhnya Allah melarang kalian memakan buah ini supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat dan tidak dapat hidup abadi" (QS 7/20).
Dalam perkataannya ini Iblis tidak menyatakan bahwa Allah tidak melarang kamu … kerana itu akan bertentangan dengan informasi yang telah diterima oleh Adam as, tetapi Iblis mengemas dan menyimpangkan makna perintah Allah SWT sesuai dengan keinginannya, iaitu dengan menambahkan alasan pelarangan Allah yang dibuatnya sendiri dan ia tahu bahwa Adam as tidak mempunyai pengetahuan tentang sebab tersebut.
Demikianlah para murid-murid Iblis dimasa kini selalu berusaha melakukan GF dengan menyimpangkan fakta dan informasi yang ada sesuai dengan maksud jahatnya, tapi dengan cara yang sangat halus dan licin, sehingga hanya orang-orang yang dirahmati Allah SWT yang mampu mengetahuinya.
SIAPA YANG MELAKUKAN GF?
Allah SWT memperingatkan kita di dalam al-Qur'an bahwa para musuh Islam akan selalu mengintai dan memerangi ummat Islam bia-bila saja dan dimana sahaja, sehingga kita diperintahkan untuk selalu waspada dan mempersiapkan diri (QS 8/60).
Ummat Islam bukan pengganas dan tidak pernah memulakan menyakiti dan memerangi kelompok lain, tetapi sejarah (baik di dalam maupun diluar negeri) selalu membuktikan bahwa merekalah yang selalu memulai memerangi dan membantai kaum muslimin (Lihat kes Palestin, Afghanistan, Bosnia, Kosovo, Kashmir, Rohingya, Moro, Pattani, Chechnya, Ambon, Poso).
Kelompok-kelompok yang memusuhi Islam dan kaum muslimin yang harus selalu diwaspadai tersebut adalah :
1) Orang-orang Kafir (QS 2/120), iaitu orang-orang Yahudi dan Nasrani yang
termasuk kafir harbi (yang memerangi kaum muslimin) dan bukan Yahudi dan
Nasrani yang termasuk kafir dzimmi (yang berdamai dengan kaum muslimin).
2) Musyrik (QS 2/105), iaitu agama Hindhu, Budha dsb yang memusuhi kaum
muslimin dan bukan yang berdamai dengan kaum muslimin.
3) Munafiq (QS 2/8-10), iaitu kelompok yang mengaku sebagai kaum muslimin tapi tidak mau menerima hukum Allah dan Rasul-Nya.
Diantara sifat-sifat mereka adalah :
1) Mereka melakukan shalat dengan malas dan berinfaq dengan merasa berat (QS9/54).
2) Mereka sedikit sekali berdzikir kepada Allah SWT (QS 4/142).
3) Mereka melakukan kerusakan dimuka bumi, tetapi jika diperingatkan maka
mereka menjawab bahwa mereka sedang membangun (QS 2/12).
4) Mereka senang berteman dan mengangkat orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka (QS 4/139,144).
5) Mereka sering mempermainkan dan mengolok-olok hukum-hukum Allah SWT
bersama-sama orang-orang kafir (hukum Islam ketinggalan zaman, kuno, kejam,
dsb) (QS 4/140).
6) Tidak mau berjihad di jalan Allah SWT (QS 9/44-45).
7) Mereka memerintahkan maksiat dan kemungkaran dan mencegah orang untuk beribadah dan berbuat amal baik (QS 9/67).
Oleh itu, sikap kita terhadap kaum munafiq ini, diperintahkan untuk jauh lebih
berhati-hati dan harus selalu waspada terutama saat menerima informasi dari
mereka (QS 49/6).
GHAZWUL FIKRI
A. Tujuan
1. Memahami makna dan hakikat Ghazwul fikri
2. Memahami sarana, metode, dan hasil-hasil ghazwul fikri
B. Metode
- Ceramah dan diskusi
C. Rincian Bahasan
- Pengertian sacara bahasa: ghazwul fikri terdiri dari dua bahasan. Ghaswah berarti
serangan, fikr berarti pemikiran. serangan di sini bukan parang.
- Secara istilah yaitu penyerangan dengan berbagai pemikiran untuk merubah pemikiran umat islam sehingga bercampur aduk dengan hal-hal yang tidak islami.
- Akibat ghazwul fikri
a. Merusak akhlak (QS. 15: 29)
Gerakan ghazwul fikr berusaha merusak sendi-sendi islam dan tidak memberi kesempatan untuk memulai kehidupan secara islami. Dengan kata lain umat islam tidak boleh membangun masyarakat berdasarkan islam. Ghazwul fikr lambat laun akan merusak akhlak, kekacauan ideologi bahkan sampai murtad. Setelah itu umat islam akan melepaskan ketauhidan kepada Allah dan percaya kepada kaum kuffar.
b. Menghancurkan fikrah (QS. 4: 60)
Kaum kuffar sangat menyadari bahwa umat islam tidak dapat dihancurkan dengan kekuatan fisik dan berperang karena umat islam mencintai syahid. Untuk itu mereka manggunakan stratigi dengan merusak pemikaran umat islam. Mereka berusaha menyebarkan teori, pemikiran, paham-paham atheis, dan pemikiran lain yang bertentangan dengan islam. Teori ini tampak dalam berbagai ilmu seperti filsafat, psikologi, humaniora, ekonomi, sejarah, dan lainnya.
c. Melarutkan kepribadian
Orang-orang berusaha menarik perhatian generasi muslim dengan menggunakan seruan untuk mengikuti arus modern, meninggalkan semua nilai yang diwaraiskan para pendahulu. Mereka memberi label dengan sesuatu yang kuno dan tidak sesuai dipakai pada zaman sekarang. Kepribadian generasi lambat laun akan terganti dengan kepribadian barat yang jauh dengan ajaran islam.
d. Menumbangkan akidah (QS. 2 109)
Metode ghazwul fikri juga berusaha menumbangkan akidah dengan memberikan kesempatan untuk belajar di universitas-universitas milik kaum kuffar sampai umat islam memperoleh gelar tertinggi dalam ilmu syari'at islam dan bahasa arab. Mereka berusaha meracuni pikiran dengan menjelek-jelekan islam. Dengan mempengaruhi kejiwaan para generasi islam, lambat laun akidah akan goyah sehingga benteng akidah akan tumbang.
- Memberikan loyalitas pada orang kafir (QS. 5: 51)
- Dengan adanya pengruh ghazwul fikr ini, generasi islam akan jauh pemahamannya tentang islam dan menjelek-jelekan islam. Akhirnya mereka menjadi generasi yang taklid kepada barat dan loyal terhadap ajaran sesat orang-orang yahudi dan nasrani.
Hikmah
Musuh islam tidak menghancurkan islam
dengan
perang tapi dengan mengambil jiwa dan dibuai dengan pemikiran-pemikiran yang melenakan.
Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan "Perang Pemikiran". Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata'ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini.
Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai.
Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, "Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka." Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, "Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur'an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur'an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka."
Dalam konteks ini, al-Qur'an mengatakan, artinya, "Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka." (QS.Faathir : 6).
Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An'aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da'wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam 'tangan' mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional.
Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup.
Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. 'Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada.
Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam.
Al-Qur'an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman 'alaihis salam pernah menda'wahi ratu negeri Saba' melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da'wah sederhana antara Nabi Sulaiman 'alaihis salam dengan ratu Saba' ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman 'alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wassallam pun dalam menda'wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini.
Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da'i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu'min serta melecehkan al-Qur'an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata'ala. Na'udzu billaah min dzaalik!
Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau 'aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata'ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana.
Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara.
Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya 'tokoh' Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata'ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na'udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan.
Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata'ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda'wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal 'alaimin
No comments:
Post a Comment